Ilustrasi Gedung Kongres Amerika Serikat, Capitol Hill, Washington D.C. (REUTERS/Joshua Roberts)

Jakarta, CB -- Penutupan (shutdown) sebagian pemerintahan Amerika Serikat
saat ini sudah memasuki hari ke-24. Seorang senator dari Partai
Republik, Lindsey Graham, mendukung ide membuka pemerintahan federal
sementara, sambil mencari cara untuk berunding kembali dengan Presiden Donald Trump soal dana tembok perbatasan.
Seperti dilansir Reuters,
Senin (14/1), Graham menyatakan dia sudah mendesak Trump untuk membuka
kembali pemerintahan secara temporer pada Minggu kemarin, seperti yang
digagas oleh fraksi Partai Demokrat di Dewan Perwakilan. Dia juga
meminta supaya Trump dan Dewan Perwakilan kembali berunding soal
anggaran tembok perbatasan.
"Sebelum dia (Trump) menggunakan
haknya untuk menyatakan keadaan darurat, yang saya pikir hampir pasti
terjadi, saya memintanya untuk membuka pemerintahan secara temporer,
mungkin selama tiga pekan, untuk melihat apakah kami bisa membuat
kesepakatan," kata Graham.
Meski begitu, Graham menyatakan Trump tidak sepakat dengan idenya.
Menurut dia Trump masih teguh dengan pendiriannya yang akan mencabut
penutupan pemerintahan, jika Kongres menyetujui pengajuan anggaran
tembok perbatasan, atau dia nekat menyatakan status darurat nasional
sebagai jalan pintas untuk mencairkan uang itu.
"Kita bikin kesepakatan dulu, baru membuka kembali pemerintahan," ujar Graham menirukan Trump.
Trump
berkeras tetap menutup pemerintahan, yang dilakukan sejak 22 Desember
2018, sampai pengajuan anggaran tembok perbatasan sebesar US$5,6 miliar
disetujui Dewan Perwakilan. Namun, Dewan Perwakilan sampai saat ini
hanya mau meloloskan US$1,3 miliar untuk proyek itu.
"Saya di
Gedung Putih menunggu. Demokrat ada di mana-mana, tetapi orang-orang di
Washington menunggu gaji mereka. Mereka (Demokrat) malah
bersenang-senang," cuit Trump melalui akun Twitternya pada Minggu
kemarin.
Cuitan itu dibalas oleh Wakil Kepala Staf Ketua Dewan Perwakilan AS,
Drew Hammill. Menurut dia, Ketua DPR Nancy Pelosi tetap bekerja
sepanjang akhir pekan.
Penutupan pemerintahan Amerika Serikat
yang berlanjut membuat resah para pegawai negeri dan honorer di seluruh
lembaga negara setempat. Kini 800 ribu PNS di Negeri Abang Sam semakin
cemas karena terancam tidak bisa membayar tagihan hingga terusir dari
rumah sewaan yang mereka huni selama ini.
Sejumlah lembaga yang
tidak mungkin diliburkan, seperti rumah sakit, polisi, tentara, layanan
darurat, hingga perhubungan terpaksa tetap bekerja tanpa digaji.
Sebagian PNS AS kini mencari kesibukan lain untuk mengisi waktu luang.
Sebab, meski mereka cuti atau masuk kerja pun tetap tidak dihitung oleh
negara, yang berdampak pada penghasilan yang harus mereka terima pada
akhir Januari mendatang.
Credit
cnnindonesia.com