Selasa, 17 Juli 2018

Mesir Ungkap Temuan Mumi di Kuburan Dekat Piramida Agung


Pekerja Barang Antik Mesir melihat situs pemakaman mumi yang baru ditemukan di Minya, Mesir pada tanggal 24 Februari 2018. Arkeolog berhasil menemukan pemakaman kuno yang berisikan mumi Dewa Mesir, Thoth. REUTERS/Mohamed Abd El Ghany
Pekerja Barang Antik Mesir melihat situs pemakaman mumi yang baru ditemukan di Minya, Mesir pada tanggal 24 Februari 2018. Arkeolog berhasil menemukan pemakaman kuno yang berisikan mumi Dewa Mesir, Thoth. REUTERS/Mohamed Abd El Ghany

CB, Jakarta - Sejumlah arkeolog Mesir, Sabtu 14 Juli 2018, mengungkapkan mengenai kuburan kuno dan ruang kerja mumifikasi yang mereka temukan di kedalaman 30 meter bawah tanah dekat kuburan Saqqara, selatan Kairo.
Para arkeolog itu berharap ruang kerja mumifikasi di bawah tanah tersebut dapat memberikan pengetahuan baru mengenai minyak yang digunakan oleh bangsa Mesir kuno untuk memumi jenazah.

Seorang pekerja barang antik Mesir berada dekat peti mati di dalam lokasi pemakaman yang baru ditemukan di Minya, Mesir, 24 Februari 2018. Kepala Misi Arkeologi, Mostafa Waziri mengatakan sejauh ini telah ditemukan delapan makam. REUTERS/Mohamed Abd El Ghany
Kuburan tua yang usianya diperkirakan lebih dari 2.000 tahun itu diyakini menjadi penanda periode kekuasaan Persia di kawasan tersebut pada 664-404 Sebelum Masehi.
Laporan Middle East Monitor menyebutkan, di terowongan kuburan tua yang ditemukan para arkeolog pada April 2018 terdapat 35 mumi.

Sebuah pemakaman hewan yang terdapat sebuah mumi anjing berada di dekat situs pemakaman yang baru ditemukan di Minya, Mesir, 13 Mei 2017. REUTERS
"Hasil temuan ini akan menambah dua hal penting. Pertama, mengenai tipe minyak yang digunakan untuk mumifikasi. Kedua, bahan kimia yang mereka gunakan untuk membaluri jenazah. Dengan demikian, kami akan sanggup mengidentifikasi minyak yang digunakan," kata Ramadan Badry Hussein, Kepala Misi Mesir-Jerman untuk Temuan Mumi.
Selain minyak atau bahan kimia, para arkeolog menemukan ratusan patung batu kecil, guci dan bejana digunakan dalam proses mumifikasi di dalam ruang pemakaman. Mesir berharap hasil temuan para arkeolog itu dapat mencerahkan para pelancong asing untuk datang ke Mesir setelah negeri itu dihantam berbagai kerusuhan sejak 2011.




Credit  tempo.co





AS Siap Berunding dengan Taliban


Pejuang Taliban, Afghanistan
Pejuang Taliban, Afghanistan

Gencatan senjata memiliki peran besar dalam perdamaian.




CB, KANDAHAR -- Amerika Serikat siap bergabung dalam perundingan langsung dengan kelompok bersenjata Taliban untuk mengakhiri perang yang telah berlansung selama 17 tahun di Afghanistan. Demikian laporan salah satu pejabat militer asal Washington, Jenderal John Nicholson, pada Senin (16/7).

Pernyataan Nicholson disampaikan di tengah semakin intensifnya upaya diplomatik pascagencatan senjata pada liburan Idul Fitri lalu.

Nicholson, yang kini mengepalai misi NATO di Afghanistan, mengakui gencatan senjata itu punya peran besar dalam upaya perdamaian. "Menteri luar negeri kami, Mike Pompeo, mengatakan bahwa kami siap berunding dengan Taliban dan mendiskusikan peran pasukan internasional (di Afghanistan yang dituntut untuk segera keluar dari negara tersebut)," kata Nicholson.

Ia berharap, Taliban juga menyadari hal ini karena bisa membantu proses perdamaian maju selangkah. Sebelumnya, surat kabar New York Times melaporkan, pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump sudah meminta kepada para diplomatnya untuk mengupayakan perundingan langsung dengan Taliban.

Juru bicara kantor urusan politik Taliban di Qatar, Sohail Shahin, mengatakan, ia masih menunggu konfirmasi dari Washington. Namun menyambut baik pendekatan baru AS.
"Ini adalah hal yang kami inginkan dan kami tunggu-tunggu, untuk duduk dengan Amerika Serikat secara langsung dan merundingkan penarikan pasukan asing dari Afghanistan," kata Shahin.

Menurut Shahin, sebagai langkah pertama, dia berharap PBB akan menghapus nama-nama pemimpin Taliban dari daftar hitam. Dia juga menambahkan, bahwa kehadiran pasukan internasional di negaranya adalah persoalan utama, termasuk personel AS.



Sementara itu sejumlah pejabat Amerika Serikat mengatakan bahwa Trump semakin tidak sabar atas situasi di Afghanistan. Taliban banyak menguasai banyak wilayah meski Washington sudah menerapkan strategi militer baru yang lebih agresif.
Selama ini Taliban selalu menolak berunding dengan pemerintahan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani, karena dinilai tidak sah dan hanya merupakan boneka Washington. Taliban hanya mau duduk dengan Amerika Serikat.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo juga sudah berubah sikap. Sebelumnya dia mengatakan bahwa hanya pemerintahan Ghani yang punya legitimasi untuk berunding dengan Taliban. Kini Pompeo mengaku siap bergabung di meja runding. Pompeo bahkan bersedia mendiskusikan posisi pasukan internasional di Afghanistan



Credit  republika.co.id






OKI upayakan vaksin asli dari negara muslim



OKI upayakan vaksin asli dari negara muslim
Organization of Islamic Cooperation (OIC). (oic-oci.org)


Jeddah, Arab Saudi, (CB) - Departemen Ilmu Pengetahuan dan Teknologi pada Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) sedang mengupayakan produksi vaksin asli dari negara-negara Muslim melalui kelompok produsen vaksin (Vaccine Manufacturers Group-OIC), dan hal tersebut akan dibahas pada pertemuan OKI di Indonesia.

"Kami mengupayakan ada produksi vaksin `indigenous` dari negara-negara Muslim. Hal ini akan dibahas pada pertemuan rutin berikutnya di Indonesia," kata Direktur Jenderal Departemen Ilmu Pengetahuan dan Teknologi OKI, Irfan Shaukat saat berjumpa dengan sejumlah wartawan dari beberapa negara di kantor sekretariat OKI di Jeddah, Senin (16/7).

Menurut dia, jumlah produksi vaksin dari pabrik vaksin Indonesia, Bio Farma, mencapai sepuluh persen dari total produksi dunia.

"Selain itu, produksi mereka juga selalu memenuhi standar yang ditetapkan oleh badan kesehatan dunia WHO," ujar Irfan, seraya menambahkan bahwa dengan demikian Bio Farma layak menjadi acuan bagi negara-negara Muslim dalam memproduksi vaksin yang sesuai syarat kesehatan internasional.

Dia mengatakan pada pertemuan di Indonesia tersebut, negara-negara anggota OKI akan saling bertukar pengalaman mengenai cara memproduksi vaksin yang sesuai dengan standar WHO.

Sebelumnya, dalam pertemuan pejabat senior pada 5 Desember 2017, Indonesia dipercaya menjadi Pusat Keunggulan (Centre of Excellence) OKI untuk vaksin dan bioteknologi.

Beberapa vaksin yang diproduksi oleh Bio Farma di antaranya adalah vaksin BCG untuk mencegah tuberkulosis, vaksin DTP untuk mencegah difteri, tetanus dan pertussis, vaksin Jerap DT untuk mencegah difteri dan tetanus, dan vaksin campak.

Lebih lanjut Irfan menjelaskan bahwa di beberapa negara anggota OKI ada kampanye anti vaksi karena dianggap bertentangan dengan aturan Islam.

Menyikapi persoalan tersebut, OKI melakukan pendekatan kepada masyarakat di negara-negara Muslim yang masih menolak pemberian vaksin kepada anak-anak dengan melibatkan peran para ulama.

"Kami melibatkan para ulama di negara tersebut guna meluruskan pemahaman yang keliru mengenai vaksin, bahwa pemberian vaksin tidak melanggar hukum agama," ucapnya.

Upaya tersebut berhasil yang ditunjukkan dengan menurunnya kampanye anti vaksin dan meningkatnya jumlah masyarakat untuk mendapatkan vaksin.





Credit  antaranews.com





AS Bujuk Turki Tukar S-400 dengan Rudal Patriot

AS Bujuk Turki Tukar S-400 dengan Rudal Patriot
Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat (AS) mengaku sedang melakukan pembicaraan dengan Turki untuk pembelian sistem pertahanan udara Patriot, sebagai alternatif dari sistem pertahanan Udara S-400 buatan Rusia yang telah dibeli Turki. Foto/Istimewa

WASHINGTON - Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat (AS) mengaku sedang melakukan pembicaraan dengan Turki untuk pembelian sistem pertahanan udara Patriot, sebagai alternatif dari sistem pertahanan Udara S-400 buatan Rusia yang telah dibeli Turki.

Plt Wakil Menteri Luar Negeri AS untuk Urusan Politik-Militer, Kaidanow menyatakan, delegasi AS sedang melakukan pembicaraan dengan Turki dan mencoba memberi Turki pemahaman tentang apa yang bisa dilakukan sehubungan dengan Patriot.

"Pada akhirnya kami prihatin, bahwa dengan membeli sistem pertahanan udara dari Rusia akan mendukung beberapa perilaku yang paling tidak baik yang telah kita lihat dari mereka (Rusia) di berbagai tempat, termasuk Eropa dan juga di tempat lain," kata Kaidanow, seperti dilansir Reuters pada Senin (16/7).

"Washington ingin memastikan bahwa sistem pertahan udara yang diperoleh oleh sekutu AS tetap mendukung hubungan strategis antara kami dan sekutu kami, dalam kasus Turki adalah Patriot," sambungnya.

Sebelumnya, NATO dan AS khawatir dengan Turki yang akan mengoperasikan pesawat jet tempur F-35 dan sistem rudal pertahanan S-400 Rusia secara bersamaan. Jika itu terjadi, kelemahan jet tempur siluman kebanggaan NATO dan AS itu bisa diekspos Ankara.

"Apa pun yang bisa dilakukan oleh S-400 yang memberikannya kemampuan untuk lebih memahami kapabilitas seperti F-35, jelas bukan untuk keuntungan bagi koalisi," kata Komandan NATO, Jenderal Tod Wolters. 



Credit  sindonews.com






Kelemahan Jet Tempur F-35 Terbongkar jika Turki Operasikan S-400 Rusia



Kelemahan Jet Tempur F-35 Terbongkar jika Turki Operasikan S-400 Rusia
Pesawat jet tempur siluman F-35 produksi Lockheed Martin, Amerika Serikat. Foto/REUTERS

BRUSSELS - Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) semakin khawatir dengan Turki yang akan mengoperasikan pesawat jet tempur F-35 dan sistem rudal pertahanan S-400 Rusia secara bersamaan. Jika itu terjadi, kelemahan jet tempur siluman kebanggaan NATO itu bisa diekspos Ankara.

"Apa pun yang bisa dilakukan oleh S-400 yang memberikannya kemampuan untuk lebih memahami kapabilitas seperti F-35, jelas bukan untuk keuntungan bagi koalisi," kata Komandan NATO Jenderal Tod Wolters kepada Reuters, Senin (16/7/2018).

Turki sudah mencapai kesepakatan dengan Rusia untuk membeli sistem S-400. Pengiriman pertama dari senjata pertahanan canggih itu akan berlangsung akhir 2019.

Parahnya, Ankara juga telah memperoleh jet tempur F-35 dari kontraktor pertahanan Amerika Serikat (AS) Lockheed Martin sebanyak dua unit. Namun, serah terima kedua jet tempur itu berlangsung di AS dan kedua pesawat masih di negeri Paman Sam tersebut untuk latihan bagi para pilot Ankara.

Senat AS telah meloloskan undang-undang untuk memblokir pengiriman F-35 ke Ankara. Pemerintah Washington juga bertekad untuk menahan kedua jet tempur itu sampai Ankara membatalkan kesepakatan pembelian S-400 Rusia.

"Sampai saat ini belum diketahui berapa banyak, untuk berapa lama dan seberapa dekat pesawat tempur dapat dioperasikan di dekat sistem S-400 untuk menjaga kemampuan radar-mengelaknya secara rahasia," kata Jenderal Wolters.

"Semua itu harus ditentukan. Kami tahu sekarang ini adalah tantangan," ujarnya.

Pada akhir tahun depan, Inggris, Norwegia, Italia, dan Belanda akan memiliki sekitar 66 pesawat tempur F-35 Lightning II. Sedangkan pengiriman untuk Turki belum bisa dipastikan karena masalah itu. Padahal, Ankara sudah membeli 116 unit F-35 di bawah kesepakatan program Joint Strike Fighter yang ditandatangani pada tahun 2014 dan 2016.

Dalam kesepakatan itu, pengiriman untuk Ankara seharusnya dilakukan pada 2018-2019,

Sementara itu, Moskow dan Ankara juga menandatangani kesepakatan senilai USD2,5 miliar untuk pengadaan S-400 Triumph Rusia pada Desember tahun lalu. Meskipun ada tekanan dari AS, Ankara sejauh ini telah berulang kali menyatakan bahwa akuisisi sistem pertahanan Rusia akan berjalan seperti yang direncanakan. 



Credit  sindonews.com




Prancis Tutup Kantor Dagang di Moskow, Rusia Terkejut



Prancis Tutup Kantor Dagang di Moskow, Rusia Terkejut
Pemerintah Prancis mengumumkan bahwa mereka telah menutup kantor dagang mereka yang berada di Rusia dan telah menyampaikan hal ini kepada Kemlu Rusia. Foto/Istimewa

MOSKOW - Pemerintah Prancis mengumumkan bahwa mereka telah menutup kantor dagang mereka yang berada di Rusia dan telah menyampaikan hal ini kepada Kementerian Luar Negeri Rusia. Paris menyebut, keputusan ini diambil setelah tidak ada titik temu dengan Rusia, mengenai masalah pengusiran diplomat Prancis beberapa waktu lalu.

Para Maret lalu, Rusia mengusir setidaknya empat orang diplomat Prancis, termasuk di dalamnya adalah kepala misi dagang Prancis di Moskow. Pengusiran ini adalah bentuk balasan atas pengusiran diplomat Moskow oleh Paris, sebagai bentuk dukungan Paris kepada London terkait kasus serangan terhadap mantan mata-mata Rusia, Sergei Skripal.

Rusia bukan hanya mengusir kepala misi dagang Prancis, tapi juga memblok rekening bank diplomat tersebut. Hal inilah yang membuat Prancis murka dan dalam beberapa bulan terakhir Paris dan Moskow melakukan pembicaraan guna menyelesaikan masalah ini, namun kedua pihak tidak juga menemui kata sepakat.

"Pihak berwenang Prancis telah memutuskan untuk menutup layanan Kedutaan Prancis yang mendukung kegiatan Bisnis Prancis di Rusia. Kami akan menggunakan pihak non-pemerintah untum membantu bisnis Prancis di Rusia," kata Kedutaan Besar Prancis di Moskow, sepeti dilansir Sputnik pada Senin (16/7).

Kemlu Rusia dalam sebuah pernyataan kemudian menyatakan bahwa mereka terkejut dengan penutupan kantor dagang tersebut dan menyatakan mereka belum menerima notifikasi dari kedubes Prancis mengenai hal ini.

"Jika keputusan untuk menutup misi perdagangan Perancis diadopsi, maka jelas bahwa ini adalah keinginan dari pihak Prancis. Kami memilih untuk mengembangkan hubungan perdagangan," kata Kemlu Rusia. 



Credit  sindonews.com



Warga Net Serukan Prancis Akhiri Xenofobia dan Islamophobia



Selebrasi tim Prancis yang berhasil meraih Piala Dunia 2018 usai mengalahkan Krosia dengan skor 4-2.
Selebrasi tim Prancis yang berhasil meraih Piala Dunia 2018 usai mengalahkan Krosia dengan skor 4-2.
Foto: Reuters

Dua dari empat gol yang disarangkan Prancis berasal dari imigran Afrika




CB, PARIS — Warga net menyerukan untuk mengakhiri xenofobia dan Islamopobia di seluruh dunia, terutama Prancis. Seruan itu datang usai migran dan seorang Muslim yang tergabung dalam tim nasional Prancis, membawa negara itu menjadi juara dunia 2018.


Dilansir di Daily Sabah pada Senin (16/7), Prancis meraih kemenangan Piala Dunia 2018 kedua kalinya berkat gol dari para migran dan seorang Muslim. Saat itu, sejumlah penggemar dan penonton menyerukan perlunya negara tersebut merayakan kemenangan di dalam dan luar lapangan.

Seringkali dalam sorotan untuk kebijakan sosial menyoal xenophobia dan Islamofobinya, Prancis tampaknya tidak keberatan ketika berhubungan dengan pemain bola yang baik. Sebanyak 78,3 persen pemain yang tergabung dalam tim nasional merupakan imigran. Sementara sepertiganya adalah Muslim.


Jumlah Muslim itu adalah persentase tertinggi di antara setiap tim Piala Dunia tahun ini. Imigran memiliki prosentase sebanyak 6,8 persen dari total populasi Prancis.


Dari empat gol yang dicetak Perancis melawan Kroasia, dua gol dihasilkan putra-putra imigran Afrika, Paul Pogba yang orang tuanya berimigrasi dari Guinea, serta Kylian Mbappe yang ibunya adalah warga Aljazair dan ayah Kamerun. Pogba adalah satu dari tujuh Muslim yang membela Prancis.


Penggemar sepak bola dengan cepat membahas kemenangan itu di media sosial Twitter. Mereka meminta Prancis mengakhiri “kemunafikan” dan mengakui peran mendasar imigran dan Muslim.


"Dengan Prancis yang meloloskan semua undang-undang ini terhadap praktik-praktik Islam, jangan lupakan itu para pemain Muslim yang sama membantu memenangkan # WorldCup2018," tulis salah satu pengguna Twitter @atoma019.


Pengguna Twitter lain menyebut kebijakan Prancis yang munafik terhadap para migran dan Muslim, malah "memalukan" dengan adanya kemenangan itu. Beberapa warga net menyerukan Prancis mengakui kemenangan itu sebagai sinyal mengadopsi kebijakan yang menegakkan hak dan martabat migran dan Muslim.


"Orang Afrika dan Muslim mengirimi Anda Piala Dunia kedua, sekarang beri mereka keadilan," tulis beberapa pengguna Twitter.


Warga net berkicau dukungan terhadap imigran dan Muslim di negara tersebut, seperti, imigran membuat Prancis lebih kuat, imigran mendapatkan pekerjaan.


Kemenangan Prancis pada Ahad (15/7) adalah yang pertama dalam 20 tahun, setelah menang di kandang sendiri pada 1998. Itu adalah final dengan skor tertinggi sejak Inggris mengalahkan Jerman Barat 4-2 setelah perpanjangan waktu pada 1966. Serta, tertinggi dalam waktu normal sejak Brasil mengalahkan Swedia 5-2 pada 60 tahun lalu. 



Credit  republika.co.id




John McCain Sebut Penampilan Trump usai Temui Putin Memalukan



John McCain Sebut Penampilan Trump usai Temui Putin Memalukan
Senator Partai Republik John McCain menyebut konferensi pers yang digelar usai Donald Trump bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin sebagai hal paling memalukan. (Reuters)


Jakarta, CB -- Senator Partai Republik John McCain menyebut penampilan Presiden Donald Trump dalam konferensi pers setelah pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Helsinki pada Senin (16/7) sebagai hal paling memalukan yang pernah dilakukan oleh seorang pemimpin negara AS.

"Konferensi pers hari ini di Helsinki adalah salah satu penampilan paling memalukan oleh seorang presiden AS sepanjang sejarah," tulis McCain dalam pernyataan yang diunggah melalui situs resminya.

Menurut McCain, kenaifan dan simpati Trump terhadap Putin membawa kehancuran bagi AS sehingga keseluruhan pertemuan di Helsinki ini pantas disebut sebagai kesalahan tragis.



"Presiden Trump membuktikan bahwa ia bukan hanya tak mampu, tetapi juga tak ingin melawan Putin," tulis McCain.


McCain menganggap Trump sengaja memberikan panggung bagi Putin untuk memuntahkan propaganda dan kebohongan kepada dunia demi melegitimasi pencaplokan Crimea dari Ukraina dan kebijakan Rusia di Suriah.

Ia kemudian menyoroti sikap Trump yang baik terhadap Putin, sementara terus mengkritik sekutu-sekutu AS, seperti anggota NATO dan Inggris.

Sebelum bertemu Putin, Trump melakukan rangkaian lawatan ke sejumlah negara Eropa. Dalam rapat NATO di Brussels, ia mengkritik para negara anggota yang lamban menaikkan bujet pertahanannya dan mengeluh karena selama ini AS mengeluarkan biaya paling banyak.


Setelah pertemuan NATO, Trump bertolak ke Inggris, di mana ia mengkritik Perdana Menteri Theresa May terkait pendekatannya dalam mengatasi krisis Brexit.

"Tidak ada presiden sebelumnya yang pernah merendahkan dirinya secara lebih hina di hadapan seorang tiran. Presiden Trump tak hanya gagal mengungkap kebenaran tentang seorang musuh, namun juga gagal berbicara mewakili Amerika di hadapan dunia," kata McCain.

McCain adalah senator Partai Republik yang mewakili negara bagian Arizona. Dia pernah menjadi bakal calon presiden dalam pilpres AS pada 18 tahun lalu, namun dikalahkan George Walker Bush saat konvensi Partai Republik.

Pada 2008, dia memenangkan pencalonan Partai Republik dan maju menjadi capres, tapi dikalahkan Barack Obama yang diusung Partai Demokrat.



Credit  cnnindonesia.com



Donald Trump Menolak Salahkan Putin, AS Terguncang

Donald Trump Menolak Salahkan Putin, AS Terguncang
Presiden Amerika Serikat Donald John Trump (kiri) saat konferensi pers bersama Presiden Rusia Vladimir Putin di Helsinki, Finlandia, Senin (16/7/2018). Foto/REUTERS/Grigory Dukor

HELSINKI - Dalam pertemuan di Helsinki, Presiden Donald Trump menolak menyalahkan Presiden Rusia Vladimir Putin terkait tuduhan ikut campur pemilu Amerika Serikat (AS) 2016. Sikap Trump memicu guncangan di kalangan intelijen dan politisi Washington.

Alih-alih menyalahkan Putin, pemimpin Amerika itu tak menyampaikan satu kata pun yang menyudutkan Rusia. Sebelum pertemuan, Trump blakblakan menyatakan kebodohan ada di pihak negaranya sendiri.

Padahal, tiga hari yang lalu, Departemen Kehakiman AS mengumumkan dakwaan terhadap 12 mata-mata Rusia atas tuduhan meretas jaringan komputer Partai Demokrat selama pemilu 2016.

Konferensi pers bersama antara Trump dan Putin di Helsinki telah memicu gelombang kecaman di AS.

Mantan Direktur CIA John Brennan mengecam penampilan Trump bersama Putin sebagai "pengkhianatan". Sedangkan Senator John McCain menyebutnya sebagai "kesalahan tragis".

Dalam konferensi pers, Trump ditanya apakah dia percaya badan-badan intelijen AS, yang menyimpulkan bahwa Rusia ikut campur dalam pemilu 2016 dalam upaya untuk membantunya mengalahkan kandidat presiden Demokrat Hillary Clinton, Trump menjawab tak yakin jika Moskow melakukannya.

"Saya tidak melihat alasan mengapa itu terjadi," kata Trump. "Presiden Putin sangat kuat dan kuat dalam penyangkalannya hari ini," katanya lagi, dikutip Reuters, Selasa (17/7/2018).

Dan Coats, Direktur Intelijen Nasional AS, menjelaskan bahwa dia tidak berbagi pandangan dengan Presiden Trump. "Kami telah jelas dalam penilaian kami terhadap campur tangan Rusia dalam pemilu 2016 dan upaya mereka yang sedang berlangsung, yang meluas untuk merusak demokrasi kami, dan kami akan terus memberikan (informasi) intelijen yang objektif untuk mendukung keamanan nasional kami," katanya.

Bill Burns, mantan Wakil Menteri Luar Negeri dan Duta Besar AS untuk Rusia, mengatakan dalam sebuah wawancara telepon; "Saya telah melihat banyak pertunjukan oleh para presiden di panggung dunia, tetapi saya tidak bisa memikirkan salah satu yang lebih mengerikan daripada yang ini."

Beberapa jam setelah pertemuan di Helsinki, Trump menulis tweet; "Saya memiliki kepercayaan diri yang besar pada orang-orang intelijen saya. Namun, saya juga mengakui bahwa untuk membangun masa depan yang lebih cerah, kita tidak dapat secara eksklusif fokus pada masa lalu, sebagai dua kekuatan nuklir terbesar dunia, kami harus akur!"

Sebelum pertemuan dimulai, Trump menyalahkan negaranya sendiri karena memburuknya hubungan dengan Rusia.

"Hubungan kami dengan Rusia tidak pernah lebih buruk berkat kebodohan AS bertahun-tahun dan sekarang, perburuan penyihir harus dikekang!," lanjut Trump, yang mendeskripsikan penyelidikan terhadap Rusia atas tuduhan ikut campur pemilu AS seperti memburu penyihir.

Kementerian Luar Negeri Rusia merespons baik pernyataan tweet Trump."Kami setuju," tulis kementerian itu di Twitter. 


Pada konferensi pers, Trump dipersilakan para wartawan untuk melontarkan kritik terhadap Rusia, tetapi dia berulang kali menolak. Ketika ditanya apakah Rusia harus disalahkan atas hubungan yang buruk, dia mengatakan;

"Saya menganggap kedua negara bertanggung jawab. Saya pikir AS telah menjadi bodoh. Kita semua bodoh," katanya, sebelum berbelok ke dalam diskusi tentang pemilu AS yang dipersoalkan.

"Saya mengalahkan Hillary Clinton dengan mudah dan terus terang kami 'memukulinya'...kami memenangkan kompetisi itu dan memalukan bahwa bahkan ada sedikit awan di atasnya," katanya.

Ditanya apakah Putin adalah musuh, dia berujar; "Sebenarnya saya menyebutnya pesaing, dan dia pesaing yang baik, dan saya pikir kata pesaing adalah pujian."

Trump juga menahan diri dengan tidak mengkritik Rusia secara terbuka atas aneksasi Crimea dari Ukraina oleh Moskow pada 2014.

Sementara itu, Putin menyangkal jika dia memerintahkan anak buahnya, yakni para intelijen untuk membantu Trump memenangkan pemilu AS 2016. Namun, Putin jujur bahwa dia memang menginginkan Trump menang."Tuduhan itu benar-benar tidak masuk akal," kata Putin.

Putin menyarankan para penyelidik AS melakukan perjalanan ke Rusia untuk mempertanyakan orang-orang Rusia yang dituduh oleh Washington ikut campur dalam pemilu Amerika. Para politisi AS, khususnya kubu kritikus Trump mengecam saran Putin dan menganggapnya sebagai saran yang menggelikan.

Senator Partai Republik Lindsey Graham mengatakan kinerja Trump telah mengirim pesan "kelemahan" AS kepada Moskow. "Kesempatan yang hilang oleh Presiden Trump untuk secara kuat meminta pertanggungjawaban Rusia atas campur tangan pemilu tahun 2016 dan memberikan peringatan yang kuat mengenai pemilu di masa depan. Jawaban oleh Presiden Trump ini akan dilihat oleh Rusia sebagai tanda kelemahan dan menciptakan masalah yang jauh lebih banyak daripada memecahkannya," kata Graham di Twitter.

Mantan Direktur CIA John Brennan menyerukan agar Trump digulingkan."Pertunjukan konferensi pers Donald Trump di Helsinki melampaui ambang 'kejahatan tinggi dan kejahatan ringan'. Itu tidak lebih dari pengkhianatan. Bukan hanya komentar Trump yang meresahkan, ia sepenuhnya berada di saku Putin. Patriot Republik, di mana Anda ???," kritik Brennan di Twitter.


Credit  sindonews.com





Putin: Trump Lebih Banyak Bicara Soal Israel



Presiden AS, Donald Trump tiba di Helsinki, Finlandia, Senin (16/7). Kedatangan Trum untuk pertemuan dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin.
Presiden AS, Donald Trump tiba di Helsinki, Finlandia, Senin (16/7). Kedatangan Trum untuk pertemuan dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin.
Foto: BBC

Presiden Trump menyatakan pihaknya dan Rusia akan memastikan keamanan Israel



CB, HELSINKI -- Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghabiskan sebagian besar waktu perundingan bersama di Helsinki ini dengan membicarakan Israel. Padahal menurut dia situasi yang ada sudah kondusif untuk mengupayakan kerja sama terkait Suriah.


Sementara itu, Putin mengatakan terkait Iran, Ia mengaku memahami penentangan Washington terhadap perjanjian nuklir internasional dengan Iran, yang didukung Rusia. Presiden Trump menekankan pentingnya tekanan internasional bersama terhadap Iran, yang selama ini menjadi sekutu Rusia,

Trump juga menyatakan Washington dan Moskow akan berupaya memastikan keamanan Israel. Hal itu ia katakan pada Senin (16/7) .


"Kami sama-sama telah berbicara dengan Bibi (sebutan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu) dan mereka akan melakukan sejumlah langkah dengan Suriah, yang berkaitan dengan keamanan Israel," kata Trump dalam jumpa pers bersama Putin.


Ia mengatakan Amerika Serikat dan Rusia akan bekerja sama terkait keamanan Israel."Menciptakan keamanan bagi Israel akan Putin dan saya upayakan dengan saksama," kata Trump.





Credit  republika.co.id



Trump Bela Keamanan Israel di Hadapan Putin


Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden AS Donald Trump.
Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden AS Donald Trump.
Foto: AP Photo/Evan Vucci

Trump mengaku ingin membantu rakyat Suriah.



CB, HELSINKI -- Washington dan Moskow akan berupaya memastikan keamanan Israel. Demikian disampaikan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Senin, seusai berunding dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

"Kami sama-sama telah berbicara dengan Bibi (sebutan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu) dan mereka akan melakukan sejumlah langkah dengan Suriah, yang berkaitan dengan keamanan Israel," kata Trump dalam jumpa pers bersama Putin. "Amerika Serikat dan Rusia akan bekerja sama terkait hal itu," kata dia menambahkan.

Sementara itu, Putin mengatakan, Trump menghabiskan sebagian besar waktu perundingan bersama di Helsinki ini dengan membicarakan Israel. Situasi yang ada sudah kondusif untuk mengupayakan kerja sama terkait Suriah.






Washington dan Moskow selama ini punya sikap berbeda dan mendukung pihak berlawanan dalam perang saudara di Suriah yang telah berlangsung selama delapan tahun terakhir. Rusia membelas rezim Presiden Bashar al-Assad. Sebaliknya AS mendukung oposisi.

Trump mengatakan,  dia ingin membantu rakyat Suriah berdasarkan alasan kemanusiaan. "Militer kami (Amerika Serikat dan Rusia) telah berhubungan dengan cara yang lebih baik, ketimbang para pemimpin politik kami selama bertahun-tahun. Dan kami juga sudah satu sikap terkait Suriah," kata Trump.

Trump juga mengaku menekankan pentingnya tekanan internasional bersama terhadap Iran, yang selama ini menjadi sekutu Rusia. Adapun Putin mengaku memahami penentangan Washington terhadap perjanjian nuklir internasional dengan Iran, yang didukung Rusia.


Sementara itu,  Israel pada Ahad (15/7) menembakkan rudal ke satu pangkalan militer Suriah di Provinsi Aleppo, bagian utara negeri tersebut. Serangan tersebut hanya menimbulkan kerusakan kecil.


"Serangan Israel itu dilancarkan sebagai reaksi atas kemajuan militer di bagian selatan, tempat militer Suriah telah merebut sebagian besar Provinsi Daraa di Suriah Selatan, termasuk daerah yang dikuasai gerilyawan di dekat Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel," kata laporan tersebut.




Credit  republika.co.id



Bertemu Perdana, Karakter Trump dan Putin Bertolak Belakang



Bertemu Perdana, Karakter Trump dan Putin Bertolak Belakang
Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin bertemu di Helsinki, Finlandia, Senin (16/7). (REUTERS/Kevin Lamarque)


Jakarta, CB -- Lima tahun yang lalu, kala Donald Trump, yang belum menjadi Presiden AS, bersiap pergi ke Moskow untuk ajang Miss Universe, mencuit lewat akun Twitter-nya. Dia bertanya-tanya apakah dia akan pergi menemui Vladimir Putin, yang kala itu telah menjadi Presiden Rusia.

"Jika iya," tulisnya di akun Twitter-nya. "Apakah dia akan menjadi sahabat baruku?"

Kini mantan presenter acara televisi The Apprentice itu bertemu dengan Putin, eks-agen intelijen Rusia, KGB di Helsinki, dalam pertemuan perdana mereka. Pertanyaan serupa dilontarkan dunia internasional.



Konflik di Suriah, dugaan keterlibatan Rusia dalam pemilihan presiden AS 2016, serta Ukraina tampaknya bakal dibahas dalam pertemuan perdana Trump-Putin.



Namun, yang menjadi pusat perhatian adalah hubungan antara kedua pria, pemimpin dua negara adi kuasa di dunia, Amerika Serikat dan Rusia.

Adapun Trump telah lama mengumbar kekagumannya pada cara kepemimpinan Putin, di saat badan intelijen AS menyelidiki keterlibatan Rusia dalam Pilpres AS 2018, yang berhasil mendorong miliader kontroversial tersebut masuk ke dalam Gedung Putih.

Dilansir kantor berita AFP, dalam sifat dan sikap, kedua presiden negara besar di dunia itu sangat berbeda.

Jika Trump terkenal dengan cara pidato yang spontan berapi-api dan sering berselisih paham dengan penasihatnya sendiri, Putin selalu tampil tenang dengan air muka yang datar dan hampir jarang mengekspresikan emosinya.


Putin tetap mengikuti perkembangan lewat informasi dari file-file laporan intelijen yang tebal, serta ringkasan berita media massa. Sebaliknya, tim penasihat Trump kesulitan untuk menyuruh Trump membaca, bahkan untuk sebuah laporan briefing singkat.

Di saat Presiden AS tersebut mempopulerkan opininya lewat media sosial, lawannya di Kremlin, bahkan tidak punya ponsel dan bergantung pada media untuk menyatakan pendapatnya.

Meski begitu, perbedaan mereka tampaknya tak bakal mengganggu hubungan kedua Presiden.

"Putin sudah membuktikan bahwa ia terampil dalam membaca karakter dan pikiran orang," kata Alina Polyakova, peneliti kebijakan luar negeri dari Brookings Institution, Washington, seperti dilansir AFP.

"Dia terlatih dalam bidang ini. Lagi pula, sebagai mantan agen intelijen, menurut saya dia khususnya bisa membaca kelemahan orang," kata Polyakova.

"Dia akan memuji Trump dan bercoba untuk berbincang antara pria ke pria. Trump akan merespons positif cara interaksi tersebut," tambah dia.

Jika itu berhasil, Putin bisa menggunakan kesamaan yang ia memiliki dengan Trump untuk memperdalam percakapan.

Pasangan tersebut dikenal sebagai pimpinan otoriter. Setelah bertemu diktator Korea Utara Kim Jong Un, Trump berkata bahwa ia iri dengan cara rakyat Korea Utara menyembah dan memperhatikan Kim Jong Un saat dia memberi pidato dan berharap bahwa "rakyatku" memperlakukannya dengan cara yang sama.


Putin dan Trump sama-sama memilih untuk membuat keputusan yang tidak diduga dan sesuai dengan kepentingan masing-masing dan partainya daripada harus mencari kompromi.

Keduanya juga mengedepankan nilai-nilai nasionalis dimana mereka berjanji untuk membawa negaranya pada masa kejayaan. Putin setelah jatuhnya Uni Soviet yang meninggalkan rasa ketidakpastian dan Trump setelah di tengah menurunnya perekonomian Amerika Serikat.

Walaupun kedua presiden ini termasuk kelompok orang-orang terkaya dunia, mereka menjalani hidup yang berbeda.

Film-film dokumenter di televisi pemerintah Rusia memperlihatkan gaya hidup ala pertapa yang dijalani Putin. Meskipun orang-orang di lingkaran dalamnya mengumpulkan kekayaan. Kritik menyebut kekayaan Presiden Putin pun tak kurang dari puluhan miliaran dolar.


Trump yang memiliki lift emas untuk naik ke apartemennya di New York, identik dengan pamer kemewahan. Meskipun media AS menyebut bahwa Trump tidak sekaya yang dia katakan.

Keduanya pun memiliki latar belakang berbeda. Putin terlahir dari keluarga pekerja di Leningrad, sekarang Saint Petersburg pada 1952, sebelum menjadi agen intelijen KGB pada usia 20 tahun.

Trump merupakan anak keempat dari lima bersaudara yang terlahir dari keluarga yang kaya raya. Saat dia memulai bisnisnya, dia diberikan "pinjaman kecil" dari bapaknya sebesar US$1 miliar.

Di masa muda, dua pemimpin masa depan tersebut sama-sama gemar berkelahi. Putin berkata bahwa ia harus belajar untuk bersiap "memukul pertama" di Leningrad dan pengakuan Trump tentang masa lalunya yang penuh dengan kekerasan dibocorkan di media Amerika Serikat.


Pada 1980, Trump melihat bisnisnya berkembang. Dari Dresden, Putin melihat Uni Soviet sekarat, di mana dia sedang menyamar sebagai agen rahasia.

Personal branding penting dalam keluarga Trump. Sebaliknya, Putin seorang duda cerai sangat menjaga krhidupan pribadinya. Kedua putrinya nyaris tidak pernah tampil di muka publik.

Sebaliknya, Trump menyiarkan hampir seluruh aspek kehidupannya. Mulai dari keberhasilannya menjalankan bisnis, hingga transformasinya menjadi bintang acara realitas televisi pada era 2000-an.

Meski begitu, hanya sedikit yang bisa diketahui dari kehidupan Putin, yang memulai karier sebagai pegawai biasa, hingga menerima tampuk kepresidenan dari pendahulunya Boris Yeltsin, selain remah-remah berita yang dia sodorkan kepada jurnalis Rusia selama bertahun-tahun. Dalam sebuah pengamatan tentang Putin, dia digambarkan penulis biograsi Masha Gessen sebagai, "Pria Tak Berwajah."




Credit  cnnindonesia.com





Duduk Santai dengan Trump, Kemenangan Putin dalam Genggam


Duduk Santai dengan Trump, Kemenangan Putin dalam Genggam
Hanya dengan duduk santai bersama Donald Trump dalam pertemuan di Helsinki, Vladimir Putin dianggap dapat langsung meraih seluruh kemenangan yang ia dambakan. (AFP Photo/Saul Loeb)



Jakarta, CB -- Sejak lama, Presiden Vladimir Putin mendambakan tatap muka dengan Presiden Donald Trump yang akhirnya terwujud hari ini di Helsinki, Finlandia.

Bagaimana tidak, hanya dengan duduk santai bersama Trump, Putin dianggap dapat langsung meraih seluruh kemenangan yang selama ini ia dambakan.

Salah satu piala paling penting yang diincar oleh Putin adalah penghentian secara simbolis upaya Barat mengisolasi Rusia akibat pencaplokan Crimea.



Selain itu, Putin juga membidik penghapusan dugaan intervensi pemilu AS pada 2016 lalu, salah satu tindakan yang disebut-sebut kerap dilakukan Rusia terhadap berbagai negara lain di seluruh penjuru dunia.

"Jika Trump berkata, 'Yang berlalu sudah berlalu karena dunia terus berputar,' itu adalah yang Moskow butuhkan dari pertemuan ini," ujar analis kebijakan luar negeri independen dari Rusia, Vladimir Frolov, kepada The New York Times.


Dakwaan yang dijatuhkan atas 12 intelijen Rusia terkait intervensi pemilu hanya berselang beberapa hari menjelang pertemuan Helsinki ini pun dianggap dapat menjadi kemenangan tersendiri bagi Putin.

Akibat dakwaan itu, AS terbelah karena Partai Demokrat semakin lantang menyuarakan penolakan mereka terhadap pertemuan antara Putin dan Trump.

Rakyat pun semakin membenci Trump yang dianggap enggan mempertahankan kedaulatan AS demi melindungi diri sendiri. Trump memang selalu menampik tudingan intervensi yang disebut-sebut dilakukan Rusia untuk membantu kemenangan sang presiden.

Di luar negeri, Trump tak henti mengkritik kepala negara-negara yang selama ini dikenal sebagai sekutu dekat AS.

Duduk Santai dengan Trump, Kemenangan Putin dalam Genggam
Dalam lawatannya ke Inggris, Donald Trump mengkritik Theresa May atas pendekatannya terkait Brexit. (Reuters/Hannah McKay)
Beberapa hari sebelum pertemuan di Helsinki, Trump melakukan rangkaian lawatan ke negara-negara Eropa, termasuk Inggris, di mana ia mengkritik Perdana Menteri Theresa May atas pendekatannya terkait Brexit.

Trump bahkan mengecam NATO, musuh bebuyutan Rusia sejak era Uni Soviet. Ia mendesak negara NATO untuk segera memenuhi target bujet pertahanan dan mengeluh karena selama ini AS mengeluarkan biaya paling besar.

"Kita menyaksikan sesuatu yang mengejutkan. Sesuatu yang bahkan Uni Soviet saja tidak bisa mencapainya: memecah belah AS dan Eropa Barat," tutur Presiden Asosiasi Kerja Sama Euro-Atlantik, Tatyana Parkhalina.

Melanjutkan pernyataannya, ia berkata, "Sebelumnya, mereka tak pernah berhasil, tapi tampaknya mereka akan berhasil dengan Trump sekarang."


Lebih jauh, Trump bahkan dapat membantu Rusia untuk lepas dari isolasi sanksi akibat pencaplokan Crimea. Pada pertemuan G7 lalu saja, Trump sudah mendesak agar Rusia dimasukkan kembali ke dalam grup itu.

Kepala Biro CNN di Moskow, Nathan Hodge, pun menganggap pertemuan ini dapat memberikan angin segar bagi Putin yang mulai kehilangan kepercayaan rakyat, merujuk pada jajak pendapat dari Pusat Riset Opini Publik Rusia (VCIOM).

"Responden mengaku merasa lebih pesimistis atas sejumlah faktor, termasuk kemampuan finansial mereka, kepercayaan mereka terhadap perekonomian, dan dukungan mereka atas politik negara," tulis Hodge dalam kolom analisisnya di CNN.

Merujuk pada hasil riset VCIOM, faktor utama dari penurunan kepercayaan itu adalah keputusan pemerintah untuk meningkatkan harga bahan bakar dan menaikkan usia pensiun.

Duduk Santai dengan Trump, Kemenangan Putin dalam Genggam
Merujuk pada jajak pendapat terbaru, tingkat kepercayaan publik terhadap Vladimir Putin menurun. (AFP Photo/Olga Maltseva)
Meski demikian, tingkat penerimaan publik terhadap Putin masih berada di kisaran 80 persen. Pertemuan dengan Trump ini diperkirakan akan menggenjot angka tersebut.

Sementara itu, Trump yang juga sedang berupaya memompa tingkat kepercayaan publik AS justru diperkirakan tak akan mencapai targetnya.

Ahli hubungan Rusia-Amerika dari European University, Ivan Kurilla, melihat Trump ingin mengubah citra Rusia demi meredam kritik musuh politiknya atas campur tangan Moskow dalam pemilu yang pada akhirnya mencoreng kredibilitas sang presiden.

Menurut Kurilla, Trump ingin mengulang kembali sejarah ketika Presiden Ronald Reagan bertemu dengan Sekretaris Jenderal Uni Soviet, Mikhail Gorbachev, pada 1980.

"Dia ingin membawa pulang pesan bahwa Rusia bukan musuh Amerika, bukan pula kekuatan iblis. Namun, ia salah perhitungan karena Putin tidak seperti Gorbachev," kata Kurilla kepada The New York Times.




Credit  cnnindonesia.com



Disebut Trump Musuh, Menlu Jerman Bilang Tidak Bisa Andalkan AS


Kanselir Jerman Angela Merkel menyambut Presiden AS Donald Trump saat tiba dalam KTT G-20 di Hamburg, Jerman, 6 Juli 2017. REUTERS/Michael Kappeler/POOL
Kanselir Jerman Angela Merkel menyambut Presiden AS Donald Trump saat tiba dalam KTT G-20 di Hamburg, Jerman, 6 Juli 2017. REUTERS/Michael Kappeler/POOL

CBBerlin – Menteri Luar Negeri Jerman, Heiko Maas, mengatakan Eropa tidak bisa lagi mengandalkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, setelah disebut sebagai musuh terkait hubungan dagang kedua pihak.

“Kita tidak bisa lagi mengandalkan penuh Gedung Putih,” kata Heiko Maas kepada media lokal Funke seperti dilansir Channel News Asia, Senin, 16 Juli 2018.
Maas mengatakan untuk mempertahankan hubungan yang ada selama ini dengan AS maka Eropa harus melakukan sejumlah penyesuaian. “Konsekuensi jelas pertama adalah kita harus merapatkan barisan di Eropa,” kata Maas.
Dia menambahkan,” Eropa tidak boleh membiarkan dirinya terpecah meskipun terkena serangan verbal yang tajam dan cuitan yang absurd.”

Sejumlah pemimpin negara G7 seperti Kanselir Jerman, Angela Merkel, dan Presiden AS, Donald Trump, terlihat berkumpul di sela-sela KTT yang digelar di Quebec, Canada, pada 9 Juni 2018. Jesco Denzel—EPA-EFE/Shutterstock
Maas menanggapi pernyataan Trump di Edingburgh menjelang digelarnya pertemuan puncak pertama AS dan Rusia, yang digelar pada Senin, 16 Juli 2018.
Sebelumnya, Maas juga mengkritik pernyataan Trump pada saat pertemuan puncak NATO bahwa Jerman merupakan tahanan Rusia karena membeli gas untuk kebutuhan domestik. "Jerman bukan tahanan Rusia dan juga bukan tahanan AS," kata Maas. 
Seperti diberitakan, Trump mengatakan AS memiliki sejumlah musuh dalam wawancara dengan media asal AS, CBS News. Pernyataan Trump ini keluar sehari menjelang pertemuan puncak Trump dan Putin di Helsinki, Finladia, pada Senin, 16 Juli 2018.
“Saya kira kita punya banyak musuh. Saya pikir Uni Eropa itu musuh, terkait apa yang mereka lakukan terhadap kita dalam perdagangan. Anda mungkin tidak berpikir Uni Eropa itu musuh tapi mereka musuh,” kata Trump dalam wawancara itu.
Trump melanjutkan,”Rusia itu juga musuh dalam aspek tertentu. Cina itu musuh secara ekonomi. Tapi itu tidak berarti mereka jahat. Itu tidak berarti apa-apa. Itu hanya artinya mereka itu kompetitif,” kata Trump.
Presiden Dewan Eropa, Donald Tusk, menyebut pernyataan Trump sebagai berita bohong. “AS dan UE berhubungan baik,” kata dia.




Credit  tempo.co





Trump Sebut UE sebagai Musuh, Presiden Dewan Eropa Menangkis



Presiden Dewan Eropa Donald Tusk, Perdana Menteri Inggris Theresa May, Kanselir Jerman Angela Merkel, Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau berpose saat foto dalam KTT G7 di kota Charlevoix La Malbaie, Quebec, Kanada, 8 Juni , 2018. REUTERS/Yves Herman
Presiden Dewan Eropa Donald Tusk, Perdana Menteri Inggris Theresa May, Kanselir Jerman Angela Merkel, Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau berpose saat foto dalam KTT G7 di kota Charlevoix La Malbaie, Quebec, Kanada, 8 Juni , 2018. REUTERS/Yves Herman

CB, Brussel – Presiden Dewan Eropa, Donald Tusk, menanggapi pernyataan Presiden Donald Trump sebagai kabar bohong terkait Uni Eropa sebagai musuh AS.
Menjelang pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, di Helsinki, Finlandia, Trump mengatakan UE, Rusia, dan Cina sebagai musuh dalam konteks hubungan ekonomi yang kompetitif.
“AS dan UE merupakan temain baik. Siapapun mengatakan kami bermusuhan itu sama saja menyebarkan berita bohong,” kata Tusk, yang merupakan bekas Perdana Menteri Polandia lewat akun Twitter-nya @eucopresident.
Tusk juga mengatakan selain pertemuan AS dengan Rusia di Helsinki, UE dan Cina juga sedang menggelar pertemuan di Brussel, Belgia saat ini.
"Keempatnya bertanggung jawab untuk menignkatkan tata kelola dunia dan bukannya menghancurkannya. Semoga pesan ini sampai juga ke Helsiniki," kata Tusk.

Presiden Joko Widodo bertemu Presiden Dewan Eropa Donald Tusk di Brussel, Belgia. Asmayani Kusrini
Secara terpisah, penasehat keamanan nasional AS, John Bolton, mengatakan pertemuan puncak Trump dan Putin akan dimulai dengan pertemuan empat mata kedua pemimpin. Ini artinya tidak ada menteri atau pejabat tinggi kedua negara yang terlibat dalam pertemuan pertama ini.
Dari pertemuan ini, Trump dan Putin akan menentukan isu-isu yang akan dibahas dalam pertemuan lanjutan, yang melibatkan tim kedua negara.
Duta besar AS untuk Rusia, Jon Huntsman mengatakan kedua pihak agar tidak berharap terlalu tinggi dari pertemuan puncak ini.
“Fakta bahwa kedua pemimpin negara bertemua untuk berbicara merupakan capaian yang besar,” kata Huntsman.
Menurut Huntsman, yang sempat mendukung Trump sebagai kandidat Presiden 2016, Trump dan Putin bakal membahas pencegahan proliferasi nuklir, konflik di Suriah, dan isu aneksasi Crimea.
Sementara itu, juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menanggapi kritik Trump soal pipanisasi gas Nord Stream-2, yang menghubungkan Rusia dan Eropa seperti Jerman. Dalam pembicaraan pada pertemuan puncak NATO, Trump mengkritik rencana pipanisasi ini, yang justru didukung Jerman untuk menyuplai kebutuhan gas domestik.
Trump meminta UE membeli gas dan minyak mentah dari AS. “Moskow merasa khawatir dan menilainya sebagai contoh persaingan buruk,” kata dia





Credit  tempo.co



Trump dan Putin Beberkan Hasil Pertemuan di Helsinki


Trump dan Putin Beberkan Hasil Pertemuan di Helsinki
Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin bertemu di Helsinki, Finlandia. (Lehtikuva/Heikki Saukkomaa via REUTERS)


Jakarta, CB -- Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin menggelar pertemuan empat mata di Helsinki, Finlandia pada Senin (16/7). Keduanya kemudian membeberkan hasil diskusi mereka kepada awak media.

Di hadapan media, Putin mengungkapkan bahwa negosiasi dengan Trump berlangsung dengan atmosfer yang terbuka dan konstruktif. Ia menilai diskusi itu sukses dan bermanfaat.

"Sangat jelas bagi semua orang bahwa hubungan bilateral melalui tahapan yang rumit," ujar Putin, dikutip CNN.



"Meski demikian, hambatan-hambatan itu, ketegangan belakangan ini, dan atmosfer yang menegang pada dasarnya tidak punya alasan kuat di baliknya," imbuhnya.

Putin kemudian menyampaikan keprihatinan atas keputusan Trump yang menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran, yang juga dikenal dengan Rencana Aksi Komprehensif Gabungan (Joint Comprehensive Plan of Action/JCPOA).

"Kami juga menyebutkan kekhawatiran kami tentang penarikan Amerika Serikat dari JCPOA," katanya.

"Berkat perjanjian nuklir Iran, Iran menjadi negara paling terkontrol di dunia," lanjutnya.

Putin pun membantah bahwa Rusia ikut campur dalam urusan internal AS, termasuk pemilu 2016. Sebelumnya memang muncul kabar berhembus kuat yang menyebut Rusia membantu Trump menang dari Hilary Clinton saat pemilu.

"Sekali lagi, Presiden Trump menyinggung isu soal Rusia yang disebut ikut campur pada pemilu AS," kata Putin.



"Saya harus mengulangi sesuatu yang sudah saya katakan berulang kali, termasuk saat kontak personal kami, bahwa pemerintah Rusia tidak pernah ikut campur dan tidak akan ikut campur dalam urusan internal AS, termasuk proses pemilu," ujarnya tegas.

Sementara, Trump menyebut pertemuannya dengan Putin telah memperbaiki hubungan kedua negara secara signifikan.

Ia juga mengakui hubungan AS-Rusia "tak pernah seburuk ini sebelumnya," dan dia percaya bahwa saat ini ikatan itu telah "berubah" setelah pertemuannya dengan Putin.

"Hubungan kami tak pernah lebih buruk dari saat ini. Meski demikian, itu berubah sekitar empat jam yang lalu. Saya sangat percaya itu," ujar sang politisi optimistis.

Saat ditanya seorang reporter mengenai Putin, Trump pun menyebut Putin sebagai seorang kompetitor yang baik.

"Saya menyebut dia [Putin] seorang kompetitor, dan memang kompetitor yang baik. Saya pikir kata kompetitor adalah sebuah pujian," katanya.


Credit  cnnindonesia.com


Temui Putin, Trump Diklaim Tak Akan Hentikan Latihan Militer


Temui Putin, Trump Diklaim Tak Akan Hentikan Latihan Militer
Seorang pejabat mengatakan Presiden AS Donald Trump (kiri) tak akan menghentikan latihan militer di wilayah Baltik meski bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin (kanan). REUTERS/Kevin Lamarque


Jakarta, CB -- Seorang pejabat mengatakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump tak akan menghentikan latihan militer di wilayah Baltik meski sudah bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Keduanya duduk bersama dalam konferensi tingkat tinggi pertama antara kedua pemimpin negara di Helsinki, Finlandia, Senin (16/7).


Seorang pejabat yang dikutip anonim oleh CNN mengatakan Trump berbicara dengan para penasihatnya cukup lama, sebelum Putin yang sempat terlambat akhirnya tiba di lokasi.

Salah satu yang dibahas adalah penghentian manuver militer di wilayah Baltik.



"Setidaknya itu rencana yang ada saat ini," kata pejabat itu, merujuk pada latihan militer AS yang rutin digelar bersama Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

Hal ini dipertanyakan setelah Trump mendadak membatalkan latihan bersama Korea Selatan setelah bertemu dengan Kim Jong-un di Singapura, bulan lalu.Trump Putin

Walau demikian, pejabat yang enggan disebutkan namanya itu mengakui beberapa hal mungkin berubah setelah Trump tatap muka secara pribadi dengan Putin.

Beberapa hari lalu, Trump mengatakan tak akan menepikan kemungkinan menghentikan latihan itu, jika Putin meminta.

Saat ini pertemuan antara kedua pemimpin negara tengah berlangsung. Putin dan Trump akan menjalani sesi tatap muka pribadi, hanya didampingi penerjemah masing-masing.

Sebelumnya, Trump sempat menyinggung soal persenjataan kedua negara. Di samping Putin, Trump menyebut kepemilikan senjata nuklir AS dan Rusia merupakan hal yang buruk.

"Saya pikir dunia ingin melihat kami akrab. Kami adalah dua negara nuklir besar. Kami punya 90 persen nuklir--dan itu bukan hal yang baik, itu hal yang buruk," kata Trump.

Trump dan Putin juga sepakat akan membahas perbaikan hubungan antara Washington dan Moskow.




Credit  cnnindonesia.com




Trump Dilaporkan Marah Lihat Video Putin Nuklir Florida

Trump Dilaporkan Marah Lihat Video Putin Nuklir Florida
Presiden AS Donald Trump dilaporkan marah melihat video Presiden Rusia Vladimir Putin menyombongkan potensi persenjataannya yang mampu menghantam Florida. (REUTERS/Jonathan Ernst)


Jakarta, CB -- Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan marah melihat video Presiden Rusia Vladimir Putin menyombongkan potensi persenjataannya di masa depan yang mampu menghantam Florida.

Meski tidak bereaksi secara publik pada video tersebut, Trump "marah kepada Presiden Rusia lewat panggilan telepon," kata laporan Axios yang dikutip CNN, Senin (16/7).


Menurut sumber laporan itu, panggilan telepon dilakukan beberapa pekan setelah Putin menunjukkan video dalam pidato di hadapan parlemen Rusia sebelum kembali terpilih jadi presiden.

Trump menelepon Putin pada 20 Maret, setelah memenangi pemilihan umum, di mana ia juga diimbau untuk tidak mengucapkan selamat kepada Putin. Menurut sumber CNN, Presiden AS tak mengikuti imbauan itu.



Dia mengatakan kepada putin bahwa dirinya telah bebricara dengan Perdana Menteri Inggris Theresa May dan Kanselir Jerman Angela Merkel. Sumber Axios mengatakan kedua pemimpin negara "sepakat" soal "kegilaan" video itu.

Lewat Telepon, Trump mengatakan "saya sudah meningkatkan anggaran pertahanan, memodernisasi senjata nuklir saya."

"Saya bisa melakukan lebih jauh dari itu, jadi jika Anda ingin bersaing, Anda akan kalah," kata Trump dalam laporan tersebut.

Trump dan Putin bertemu dalam konferensi tingkat tinggi perdana di Helsinki, Senin.

Trump sempat mengatakan kesepakatan terbaik yang bisa dicapai dengan Putin adalah soal penghapusan nuklir di dunia.

"Apa yang akan jadi kesepakatan terbaik? Coba kita lihat. Tak ada senjata nuklir di manapun di dunia, tak ada perang, tak ada masalah, tak ada konflik," kata Trump sebagaimana dikutip Reuters.

Menurut Trump, pertemuan dengan Putin akan jadi yang termudah dalam rangkaian kunjungannya di Eropa.



Credit  cnnindonesia.com





Trump sebut Rusia, UE, China sebagai "musuh"


Trump sebut Rusia, UE, China sebagai "musuh"
Arsip Foto. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menggerakkan tangannya saat ia kembali dari perjalanan ke Annapolis, Maryland, di Washington, Amerika Serikat, Jumat (25/5/2018). (REUTERS/Carlos Barria)



Washington (CB) - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut Rusia, Uni Eropa (UE) dan China sebagai "musuh" dalam sebuah wawancara yang disiarkan Minggu (15/7) malam, menjelang pertemuan puncaknya dengan Vladimur Putin.

"Saya pikir saya punya banyak musuh. Saya rasa Uni Eropa adalah musuh, apa yang mereka lakukan pada kita dalam perdagangan," kata Trump dalam acara Face the Nation produksi CBS.

"Sekarang kalian tidak akan merasa Uni Eropa demikian, tapi mereka adalah musuh. Rusia adalah musuh dalam aspek tertentu. China adalah musuh secara ekonomi, sudah pasti mereka musuh. Tetapi, itu bukan berarti mereka jahat. Itu tidak berarti apa-apa. Artinya mereka kompetitif," katanya dalam sebuah wawancara dengan Jeff Glor dari CBS Evening News yang dilakukan pada Sabtu.

Trump mengulang pernyataan sebelumnya bahwa Uni Eropa "sungguh telah memanfaatkan kita dalam perdagangan."

Dia juga mengatakan bahwa "sangat buruk bagi Jerman" yang bergantung pada gas Rusia, yang membuat mereka harus membayar "miliaran" kepada Moskow.

Ameria Serikat telah mengenakan tarif pada baja dan aluminium Uni Eropa dan sekutu lainnya, sehingga memicu tindakan balasan.

Perang dagang juga masih berlangsung dengan China setelah Amerika Serikat mengenakan tarif dagang karena menyebut praktik perdagangan Beijing tidak adil, demikian menurut siaran kantor berita AFP.




Credit  antaranews.com




Senin, 16 Juli 2018

Harga Pesawat Jet Tempur Canggih F-35 Turun, Kenapa?

Pengiriman pesawat tempur F-35B milik Angkatan Udara Inggris, yang dikirim dari Marine Corps Air Station Beaufort di Amerika Serikat menuju pangkalan baru RAF Marham, Inggris, 6 Juni 2018. Empat dari jet yang telah berbasis di US Marine Corps Air Station Beaufort, Carolina Selatan, itu melintasi Atlantik dalam perjalanan lebih dari delapan jam untuk ditempatkan di Inggris. Sgt Nik Howe/MoD Handout via REUTERS
Pengiriman pesawat tempur F-35B milik Angkatan Udara Inggris, yang dikirim dari Marine Corps Air Station Beaufort di Amerika Serikat menuju pangkalan baru RAF Marham, Inggris, 6 Juni 2018. Empat dari jet yang telah berbasis di US Marine Corps Air Station Beaufort, Carolina Selatan, itu melintasi Atlantik dalam perjalanan lebih dari delapan jam untuk ditempatkan di Inggris. Sgt Nik Howe/MoD Handout via REUTERS

CB, Jakarta - Amerika Serikat telah mencapai kesepakatan awal untuk membeli jet F-35 dari Lockheed Martin senilai US$ 13 miliar atau Rp 187 triliun. Kesepakatan ini membuka jalan untuk pembelian tahunan yang lebih besar yang bertujuan agar biaya per pesawat jet turun menjadi US$ 80 juta atau pada tahun 2020.
Dilaporkan Reuters, 16 Juli 2018, kesepakatan untuk 141 F-35 menurunkan harga F-35A, versi paling umum dari jet tempur, hingga sekitar US$ 89 juta atau Rp 1,1 triliun, turun sekitar 6 persen dari harga awal yakni US$ 94,3 juta atau Rp 1,3 triliun dalam kesepakatan terakhir dilakukan pada Februari 2017.

Menurunkan biaya program pertahanan paling mahal di dunia sangat penting untuk mengamankan lebih banyak pesanan, baik di Amerika Serikat maupun di luar negeri.Presiden Donald Trump dan pejabat AS lainnya telah mengkritik program F-35 karena mangkir dan pembengkakan biaya, tetapi harga per jet terus menurun dalam beberapa tahun terakhir karena produksi meningkat.

Kesepakatan saat ini akan disatukan bersama dengan penetapan harga dan ketentuan lainnya dalam kontrak yang akan diumumkan dalam beberapa minggu mendatang, ungkap sumber yang enggan disebut namanya.Kesepakatan dengan Departemen Pertahanan AS menghapus hambatan dari negosiasi yang sedang berlangsung untuk kesepakatan multi-tahun untuk pesawat yang diperkirakan terdiri dari tiga tahap selama tahun fiskal 2018-2020.
"Pentagon dan Lockheed Martin telah membuat kemajuan dan berada di tahap akhir negosiasi. Perjanjian melambangkan komitmen Departemen Pertahanan untuk melengkapi pasukan AS dan sekutu, sambil memberikan manfaat besar kepada pembayar pajak AS," ungkap kepala akuisisi Pentagon, Ellen Lord

Selain di ruang senjata, F-35B juga dapat membawa secara eksternal atau di bawah sayapnya. Amerika Serikat telah melakukan uji coba pesawat F-35 membawa bom GBU-31, 2.000 pound Joint Direct Attack Munition (JDAM), di sayapnya. Lockheed Martin photo by Darin Russell
Musim panas lalu, Australia, Denmark, Israel, Italia, Jepang, Belanda, Norwegia, Turki, Korea Selatan, Inggris dan Amerika Serikat dilaporkan akan mengeluarkan US$ 88 juta Rp 1,2 triliun untuk masing-masing 135 unit atau lebih F-35 pada tahun fiskal 2018, untuk pengiriman pada 2020.

Bersamaan dengan itu, pemerintah AS merundingkan pembelian 440 F-35 pesawat tempur hingga lebih dari US$ 37 miliar atau Rp 532 triliun sebagai bagian dari program multi-tahun.Pesawat jet tempur F-35 Lightning II milik Lockheed Martin adalah keluarga jet tempur multiperan stealth dengan kursi tunggal, mesin tunggal, dan tahan segala cuaca. Pesawat tempur generasi kelima ini dirancang untuk melakukan serangan darat dan head to head di udara.
F-35 memiliki tiga model utama, yakni varian take-off dan pendaratan konvensional F-35A, F-35B varian take-off pendek dan pendaratan vertikal, dan F-35C yang berbasis ketapel pengangkut untuk perbaikan.




Credit  tempo.co