
Emmanuel Macron menghadiri reli kampanye di Chatellerault, Prancis, Jumat (28/4/2017). (REUTERS/Regis Duvignau)
Jakarta (CB) - Presiden Prancis Emmanuel Macron kecewa
dengan pengumuman Donald Trump pada Kamis yang menyatakan Amerika
Serikat keluar dari Perjanjian Paris, yang merupakan kesepakatan global
bersejarah dalam memerangi perubahan iklim.
Meski demikian, Time.com menyebut Macron bereaksi atas pengumuman itu dengan "sedikit bersenang-senang".
Dalam pidatonya di akun Twitter resmi miliknya, Macron meniru slogan khas Trump "Buat Amerika Hebat Lagi", tapi Macron menggantinya dengan "Buat Planet Kita Hebat Lagi".
Seperti halnya banyak pemimpin dunia lain, Macron mengulang kembali komitmennya dalam kesepakatan iklim internasional dan mencari cara-cara baru untuk melindungi planet dari pemanasan global.
"Untuk semua ilmuwan, insinyur, pengusaha, penduduk yang bertanggung jawab yang kecewa engan keputusan Amerika Serikat, saya ingin katakan Prancis bisa jadi rumah kedua mereka," kata Macron menanggapi Trump.
"Saya serukan pada mereka: datanglah dan bekerja di sini bersama kami-bekerja bersama untuk solusi-solusi konkrit bagi iklim kita, lingkungan kita. Saya pastikan, Prancis tak akan menyerah dalam pertempuran."
Sementara keluarnya AS pada kesepakatan tahun 2015 tak diharapkan akan mengacaukan kesepakatan, namun itu akan melemahkan persetujuan dan mampu menciderai bisnis AS.
Keputusan juga mengisolasi AS dari isu penting seiring dengan komunitas internasional bertujuan melanjutkan upaya untuk mengendalikan perubahan iklim.
Selain AS, hanya Suriah dan Nikaragua yang tak menandatangani kesepakatan 2015.
Nikaragua tak menandatangani karena merasa kesepakatan tak akan berdampak jauh terhadap perubahan iklim.
Macron, tak gentar dengan mundurnya AS: "Saya serukan Anda sekalian tetap percaya diri, kita akan berhasil. Karena kita berkomitmen penuh, karena di mana pun kita tinggal, siapa pun kita, kita punya tanggung jawab sama. Buat planet kita hebat lagi."
Meski demikian, Time.com menyebut Macron bereaksi atas pengumuman itu dengan "sedikit bersenang-senang".
Dalam pidatonya di akun Twitter resmi miliknya, Macron meniru slogan khas Trump "Buat Amerika Hebat Lagi", tapi Macron menggantinya dengan "Buat Planet Kita Hebat Lagi".
Seperti halnya banyak pemimpin dunia lain, Macron mengulang kembali komitmennya dalam kesepakatan iklim internasional dan mencari cara-cara baru untuk melindungi planet dari pemanasan global.
"Untuk semua ilmuwan, insinyur, pengusaha, penduduk yang bertanggung jawab yang kecewa engan keputusan Amerika Serikat, saya ingin katakan Prancis bisa jadi rumah kedua mereka," kata Macron menanggapi Trump.
"Saya serukan pada mereka: datanglah dan bekerja di sini bersama kami-bekerja bersama untuk solusi-solusi konkrit bagi iklim kita, lingkungan kita. Saya pastikan, Prancis tak akan menyerah dalam pertempuran."
Sementara keluarnya AS pada kesepakatan tahun 2015 tak diharapkan akan mengacaukan kesepakatan, namun itu akan melemahkan persetujuan dan mampu menciderai bisnis AS.
Keputusan juga mengisolasi AS dari isu penting seiring dengan komunitas internasional bertujuan melanjutkan upaya untuk mengendalikan perubahan iklim.
Selain AS, hanya Suriah dan Nikaragua yang tak menandatangani kesepakatan 2015.
Nikaragua tak menandatangani karena merasa kesepakatan tak akan berdampak jauh terhadap perubahan iklim.
Macron, tak gentar dengan mundurnya AS: "Saya serukan Anda sekalian tetap percaya diri, kita akan berhasil. Karena kita berkomitmen penuh, karena di mana pun kita tinggal, siapa pun kita, kita punya tanggung jawab sama. Buat planet kita hebat lagi."
Credit antaranews.com


Ilustrasi evakuasi dari Marawi. (AFP Photo/Ted Aljibe)
Ilustrasi. (AFP PHOTO / Benjamin CREMEL)
Tak lama setelah mendengar laporan
mengenai insiden ini, petugas langsung mendatangi lokasi dan berhasil
menewaskan sang pelaku. (Reuters/Stringer)
Serangan udara yang ditujukan untuk
menggempur militan ISIS di Marawi salah sasaran, dan malah menewaskan 11
anggota militer Filipina. (Reuters/Erik De Castro)
Mantan Dikator Panama Manuel Noriega meninggal dunia di usia 83 tahun. (REUTERS/Beth Cruz)
Kesehatan
Noriega terus memburuk setelah dia divonis hukuman penjara seumur hidup
atas kejahatannya selama berkuasa. (Foto: REUTERS/Handout)











