STEPHANIE PILICK / DPA / AFP
Salah satu Airbus A320 milik maskapai Germanwings di bandara Tegel, Berlin.
CB — Berdasarkan data perekam suara kokpit atau
cockpit voice recorder
(CVR), jaksa penyidik di Marseille, Perancis, Brice Robin, mengatakan
bahwa kopilot penerbangan Germanwings 4U9525 secara sengaja menabrakkan
pesawat dengan 150 orang di dalamnya ke Pegunungan Alpen.
Hal itu juga diperkuat dengan bukti yang diungkap oleh
Flightradar24, layanan
online yang menunjukkan data penerbangan secara
real time.
Menurut
Flightradar24, data
flight management computer
(FMC) atau yang di dalam sistem Airbus disebut FMGS atau MCDU
menunjukkan bahwa ketinggian jelajah telah diubah, atau, dengan cara
lain, kopilot telah mengubah ketinggian melalui
mode control panel (MCP), dari ketinggian 38.000 kaki, menjadi 13.000 kaki, kemudian 100 kaki.
Flightradar24 MCP data milik Germanwings 4U9525 yang dilansir oleh FLightradar24, Kamis (26/3/2015).
Perubahan
input ketinggian itu mulai dilakukan pada pukul 09.30.52 Zulu (atau waktu UTC +0). Sistem
autopilot saat itu masih mencatat ketinggian jelajah Germanwings 4U9525 di ketinggian 38.000 kaki dengan
setting QNH (tekanan barometer) 1006,0 hPa.
Dua detik setelahnya, atau pukul 09.30.54 Zulu, sistem
autopilot
mencatat perubahan ketinggian menjadi 13.008 kaki. Satu detik
setelahnya, pada pukul 09.30.55 Zulu, ketinggian jelajah di MCP/FMC
diubah lagi menjadi sekitar 100 kaki, sementara ketinggian tanah di
Pegunungan Alpen tersebut sekitar 6.000 kaki.
Dikutip
KompasTekno dari
BBC, Kamis (24/3/2015), perubahan
input ketinggian terhadap sistem
autopilot
itu hanya bisa dilakukan secara manual. Artinya, seseorang yang saat
itu berada di dalam kokpit secara sengaja mengubah ketinggian jelajah.
"Tindakan untuk mengubah ketinggian ini hanya bisa dilakukan secara sengaja," ujar Jaksa Robin.
Tidak
ada yang bisa mencegah apa yang dilakukan kopilot Germanwings 4U9525
karena, seperti diberitakan sebelumnya, kopilot mengunci dirinya di
dalam kokpit karena kapten pilot diketahui telah keluar.
"Kami mendengar suara kursi digeser ke belakang dan suara pintu (kokpit) ditutup," tutur Robin kepada para wartawan.
Kopilot menolak untuk membuka kembali pintu dan kemudian membawa pesawat menukik sebelum jatuh di Pegunungan Alpen.
Bagaimana cara mengubah ketinggian jelajah?Dari keterangan Jaksa Robin dan data yang diungkap
Flightradar24, bisa disimpulkan bahwa kopilot yang berada di dalam kokpit menjatuhkan pesawat secara sengaja dengan sistem
autopilot, alih-alih dengan kendali manual mendorong kemudi ke depan untuk membuat hidung pesawat turun.
Kopilot yang berkewarganegaraan Jerman itu diduga memberikan
input ketinggian jelajah yang lebih rendah dibanding lingkungan sekelilingnya.
Input tersebut bisa dilakukan dengan mengubah sistem ketinggian jelajah di FMC (atau MCDU di Airbus) atau melalui MCP, panel
autopilot yang mengatur
heading, kecepatan,
vertical speed, serta
altitude (ketinggian jelajah).
ist Panel
kokpit Airbus A320 Germanwings registrasi D-AIPX yang jatuh di
pegunungan Alpen pada Selasa (24/3/2015) lalu. Dalam lingkaran merah
adalah panel MCP (atas) dan dua di bawah adalah panel FMC/FMGS/MCDU
dalam A320, kanan untuk kopilot, kiri untuk pilot.
Dalam pesawat komersial populer, baik Boeing maupun Airbus, panel FMC
atau MCDU berada di sebelah sisi kanan bawah kapten pilot, atau sisi
kiri bawah kopilot, dan berada di dekat lutut jika sedang duduk.
Sementara
itu, panel MCP hanya ada satu, di bagian depan kokpit, di deretan
paling atas. Panel tersebut salah satunya memuat tombol
autopilot dan pengaturan ketinggian jelajah.
Controlled flight into terrain (CFIT)Jika semua dugaan di atas adalah benar, maka kecelakaan Germanwings penerbangan 4U9525 ini bisa dimasukkan ke dalam kategori
controlled flight into terrain (CFIT).
Di
Indonesia, contoh kasus CFIT bisa dilihat dari kejadian pesawat Sukhoi
yang menabrak Gunung Salak di Bogor, atau Garuda Indonesia yang menabrak
Gunung Sibayak di Medan.
Bedanya, kasus di atas terjadi bukan
atas kehendak pilot atau kopilot yang mengawaki pesawat, sementara
Germanwings 4U9525 dilakukan secara sengaja.
"Ya, (termasuk CFIT)
karena pesawat tidak sedang dalam kondisi hilang kontrol, dan dilakukan
dengan sengaja dengan mengubah MCP," ujar pengamat penerbangan Gerry
Soejatman saat dihubungi
KompasTekno, Jumat (27/3/2015).
Flightradar24 Descend profile Germanwings 4U9525
Hal tersebut juga sesuai dengan data yang ditunjukkan oleh
Flightradar24 yang menyebut
rate of descend
Germanwings 4U9525 saat menurunkan ketinggian tergolong konstan (garis
biru dalam grafik), yaitu antara minus 3.800 kaki hingga minus 4.000
kaki per menit.
Berbeda dengan bocoran data yang beredar pada
kasus AirAsia Indonesia QZ8501. Saat itu, menurut rekaman data ADS-B,
pesawat terjun dari ketinggian dengan
rate of descend yang semakin besar, hingga 11.000 kaki per menit.
Penurunan ketinggian dengan
rate of descend 4.000 kaki per menit itu masih tergolong dalam pengoperasian normal, dalam artian masih nyaman bagi penumpang.
Pesawat yang dalam kondisi darurat, seperti kabin dalam keadaan dekompresi, akan menurunkan ketinggian sesegera mungkin dengan
rate of descend antara 7.000 dan 8.000 kaki per menit.
Dugaan bunuh diriJaksa
Robin menyimpulkan, berdasarkan data di atas, kopilot dengan sengaja
membawa pesawat jatuh. Selain itu, ia juga tidak mendengar ada suara
kepanikan dari dalam kokpit, seperti saat dalam bahaya.
"Suasana
di kokpit benar-benar sunyi, napas (kopilot) juga terdengar normal,
biasa saja, tidak sedang dalam kondisi panik dan dia tidak mengatakan
apa-apa. Sangat sunyi," demikian kata Robin.
Kopilot yang
berkewarganegaraan Jerman itu pun, menurut tim investigasi, pernah
mengalami depresi. Hal itu diketahui setelah tim investigasi memeriksa
catatan kesehatan kopilot Germanwings 4U9525.
Walau demikian,
pihak Lufthansa telah menegaskan bahwa kedua pilot yang mengawaki
Germanwings 4U9525 dinyatakn sehat dan memiliki kualifikasi untuk
menerbangkan A320.
Credit
KOMPAS.com