Jakarta (CB) - Dua bulan sudah operasi SAR
AirAsia Q78501 dilakukan sejak insiden jatuhnya pesawat pada Minggu
(28/12/2014) lalu itu. Basarnas bersama TNI dan tim gabungan lainnya
menuai kesuksesan dalam mengevakuasi korban dan serpihan-serpihan
pesawat jenis Airbus itu.
Perlu usaha maksimal yang dilakukan
dalam pengangkatan bagian-bagian penting mulai dari ekor hingga badan
pesawat. Suka duka pun dirasakan dan berujung pada keberhasilan Basarnas
dan tim gabungan. Ada pun serpihan besar yang pertama ditemukan dan
dievakuasi adalam bagian ekor pesawat.
Ekor pesawat QZ8501
ditemukan di perairan Laut Jawa dengan koordinat 03 36 31 S dan 109 41
66 T oleh Kapal GeoSurvey, Rabu (7/1). Bagian tersebut ditemukan setelah
4 kali penyelaman di hari ke-11 pencarian.
TNI AL pun lalu
mendatangkan lifting bag guna mengangkat ekor pesawat QZ8501 yang mampu
mengangkat objek seberat 110 ton dari dasar laut. Tim akhirnya bisa
mengangkat ekor dengan cara mengikat tali dan membawa flaoting bag
dengan 4 tabung udara. Proses pengangkatan ini disaksikan langsung oleh
Panglima TNI Jenderal Moeldoko dari KRI Banda Aceh. Akhirnya pada pulul
11.50 WIB, Sabtu (10/1), ekor pesawat berhasil terangkat.
Ekor
lantas ditarik dengan menggunakan crane dari Kapal Crest Onyx yang
berjarak sekitar 500 meter dari KRI Banda Aceh. Sebelum dibawa ke
Jakarta, ekor ditransitkan terlebih dahulu ke Pelabuhan Panglima Utar
Kumai pada Minggu (11/1) sore diantar oleh Kapal Crest Onyx. Ekor pun
lalu dipotong menjadi beberapa bagian.
Keberhasilan berikutnya
adalah penemuan Flight Data Recorder (FDR) yang berhasil dievakuasi tim
penyelam TNI pada Senin (12/1). FDR dijemput langsung oleh Panglima TNI
Jenderal Moeldoko dari KRI Banda Aceh padahal ia baru saja kembali ke
darat usai menginap selama 2 hari di KRI Banda Aceh untuk menyaksikan
proses pengangkatan ekor.
Bahkan Jenderal Bintang 4 itu
memberikan hadiah Rp 100 juta untuk penyelam TNI AL atas keberhasilan
mengangkat FDR. "Ini untuk vitamin penyelam, Rp 100 juta," ungkapnya di
KRI Banda Aceh usai mengungkapkan kebanggannya kepada para anak buahnya
yang berhasil mengevakuasi FDR
Moeldoko juga turut mengawal FDR itu bersama KNKT dari posko gabungan di
Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat, Kalteng ke Jakarta. Sehari
setelahnya, tim pun berhasil menemukan Cockpit Voice Recorder (CVR) dan
mengevakuasinya.
CVR berhasil dievakuasi pada Senin (13/1) oleh
tim penyelam TNI AL. Lokasinya di bawah gundukan serpihan yang di
dalamnya ada mesin pesawat. Koordinatnya berada di 03 derajat 27' 33" LS
dan 109 42' 71" BT dan dijemput oleh Lakda Widodo yang kini telah
menjadi Wakasal.
"Posisi dari yang ditemukan (serpihan pesawat)
tersebar dan berserakan. Berada 1,7 mil laut atau 3,4 km dari (letak
penemuan) ekor. Square cukup luas kurang lebih 6x6 mile. Psosi dari
letak penemuan FDR hampir sejauh 500 meter dengan kedalaman 32 meter,"
kata Laksda Widodo yang kala itu masih menjabat sebagai Pangarmabar di
Pangkalan Bun usai mengambil CVR yang berhasil dievakuasi, Senin (13/1).
Tak
sedikit kru SAR AirAsia yang cidera dalam operasi SAR ini. Ada 19
penyelam TNI AL yang mengalami Dekompresi. Dekompresi adalah
meningkatnya gelembung gas di dalam tubuh yang menyumbat aliran darah
dan sistem syaraf setelah menyelam.
Akibatnya akan timbul gejala
yang mirip sekali dengan stroke, di mana akan timbul gejala-gejala
seperti mati rasa, kelumpuhan, atau bahkan kehilangan kesadaran. 19
penyelam itu berasal dari unsur TNI AL yang harus dirawat di rumah sakit
selama satu hingga beberapa bulan ke depan tergantung tingkat
dekompresi yang dialami.
"Ada 19 penyelam yang mengalami
dekompresi. TNI sendiri juga sudah melakukan pemulihan kepada para
penyelam," ujar Kabasarnas Marsdya FHB Soelistyo, Rabu (28/1).
Kokpit
pesawat sendiri sebenarnya juga telah ditemukan sejak pertengahan
Januari lalu dan tertancap di lumpur. Dari kokpit tersebut, tim SAR
berhasil mengangkat pilot pesawat. Posisi mesin pesawat juga telah
terdeteksi, sayang akhirnya kedua serpihan ini tak diangkat dari dasar
laut
Terakhir, Basarnas bersama tim gabungan berhasil mengangkat fuselage
(bagian badan utama) pesawat AirAsia Q78501 di Selat Karimata. Fuselage
dengan satu sayap menempel ditemukan oleh Kapal RSS SWIFT milik
Singapura pada Rabu (14/1). Jarak ditemukannya berada 3.000 meter dari
lokasi penemuan ekor pesawat dan 800 meter dari lokasi FDR.
Evakuasi
pengangkatan badan pesawat dengan Kapal Crest Onyx dilakukan cukup
lama, berkali-kali upaya dilakukan gagal. Tim SAR sendiri menyiapkan 7
lifting bag untuk pengangkatan main body.
Pada upaya hari Minggu
(25/1), badan pesawat sempat terangkat dan ada beberapa jenazah yang
ikut terapung dalam proses itu, namun gagal. Pengangkatan menggunakan 1
lifting bag berukuran 10 ton. Total ada 14 jenazah yang diangkut dari
bodi pesawat ini.
Akhirnya pada Jumat (27/2), badan pesawat di
mana Basarnas hanya melibatkan penyelam swasta dan relawan tanpa bantuan
TNI, akhirnya terangkat. Saat ini badan pesawat yang dibawa dari Selat
Karimata menuju Pelabuhan Tanjung Priok oleh Kapal Crest Onyx sudah
diserahkan kepada pihak KNKT dari Basarnas.
"Proses penyerahan
main body merupakan rangkaian akhir. Skenario yang paling utama
mengevakuasi korban sebanyak-banyaknya, mencari blackbox dan terakhir
adalah pengangkatan body pesawat. Selain utk investigasi KNKT, juga
untuk meyakinkan bahwa kita telah berusaha maksimal mencari korban,"
ungkap Kabasarnas saat penyerahan main body di Pelabuhan Tanjung Priok,
Senin (2/3).
Dari main body ini, tim berhasil menemukan uang
belasan ribu dollar Singapura milik 3 korban dan akan dikembalikan pada
pihak keluarganya. Bahkan pada penyisiran terakhir di dermaga Pelabuhan
Tanjung Priok, Basarnas masih menemukan barang seperti iPhone dan
sandal. Ada 4 buah tulang belulang kecil yang juga ditemukan dalam
penyisiran itu.
Dari operasi SAR AirAsia, tim SAR gabungan
berhasil menemukan 103 korban dari 162 penumpang dan kru pesawat.
Sebanyak 93 sudah diidentifikasi. Basarnas akan menutup operasi pokok
SAR QZ8501 dalam waktu dekat, namun masih akan berusaha mencari 59
korban yang belum ketemu.
Meski begitu Kabarsanas hanya memberi waktu maksimal 2 minggu untuk
pencarian terakhir ini. Untuk itu, Soelistyo akan berkoordinasi dengan
pihak keluarga korban yang belum diketemukan untuk mengatur persolanan
waktunya.
"Maksimal 2 minggu, setelah itu semua finish. Semua
harus terima kenyataan, sehingga kita jadi pasti operasi dilaksanakan,
diakhiri, dievaluasi. Menjawab harapan keluarga, saya kasih peluang 1-2
minggu. Setelah itu saya harap keluarga korban terima kenyataan," tukas
Marsekal Bintang 3 itu.
Credit
Detiknews