Senin, 18 Maret 2019

Politisi Anti-Muslim Australia Dicecar atas Teror Selandia Baru



Politisi Anti-Muslim Australia Dicecar atas Teror Selandia Baru
Pemimpin Partai One Nation Australia, Pauline Hanson (kiri), dicecar penyiar televisi karena kebijakan anti-Muslim yang dinilai berkontribusi atas serangan teroris di Selandia Baru. Foto/Seven Network


CANBERRA - Pemimpin Partai One Nation Australia, Pauline Hanson, dicecar penyiar televisi karena kebijakan anti-Muslim-nya dianggap berkontribusi dalam serangan teroris di dua masjid di Selandia Baru. Hanson dianggap turut "memberdayakan" supremasi kulit putih.

Tuan rumah program Sunrise di Seven Network, David Koch, mencecar Hanson dalam wawancara yang berapi-api pada Senin (18/3/2019) pagi. Hanson merupakan salah satu senator federal Australia.

Koch menguliti kebijakan anti-Muslim Partai One Nation setelah serangan teroris di Christchurch pada hari Jumat menewaskan 50 orang. Tersangka teroris asal Australia, Brenton Tarrant, merilis manifesto setebal 74 halaman di media sosial sehari sebelum tragedi terjadi.


"Manifesto teroris ini hampir berbunyi seperti kebijakan imigrasi One Nation dan kebijakan Muslim. Apakah Anda merasa terlibat dengan kekejaman ini?," tanya Koch kepada Hanson.

Hanson pun menjawab pertanyaan kritis itu. "David, saya merasakan orang-orang itu dan saya merasakan keluarga-keluarga yang kehilangan nyawa. Sama di seberang jalan di sini ketika kami memiliki serangan teroris Lindt Cafe," ujarnya.

"Kami memiliki masalah tetapi Anda benar-benar harus mendiskusikannya dan memperdebatkan masalah tersebut. Mengapa kami memiliki serangan teroris di negara ini. Mengapa ini terjadi di seluruh dunia? Mengapa ini terjadi di banyak tempat?," lanjut politisi Australia tersebut.

Koch yang bersemangat kemudian mengklaim bahwa serangan teroris dilakukan oleh supremasi kulit putih sayap kanan."Yang digerakkan oleh komentar Anda (Hanson), oleh komentar anti-Muslim Anda," kata jurnalis tersebut.

"(Hal-hal seperti) 'mereka tidak pantas berada di sini', 'mereka akan mengambil alih negara kita'. Bisakah Anda memahami bagaimana hal itu memberdayakan seorang supremasi kulit putih... agar melihatnya sebagai seruan untuk (serangan) senjata?," tanya Koch.

Hanson kemudian mengalihkan fokus pertanyaan itu kepada apa yang terjadi di Inggris. 


“Orang-orang meninggalkan Inggris untuk datang ke sini karena mereka telah kehilangan negara mereka. Inggris bukan negara tempat mereka dibesarkan," kata Hanson.

"Belajarlah dari kesalahan negara lain untuk memastikan hal itu tidak terjadi di sini. Saya tidak tumbuh dengan terorisme ketika saya masih kecil. Mengapa ini terjadi sekarang?," ujarnya.

Jawaban itu lag-lagi dikritisi Koch. "Anda membuat pernyataan berani bahwa setiap Muslim mengerikan, setiap Muslim adalah ancaman karena mereka tidak terlihat seperti kita dan mereka tidak memiliki agama kita," balas Koch.

Ketika wawancara yang memanas berlanjut, Hanson menuduh Koch tidak tahu apa yang terjadi di pinggiran barat Sydney.

"Pergi ke Fairfield sekarang, pergi dan tanyakan pada orang-orang Kristen Lebanon apa yang terjadi pada negara mereka. Mereka akan memberi tahu Anda hal yang sama. Mereka takut hal yang sama akan terjadi di sini," katanya.

"Saya punya pusat pemuda di daerah-daerah itu dan tahu persis apa yang terjadi di sana," jawab Koch dengan nada jengkel.







Credit  sindonews.com