Rabu, 06 Februari 2019

Presiden Maduro Bersurat ke Paus Fransiskus, Minta Bantuan


Presiden Nicolas Maduro menyampaikan pidato di hadapan para marinir dan komando angkatan laut Venezuela, Ahad, 3 Februari 2019.[teleSUR]
Presiden Nicolas Maduro menyampaikan pidato di hadapan para marinir dan komando angkatan laut Venezuela, Ahad, 3 Februari 2019.[teleSUR]

CBAbu Dhabi – Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, menulis surat kepada Paus Fransiskus meminta dialog baru untuk membantu menyelesaikan krisis politik, yang sedang terjadi.


Sekretaris Vatikan, Kardinal Pietro Parolin, mengatakan ini saat di Abu Dhabi menemani Paus, yang sedang melakukan kunjungan tiga hari di Uni Emirat Arab.
“Maduro mengatakan telah mengirim surat berisi permintaan tolong dalam proses memfasilitasi dan menguatkan proses dialog,” begitu dilansir Reuters pada Senin, 4 Februari 2019 mengutip rilis yang dipublikasikan televisi Sky TG24.

Dalam wawancara televisi itu, Times of Malta melansir Maduro menulis kepada Paus bahwa dia melayani tujuan Kristus. “Dalam semangat ini saya meminta bantuannya untuk proses memfasilitasi dan menguatkan dialog,” kata Maduro dalam wawancara televisi itu.


Pemimpin sosialis berusia 58 tahun itu juga mengatakan saya meminta kepada Paus untuk mengupayakan yang terbaik. “Mengupayakan jalur dialog. Saya berharap mendapat respon yang positif,” kata pengganti Presiden Hugo Chavez ini.
Maduro mengatakan mendukung rencana pertemuan dengan sejumlah negara Amerika Latin dan Uni Eropa, yang tergabung dalam Contact Group, untuk pembicaraan di Montevideo pada Kamis pekan ini.


Nicolas Maduro, yang baru saja dilantik sebagai Presiden Venezuela untuk masa jabatan kedua selama enam tahun, mendapat desakan mundur dari pemimpin oposisi Juan Guaido. Guaido mendapat dukungan sejumlah negara Amerika Latin seperti Argentina dan Brasil. Sejumlah negara Barat juga ikut mendukung seperti Amerika Serikat, Inggris, Prancis dan Jerman.



Sebaliknya, Maduro masih mendapat dukungan dari Rusia, Cina, Turki dan Italia. Angkatan bersenjata dan polisi Venezuela juga masih mendukung bekas menteri luar negeri ini.

 
Venezuela mengalami krisis ekonomi sejak 2016 sebelum merebak menjadi krisis politik saat ini. Sekitar tiga juta warganya pindah ke negara tetangga karena kesulitan makan, obat-obatan dan lapangan pekerjaan. Harga-harga melambung karena Venezuela mengalami hiperinflasi dalam kepemimpinan Maduro.





Credit  tempo.co