
WASHINGTON
- Kapal perang Amerika Serikat (AS) melakukan "latihan manuver" saat
berlayar dalam jarak 12 mil laut dari sebuah pulau buatan yang dibangun
oleh China di Laut Cina Selatan. Pejabat AS mengatakan hal itu dilakukan
untuk menunjukkan bahwa Beijing tidak berhak atas laut teritorial di
sekitarnya.
"USS Dewey terlibat dalam operasi normal dengan melakukan latihan manuver di dalam 12 mil laut di Mischief Reef," kata seorang pejabat, yang tidak bersedia disebut namanya.
"Tindakan kapal tersebut menunjukkan bahwa Mischief Reef tidak berhak atas laut teritorialnya sendiri terlepas dari apakah pulau buatan telah dibangun di atasnya," jelasnya lagi seperti dikutip dari Reuters, Jumat (26/5/2017).
Sementara juru bicara Pentagon, Komandan Gary Ross mengatakan, kebebasan operasi navigasi tidak spesifik untuk satu negara dan Departemen Pertahanan akan merilis ringkasan operasi ini dalam sebuah laporan tahunan.
"Kami melanjutkan FONOPS reguler, seperti yang telah kami lakukan secara rutin di masa lalu dan akan terus berlanjut di masa depan," kata Ross, menggunakan akronim untuk operasi kebebasan navigasi.
Namun, Pentagon belum mengkonfirmasi operasi terbaru.
China mengklaim hampir seluruh Laut Cina Selatan dan Washington telah mengkritik pembangunan pulau dan pembangunan fasilitas militer di sana. AS khawatir China akan menggunakan pulau-pulau buatan untuk membatasi kebebasan di laut dan memperluas jangkauan strategis Beijing.
Pemerintahan AS dibawah Presiden Donald Trump bersumpah untuk melakukan operasi Laut China Selatan yang lebih tegas. Presiden AS sebelumnya, Barack Obama, menuai kritik karena berpotensi memperkuat klaim China.
Meski begitu, ini adalah operasi kebebasan navigasi pertama sejak Oktoberlalu dan sejak Trump mulai menjabat pada bulan Januari. Operasi ini berlangsung jelang kunjungan Menteri Pertahanan AS, Jim Mattis, ke Singapura minggu depan untuk membahas keamanan dengan mitra regionalnya.
Beijing mengatakan dua kapal perang rudal berpemandu China telah memperingatkan kapal AS untuk meninggalkan perairan dan bahwa mereka telah mengajukan "representasi yang tegas" dengan AS.
Klaim China di Laut Cina Selatan, yang mempunyai nilai pemasukan sekitar USD5 triliun setahun dari kapal perdagangan yag melaluinya, mendapat tantangan dari Brunei, Malaysia, Filipina, Taiwan dan Vietnam.
"USS Dewey terlibat dalam operasi normal dengan melakukan latihan manuver di dalam 12 mil laut di Mischief Reef," kata seorang pejabat, yang tidak bersedia disebut namanya.
"Tindakan kapal tersebut menunjukkan bahwa Mischief Reef tidak berhak atas laut teritorialnya sendiri terlepas dari apakah pulau buatan telah dibangun di atasnya," jelasnya lagi seperti dikutip dari Reuters, Jumat (26/5/2017).
Sementara juru bicara Pentagon, Komandan Gary Ross mengatakan, kebebasan operasi navigasi tidak spesifik untuk satu negara dan Departemen Pertahanan akan merilis ringkasan operasi ini dalam sebuah laporan tahunan.
"Kami melanjutkan FONOPS reguler, seperti yang telah kami lakukan secara rutin di masa lalu dan akan terus berlanjut di masa depan," kata Ross, menggunakan akronim untuk operasi kebebasan navigasi.
Namun, Pentagon belum mengkonfirmasi operasi terbaru.
China mengklaim hampir seluruh Laut Cina Selatan dan Washington telah mengkritik pembangunan pulau dan pembangunan fasilitas militer di sana. AS khawatir China akan menggunakan pulau-pulau buatan untuk membatasi kebebasan di laut dan memperluas jangkauan strategis Beijing.
Pemerintahan AS dibawah Presiden Donald Trump bersumpah untuk melakukan operasi Laut China Selatan yang lebih tegas. Presiden AS sebelumnya, Barack Obama, menuai kritik karena berpotensi memperkuat klaim China.
Meski begitu, ini adalah operasi kebebasan navigasi pertama sejak Oktoberlalu dan sejak Trump mulai menjabat pada bulan Januari. Operasi ini berlangsung jelang kunjungan Menteri Pertahanan AS, Jim Mattis, ke Singapura minggu depan untuk membahas keamanan dengan mitra regionalnya.
Beijing mengatakan dua kapal perang rudal berpemandu China telah memperingatkan kapal AS untuk meninggalkan perairan dan bahwa mereka telah mengajukan "representasi yang tegas" dengan AS.
Klaim China di Laut Cina Selatan, yang mempunyai nilai pemasukan sekitar USD5 triliun setahun dari kapal perdagangan yag melaluinya, mendapat tantangan dari Brunei, Malaysia, Filipina, Taiwan dan Vietnam.
Credit sindonews.com


Dengan berlakunya status militer,
presiden berwenang mengerahkan angkatan bersenjata ke daerah sipil,
memicu kekhawatiran pelanggaran HAM yang semakin mudah. (Foto:
Reuters/Stringer)

Kemajuan program rudal pemerintah Kim
Jong-un membuat intelijen Amerika Serikat khawatir masuk dalam daftar
sasaran. (KCNA/via Reuters)
Korea Utara meluncurkan rudal balistik
berjenis Pukguksong-2 yang memiliki jangkauan jarak 500 kilometer, pada
Minggu (21/5). (KCNA/via REUTERS)
Misil Hwasong-12 milik Korea Utara yang disinyalir merupakan prototipe rudal antar benua atau ICBM. (Foto: KCNA via REUTERS)
Tentara Korea Selatan memperketat
penjagaan di Zona Demiliterisasi usai adanya benda asing diduga drone
mata-mata yang memasuki kawasan Korea Selatan. (REUTERS/Kim Hong-Ji)
Kapal Indonesia bentrok dengan kapal
Vietnam di Natuna dan berakhir dengan tenggelamnya salah satu kapal
milik Vietnam, namun insiden tersebut akan diselesaikan melalui jalur
diplomatik. (ANTARA/Embong Salampessy)




