Aksi protes atas pembunuhan seorang pria
Jerman oleh tersangka imigran di kota Chemnitz ditunggangi neo-Nazi dan
berakhir rusuh. (Reuters/Hannibal Hanschke)
Jakarta, CB -- Kesepakatan damai di kubu konservatif Kanselir Jerman Angela Merkel berantakan setelah menteri dalam negeri Jerman membela aksi protes yang diwarnai dengan kekerasan neo-Nazi dan dia menyatakan imigran sebagai "induk dari semua masalah politik".
Serangan
dari dalam kubu Merkel ini terjadi hanya dua bulan setelah menteri
dalam negeri Horst Seehofer mengancam untuk membubarkan koalisi
pemerintahan Merkel akibat masalah perbatasan.
Masa-masa tenang
selama masa liburan baru-baru ini pecah pada akhir Agustus ketika pria
Jerman berusia 35 tahun tewas ditusuk di kota Chemnitz.
Tiga pencari suaka, dua asal Irak dan satu dari Suriah, menjadi tersangka pelaku pembunuhan ini.
Kelompok-kelompok
ekstrim kanan dan ribuan warga setempat turun ke jalan selama
berhari-hari setelah pembunuhan itu. Mereka pun memberi penghormatan
Nazi dan sejumlah orang berwajah asing menjadi korban serangan.
Sebagai menteri dalam negeri, Seehofer didesak untuk mengecam aksi pengunjuk rasa yang juga menyerang wartawan dan polisi.
Dia
tidak melakukannya hingga wawancara hari Kamis (6/9), ketika dia dengan
keras membela para pengunjuk rasa meski mengkritik gangguan pada
perdamaian.
"Ada pergolakan dan kemarahan masyarakat atas
pembunuhan itu yang bisa saya mengerti," ujar Seehofer kepada harian
Rheinische Post.
"Jika saya bukan menteri, saya juga akan turun ke jalan sebagai warga negara, tentu saja dengan kelompok radikal."
Seehofer
menegaskan dia "tidak mentolerir pihak yang memanfaatkan situasi ini
dengan menyerukan kekerasan atau melakukan kekerasan, termasuk kepada
polisi."
"Ini benar-benar tidak bisa diterima, tidak ada zona abu-abu di sini," ujarnya.
Namun
Seehofer yang merupakan pengkritik utama kebijakan liberal Merkel
terhadap pengungsi dalam koalisi pemerintah, mengemukakan simpati dengan
kemarahan yang membakar para pengunjuk rasa itu.
"Masalah
imigrasi adalah induk dari seluruh masalah politik di negara ini. Saya
sudah mengatakan hal itu selama tiga tahun," sejak Merkel membuka
perbatasan Jerman kepada lebih dari satu juta pencari suaka sementara
negara Uni Eropa lain telah menutup wilayah mereka.
Pernyataan
ini sejalan dengan Menteri Dalam Negeri Italia Matteo Salvini bahwa
Merkel "menganggap enteng" masalah yang bisa ditimbulkan oleh imigrasi
masal.
Partai Seehofer, Serikat Sosial Kristen (CSU), akan
mengikuti pemilihan umum di negara bagian Bavaria bulan depan. Pemilu
ini diperkirakan akan berlangsung ketat.
Menteri
dalam negeri Jerman menyebut imigran merupakan induk dari seluruh
masalah politik yang terjadi di negara itu. (Reuters/Hannibal Hanschke)
|
CSU berjuang untuk mengatasi tantangan kuat dari partai ekstrim kanan
AfD dan mempertahankan mayoritas absolut sehingga Seehofer pun membuat
pernyataan yang bertolak belakang dengan pandangan Merkel soal insiden
di Chemnitz.
Seehofer dikutip oleh media Jerman pada Rabu (5/9)
malam bahwa pemerintah Merkel terlalu cepat mengkritik aksi protes itu
dan dia berniat menunggu "Informasi otentik" sebelum membuat pernyataan.
Pada Rabu itu juga, dalam pidato di parlemen daerah menteri
utama negara bagian Saxony Michael Kretschmer menyangkal kaum ekstrimis
berbuat semena-mena di Chemnitz.
"Tidak ada gerombolan, tidak
ada aksi mencari warga asing dan tidak ada pembunuhan berencana,"
ujarnya yang membuat dia dituduh mengecilkan permasalahan ekstrim kanan
di daerahnya.
Merkel berulang kali menyatakan rasa terkejutnya
atas situasi kacau di kota itu yang terekam kamera video dan diceritakan
oleh sejumlah korban kepada media.
Dia mengaskan bahwa, "gambar
yang saya lihat dengan jelas memperlihatkan aksi pengejaran dan
persekusi berlatar belakang kebencian terhadap warga tak bersalah."
Masalah
imigrasi menyebabkan perpecahan di seluruh wilayah Jerman dan
memperlemah posisi Merkel yang telah 13 tahun memimpin Jerman.
Banyak pengamat mengatakan masa jabatan keempatnya sekarang akan menjadi yang terakhir.
Meski
pendatang baru jauh lebih kecil dari periode 2015-2016, Merkel terpaksa
membuat konsesi besar untuk Seehofer pada Juli lalu untuk mengatasi
pemberontakannya. Konsesi itu adalah membuat kesepakatan bilateral
dengan negara anggota Uni Eropa untuk menerima kembali pencari suaka
yang datang ke Jerman belakangan.
Meski posisi lawan Merkel
diperkuat dengan serangkaian kejahatan yang dituduh dilakukan oleh
imigran, kubu pembela kebijakan imigrasi kanselir ini pun terus menguat.
Sekitar 65 ribu orang menghadiri konser musik rok anti-rasisme
di Chemnitz pada Senin (3/9) dan acara itu berlangsung tanpa insiden.
Pada
Rabu malam sekitar 10 ribu pengunjuk rasa turun ke jalanan di Hamburg
untuk melawan aksi protes "Merkel harus mundur" yang hanya diikuti oleh
150 orang.
Credit
cnnindonesia.com