Presiden AS Barack Obama sedang membaca
CB, WASHINGTON -- Presiden Amerika Serikat
Barack Obama memperingatkan Undang-Undang baru Justice Against Sponsors
of Terrorism (JASTA) adalah sebuah kesalahan, Kamis (29/8). Ia
mengatakan UU tersebut akan membawa bahaya yang belum pernah ada
sebelumnya bagi AS.
"Ini menjadi bahaya yang belum pernah ada
sebelumnya, dan ini adalah contoh kenapa kita harus melakukan sesuatu
yang sulit," kata Obama pada CNN.
Undang-Undang ini memberikan peluang cukup lebar bagi keluarga korban
aksi teror, termasuk serangan WTC untuk melakukan gugatan kepada
kelompok atau negara sponsor. Sejumlah pihak di AS meyakini Saudi
merupakan sponsor dari serangan tersebut.
Obama mengatakan, hanya bisa menyatakan simpati bagi keluarga korban
9/11. Ia hanya tidak ingin tiba-tiba AS sendiri jadi sasaran UU
tersebut.
Presiden mengatakan UU tersebut bisa membuat orang di seluruh dunia
juga menuntut pemerintah AS. Direktur CIA, John Brennan sepakat dan
mengatakan UU tersebut akan membawa implikasi mengerikan pada keamanan
nasional AS.
"Potensi kerugiannya sangat besar," kata Brennan dikutip
BBC.
Senat dan Kongres mengatakan pengesahan UU dilakukan demi keluarga
korban 9/11. Senator New York dari Demokrat, Chuck Schumer mengatakan
Gedung Putih dan para eksekutif hanya peduli pada hubungan diplomatik.
Keluarga korban dan pengacara juga mengenyampingkan kekhawatiran
Obama. Ketua 9/11 Families & Survivors United for Justice Against
Terrorism, Terry Strada menyambut bahagia putusan Senat dan Kongres.
"Kami
menunggu saat-saat berada di pengadilan dan mendapat jawaban siapa
sebenarnya yang berada di balik serangan itu," kata Strada. JASTA baru
saja disahkan oleh Senat dan Kongres pada Rabu. Veto Obama tak kandas di
tangan Kongres.
Credit
REPUBLIKA.CO.ID
Gedung Putih: Ini Hal Paling Memalukan Dilakukan Senat
CB, WASHINGTON -- Kongres Amerika Serikat
menolak veto Presiden Barack Obama. Kongres tetap mengesahkan
undang-undang yang memberikan kewenangan bagi keluarga korban teroris
9/11 untuk menuntut Arab Saudi yang dituding menjadi sponsor serangan
teroris tersebut.
Juru Bicara Gedung Putih Josh Earnest sangat
kecewa dengan Kongres Amerika. Ia mengatakan, "Ini merupakan hal yang
paling memalukan yang dilakukan oleh Senat Amerika sejak tahun 1983,"
katanya seperti dilansir
Haaretz, Rabu, (28/9).
Situasi
politik saat ini, ujar Earnest, sangat menegangkan. "Saya kira upaya
Presiden Obama melakukan veto terhadap pengesahan undang-undang tersebut
hanya mengikuti prinsip-prinsip sebagai seorang kepala negara. Saya
yakin sekali presiden tidak buta dengan kondisi dan situasi politik saat
ini."
Seperti dilansir
USA Today, keluarga korban
teroris 9/11 terus melakukan lobi-lobi kepada Kongres agar undang-undang
yang bisa digunakan untuk menuntut Arab Saudi disahkan.
Namun undang-undang ini tak hanya bisa digunakan untuk menuntut
sekutu Amerika terkuat di Timur Tengah tersebut namun juga bisa
dikenakan terhadap sekutu-sekutu Amerika yang lain.
Menurut
Earnest, undang-undang ini akan membuat negara-negara lain membalas
dendam kepada Amerika. Mereka akan membuat undang-undang yang sama untuk
menuntut Amerika jika mereka menuding Amerika mensponsori suatu
kegiatan terorisme.
"Saya kira tak ada negara yang lebih kalah
daripada Amerika dalam hal ini. Undang-undang ini hanya akan mengganggu
peran Amerika dalam urusan internasional," ujarnya.
Credit
REPUBLIKA.CO.ID