Mendiang Presiden Vietnam Tran Dai Quang. (REUTERS/Jorge Silva)
Jakarta, CB -- Pemerintah Vietnam
mengumumkan akan mengadakan upacara pemakaman dan menetapkan hari
berkabung nasional selama dua hari atas kepergian mendiang Presiden Tran
Dai Quang yang meninggal pada Jumat (21/9) di usia 61 tahun.
Bendera
Vietnam akan dikibarkan setengah tiang dan lokasi bisnis hiburan akan
libur selama dua hari per 26 September. Pada tanggal tersebut, jenazah
Quang akan disemayamkan di Hanoi sebelum dikremasi di kampung halamannya
di Provinsi Ninh Binh.
"Kepergiannya adalah kehilangan terbesar
bagi partai kami, negara, dan bangsa," kata pernyataan Partai Komunis
Vietnam pada Minggu (23/9). Dalam pernyataan tersebut, partai itu juga
menyebut prosesi pemakaman akan disiarkan secara langsung.
Berbagai
ungkapan duka berdatangan dari para pemimpin dunia lintas geopolitik,
beberapa di antaranya Pemerintah Kuba menyatakan akan menetapkan hari
berkabung dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut mendiang
sebagai "teman baik bagi AS".
Pemimpin Kamboja dan China juga mengirimkan ungkapan bela sungkawa
meskipun selama masa kepemimpinan Quang sejak 2016, negaranya dengan
China kerap bersitegang terkait batas negara di Laut China Selatan.
Penyebab
kematian Quang sendiri disebut sejumlah media lokal sebagai "virus
langka" meski pemerintah tidak menyatakan secara detail terkait kabar
tersebut.
Wakil Presiden Dang Thi Ngoc Thinh akan mengambil alih
posisi kepala negara yang sekaligus menjadi wanita pertama dalam posisi
tersebut di Vietnam. Namun Thinh harus menunggu terlebih dahulu
keputusan dewan hingga tanggal yang belum bisa ditentukan.
Quang
merupakan mantan kepala polisi dan pendukung kuat partai komunis. Dia
menghabiskan lebih dari empat dekade sebagai pejabat intelijen.
Ia
juga adalah anggota politbiro (bagian dari partai komunis yang mengurus
dan memutuskan masalah politik) dan memiliki reputasi yang kuat serta
berpengaruh di lingkaran dalam partai komunis.
Meski begitu, sejumlah analis menyatakan kematiannya tidak akan
mengguncang kondisi politik negara satu partai itu dan sejumlah kelompok
pembela hak asasi manusia mengatakan warisan Quang hanyalah penindasan.
Tapi beberapa kota di kampung halaman sang mendiang menyatakan akan mengenang Quang dengan mendalam.
Biksu
Thich Minh Tong di pagoda Dong Duc, distrik Ninh Binh mengatakan pada
Minggu (23/9) bahwa sosok Quang sempat datang dan "ramah kepada siapa
pun".
"Negara telah memiliki banyak presiden di masa lalu, namun
hanya Presiden Quang dari provinsi kami, Ninh Binh. Dan ketika dia
bertemu dengan semua biksu, dia menyalami mereka semua," kata Tong.
"Ketika kami mendengar berita dirinya meninggal, semua orang sedih. Kami berduka dan merindukannya," lanjutnya.
Sejumlah
umat Budha telah mengadakan upacara doa sepanjang akhir pekan, termasuk
mengadakan pertemuan ratusan biksu yang membungkuk di hadapan potret
Quang di pagoda Ho Chi Minh City, Minggu (23/9).
Credit
cnnindonesia.com