Senin, 10 Desember 2018

Merkel Pimpin Daftar Wanita Paling Berpengaruh


Merkel Pimpin Daftar Wanita Paling Berpengaruh
Merkel Pimpin Daftar Wanita Paling Berpengaruh. (Reuters).

NEW YORK - Kanselir Jerman Angela Merkel menempati peringkat puncak dalam daftar Wanita Paling Berpengaruh di Dunia versi majalah Forbes. Majalah tersebut juga menetapkan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menjadi satu-satunya wanita asal Indonesia yang masuk daftar tersebut.

Dari daftar resmi yang dirilis Forbes pekan lalu, musisi Amerika Serikat (AS) Taylor Swift, 27 tahun, menjadi wanita termuda yang paling berpengaruh. Sementara Ratu Inggris Elizabeth II, 92 tahun, menjadi wanita tertua dalam daftar tersebut.

Forbes memberikan apresiasi kepada para wanita lintas profesi dalam daftar tersebut.  Para perempuan yang diberi anugerah tersebut dianggap berkontribusi dalam setiap sendi-sendi kehidupan dengan berbagai latar belakang.

Khusus Sri Mulyani, menurut Forbes,  wanita berusia 56 tahun itu dianggap memiliki pengaruh yang besar bagi dunia. Dia masuk di peringkat 78 dalam daftar itu.  Ini diperoleh pasca Sri Mulyani kembali menjadi menkeu setelah menjabat managing director di Bank Dunia.

“Sebagai menteri keuangan, dia meningkatkan pendapatan negara melalui reformasi pajak yang akan memperluas layanan pajak elektronik dan mendorong kepatuhan wajib pajak,” ungkap laporan Forbes dikutip kemarin.

Tahun ini, Sri Mulyani juga menerima penghargaan prestisius sebagai Menteri Terbaik dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Pemerintahan Dunia atas upayanya menerapkan reformasi.

“Saat di Bank Dunia, dia menggunakan perannya untuk mempromosikan kesetaraan gender,” papar Forbes.


Sri Mulyani pernah menjadi menkeu pada periode 2005 hingga 2010 dan dianggap membantu transisi Indonesia dari otokrasi menuju demokrasi.  Kiprah itu menjadi salah satu alasan Forbes memasukkannya dalam daftar kali ini.

Daftar ini disusun Forbes untuk menunjukkan terus terjadinya perubahan di sektor bisnis, teknologi, hiburan, filantropi dan politik.

“Daftar ini merayakan sejumlah ikon, inovator, dan pendorong yang menggunakan suara mereka untuk mengubah struktur kekuasaan dan menciptakan dampak jangka panjang,” ungkap Forbes.  Pada daftar ini, ada 20 nama pendatang baru. Adapun Kanselir Jerman Angela Merkel kembali berada di peringkat puncak untuk yang kedelapan kalinya.

Forbes menyebutkan, meski masa depan Merkel tetap belum pasti dan tidak maju lagi dalam pemilu 2021, peran besarnya sebagai ketua Partai Persatuan Demokratik Kristiani (CDU) sejak 2000 dan sebagai kanselir Jerman sejak 2005 tak dapat diragukan lagi.  

“Merkel tatap pemimpin de facto Eropa, memimpin ekonomi terbesar di kawasan itu setelah membawa Jerman melalui krisis keuangan dan kembali ke pertumbuhan,” papar Forbes.

Kepemimpinan Merkel diwarnai perselisihan dengan Presiden AS Donald Trump hingga mengizinkan lebih dari satu juta pengungsi Suriah masuk ke Jerman. “Sekarang, dia memimpin pemerintahan koalisi yang tidak populer bagi pemilih, terus menghadapi badai dari Brexit dan tumbuhnya sentimen anti-imigran di Eropa,” ungkap Forbes.

Di peringkat kedua daftar wanita paling berpengaruh, ditempati Perdana Menteri (PM) Inggris Theresa May yang selama dua tahun terakhir menjadi berita utama dalam upayanya menyelamatkan negosiasi dengan Uni Eropa (UE) terkait upaya Inggris keluar dari UE (Brexit).

“Dia menyeimbangkan berbagai tujuan Inggris membuat kesepakatan perdagangan bebas dengan pihak di luar UE dan isu perbatasan darat dengan Irlandia dapat memundurkan langkah untuk menciptakan perdamaian,” ungkap Forbes.

May terus berjuang untuk menyatukan Inggris di tengah proses Brexit yang menciptakan perpecahan di negara itu.

Sementara itu, Managing Director Dana Moneter Internasional (IMF) Christine Lagarde berada di peringkat ketiga. Lagarde naik peringkat sejak daftar tahun lalu saat dia berada di posisi kedelapan.

Lagarde dianggap berpengaruh karena telah memimpin IMF sejak 2011, memberi pandangan dan panduan keuangan untuk 189 negara anggotanya termasuk China, Rusia dan Inggris.

“Selama kepemimpinannya, IMF melalui krisis utang zona euro, mengelola berbagai risiko pasar negara berkembang serta ancaman perang dagang AS dengan China,” papar Forbes.

Di urutan berikutnya, CEO General Motors (GM) Mary Barra menempati peringkat empat dalam daftar itu. Barra dianggap melakukan perubahan dengan berinvestasi miliaran dolar untuk kendaraan listrik, mobil self driving dan layanan ride-share yang disebut Maven untuk menjamin masa depan perusahaan automotif raksasa AS itu.

Pada November, sebagai bagian rencana restrukturisasi membuat perusahaan itu lebih menguntungkan, Barra mengumumkan pemecatan 14.000 pegawai di Amerika Utara. Meski langkah itu mengejutkan dan membuat marah Presiden Trump, saham perusahaan naik 5%. Dengan pendapatan USD22 juta pada 2017, Barra menerima bayaran tertinggi dibandingkan CEO lain sebelumnya.

GM juga menempati ranking pertama dalam Laporan Global untuk Kesetaraan Gender 2018. GM menjadi satu dari dua bisnis global yang tidak memiliki perbedaan gaji terkait gender.

Di urutan kelima, terdapat nama CEO Fidelity Investments Abigail Johnson.  Fidelity Investments merupakan perusahaan yang didirikan kakek dari Johnson. Dia menjadi chairman pada 2016.

“Dia memiliki sekitar 24,5% saham perusahaan yang mengelola aset sebesar USD2,5 triliun. Johnson tidak takut mengubah berbagai hal di perusahaan berusia 72 tahun itu, beralih dari kerugian untuk fokus pada solusi baru,” ungkap Forbes.

Mereka yang turut masuk dalam daftar 10 besar adalah Co-chair Bill and Melinda Gates Foundation Melinda Gates, CEO YouTube Susan Wojcicki, Chair dan Executive Director Banco Santander Ana Patricia Botín, CEO Lockheed Martin Marillyn Hewson, dan CEO IBM Ginni Rometty.

Melinda Gates mempertahankan posisinya sebagai wanita paling berpengaruh dalam filantropi di yayasan itu.


Credit  sindonews.com