![Pelatihan gunung: Anggota Pasukan Khusus Korea Selatan berski menuruni gunung saat melakukan latih tubi musim dingin di Pyeongchang pada 8 Januari. [AFP]](https://lh3.googleusercontent.com/blogger_img_proxy/AEn0k_tGFYOgCuUsE2Svlwt18oGO_g3LPAAjCeQV_7xmCaJI-mLCh8wZ0cH6sjS6WOYrTkTOtHmpBP4vVE3fAtY6w8h64nqHpSthFo86T63hBJKnFkhXP1iVEwxXADiD5UWFFUGTKAoe7pnEtwyzOAs=s0-d)
Pelatihan
gunung: Anggota Pasukan Khusus Korea Selatan berski menuruni gunung
saat melakukan latih tubi musim dingin di Pyeongchang pada 8 Januari.
[AFP]
Ancaman liar pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, soal kehancuran
nuklir dan program senjata nuklir dan rudal yang masih berjalan memaksa Korea Selatan
untuk segera memperluas kesiapan pertahanannya. Pemerintahan Presiden
Park Geun-hye menaikkan pembelanjaan pertahanannya hampir 5 persen pada
tahun 2015 hingga USD 33,6 miliar.
Angka baru itu lebih dari tiga kali lipat dari anggaran pertahanan
tahun 2000. Prioritas pembelanjaan akan dipakai untuk sensor-sensor baru
untuk mendeteksi kapal selam bersama dengan lebih banyak sistem
antirudal. Anggaran itu menambahkan pelatihan untuk pegawai pertahanan
sipil dan mereka yang ditugaskan menangani komando Korea Utara yang
mencapai jauh ke selatan dari perbatasan Korea Utara.
Charles W. Freeman, Jr., co-chairman Yayasan
Kebijakan A.S.-Tiongkok, berkata kepada Asia Pacific Defense Forum
[APDF] bahwa naiknya pembelanjaan mencerminkan naiknya ketegangan antara
Pyongyang dengan Seoul dan kecenderungan lain di kawasan.
“Pada tahun 2012, untuk pertama kalinya, negara-negara Indo-Pasifik berbelanja lebih banyak untuk angkatan bersenjata
mereka daripada negara-negara Eropa. Terkecuali Jepang sejauh ini, para
kekuatan besar di sana menaikkan anggaran pertahanan mereka pada taraf
dua digit untuk mengimbangi ancaman di dalam kawasan mereka – dari satu
sama lain,” kata Freeman.
Anggaran pertahanan 2015 Korea Selatan meminta kenaikan 4,9 persen
dari 2014 guna memperbaiki kesejahteraan orang-orang yang bertugas dan
meningkatkan kemampuan tempur mereka, kata Kementerian Pertahanan pada 3
Desember, dilaporkan kantor berita resmi Korea Selatan, Yonhap.
Pembelanjaan pertahanan ditetapkan sebesar 37,4 triliun won [USD 33,6
miliar], meliputi sekitar 9,9 persen dari anggaran total nasional
sebesar 375,4 triliun won [USD 340 miliar]. Kementerian meminta kenaikan
5,2 persen, kata Yonhap.
Dua pertiga dari anggaran pertahanan dialokasikan untuk personel,
dilaporkan Defense-Update.com. Sisa sepertiganya dicadangkan untuk
meningkatkan kemampuan pertahanan.
Anggaran tingkatkan fokus tempur
“Termasuk dalam inisiatifnya adalah merenovasi barak militer dan
privatisasi fungsi pemeliharaan dan pendukung, memungkinkan unit tempur
berfokus pada peran utama militernya,” kata situs web tersebut.
“Militer juga berencana membelanjakan 1,2 miliar won [USD 1 juta]
untuk pengiriman ponsel ke unit-unit guna membantu para prajurit lebih
mudah brrkomunikasi dengan keluarga dan teman,” kata laporan itu.
“Salah satu inisiatif utama yang tercakup dalam anggaran 2015 adalah membangun sistem pertahanan udara bumiputera – Pertahanan Udara dan Rudal Korea [PURK],” kata Defense-Update.com.
“Meskipun anggaran 2015 yang disetujui kurang 151,8 miliar won [USD
138 juta] dari yang diminta Kementerian Pertahanan, tidak satu proyek
pun yang direncanakan untuk tahun depan akan terdampak oleh anggaran
yang terpotong tersebut,” kata pejabat Administrasi Program Perolehan
Pertahanan Korea Selatan kepada Yonhap.
Pertumbuhan besar dalam pembelanjaan pertahanan sebagiannya “karena
ekonomi Korea Selatan yang terus berkembang tetapi juga akibat ancaman
dari Korea Utara yang terus dan semakin kasar, serta keagresifan
Tiongkok yang meningkat,” dilaporkan situs web StrategyPage.com pada 23
Desember. “Selain itu, ada tekanan populer di Korea Selatan untuk
melenyapkan wajib militer dan menjadi pasukan sukarelawan seluruhnya.
Semua ini mahal biaya.
Tindakan 2010 paksa perubahan fokus
“Korea Utara
menjadi lebih kasar pada tahun 2010 dan 2011, menyebabkan Korea Selatan
menghentikan proyek-proyek yang dirancang untuk membuat AL-nya kekuatan
lautan lepas, begitu pula upaya AU untuk memperoleh kemampuan pengisian
ulang di udara dan kemampuan lainnya yang memungkinkan untuk operasi
jarak sangat jauh,” kata StrategyPage.com.
ROKS Cheonan tenggelam di dekat Pulau Baengnyeong pada 26 Maret 2010,
menewaskan 46 dari 104 personel di dalamnya. Hampir dua bulan kemudian,
penyelidikan yang dipimpin Korea Selatan menyimpulkan bahwa sebuah
torpedo yang ditembakkan dari kapal selam kerdil Korea Utara-lah yang
bertanggung jawab atas penenggelaman tersebut.
Korea Utara menyanggah tanggung jawab tersebut. Tiongkok menganggap
kesimpulan tersebut tidak kredibel dan Dewan Keamanan PBB mengecam
serangan tersebut tanpa menyebut si penyerang.
“Meski dengan semua teknologi [yang dimilikinya], dibutuhkan AL dua
hari untuk mengirim kapal pencari ke lokasi penenggelaman. Sementara
itu, sebuah kapal nelayan menemukan puing-puingnya di bawah, menggunakan
sonar pencari ikan,” dilaporkan StrategyPage.com.
Menyusul tenggelamnya Cheonan, Korea Selatan mundur dari aspirasi
laut lepasnya dan berfokus pada pembelian helikopter anti kapal selam
dan penyapu ranjau guna menghadapi potensi ancaman dari Korea Utara.
Insiden itu juga menyingkap kekurangan di dalam angkatan bersenjata Korea Selatan, singgung StrategyPage.com.
Sebuah rencana pengorganisasian ulang dan modernisasi “termasuk
mengecilkan ukuran angkatan bersenjata. Pada tahun 2008 rencananya
adalah mengurangi kekuatan pasukan sebesar 26 persen [dari 680.000
menjadi 500.000] hingga 2020. Pada tahun 2010 rencana itu direvisi untuk
diselesaikan pada tahun 2012,” kata laporan tersebut.
Salah satu masalah terbesar yang dihadapi program modernisasi militer
Korea Selatan adalah mutu para perwiranya, kata situs web tersebut.
“Ini masalah lain yang tersembunyi terlalu lama, dan masih banyak
diabaikan. Begitu pula preferensi Korea Utara untuk mencoba peruntungan
dan menggunakan kekacauan mematikan guna mencetak angka politik.
Kekerasan Korea Utara memaksa Korea Selatan untuk memperhatikan masalah
ini.”
Analis keuangan Martin Hutchinson, seorang ahli tentang kekuatan
ekonomi berkembang dan penulis di situs web PrudentBear.com, berkata
kepada APDF bahwa Pemerintah Korea Selatan tidak memiliki pilihan
kecuali menaikkan pembelanjaan pertahanan, mengingat ancaman yang
dihadapinya. Namun, dia mengatakan proyeksi peningkatan semestinya masih
berada di dalam kapasitas ekonomi dan bahkan meningkatkan investasi
teknologi tinggi.
“Korea Selatan harus menganggap ancaman berbahaya dari Korut sesuai
dengan apa yang terlihat,” kata Hutchinson kepada APDF. “Tetapi
pengeluaran mereka yang terus meningkat kemungkinan tidak akan
melambatkan pertumbuhan ekonomi atau mengurangi produktivitas.
“Korea Selatan memiliki peluang besar untuk terus berinvestasi
besar-besaran dalam penelitian dan pengembangan lebih canggih,” kata
sang analis.
“Kombinasi tingkat kelahiran yang turun dengan kemakmuran yang
meningkat berarti negara ini harus mengikuti contoh Amerika Serikat,
Jepang, dan bangsa-bangsa Eropa Barat dengan berinvestasi pada kemampuan
pertahanan teknologi tinggi daripada sekadar tenaga kerja. Dan ini juga
jenis investasi yang kemungkinan meningkatkan pertumbuhan ekonomi
jangka panjang yang sehat.”
Credit
APDForum