Jumat, 23 Juni 2017

Rusia: Besar Kemungkinan Al-Baghdadi Telah Tewas


Rusia: Besar Kemungkinan Al-Baghdadi Telah Tewas
Rusia menyebut besar kemungkinan pemimpin ISIS, Abu Bakr al-Baghdadi, telah tewas dalam sebuah serangan udara pada akhir bulan Mei lalu. Foto/Istimewa


MOSKOW - Pejabat Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Rusia mengatakan besar kemungkinan bahwa pemimpin ISIS Abu Bakr al-Baghdadi tewas dalam serangan udara pada akhir Mei lalu. Pernyataan ini sekaligus mempertegas pernyataan sebelumnya yang menyatakan al-Baghdadi telah tewas bersama para pendukungnya pertengahan bulan ini.

Pada 16 Juni lalu Moskow mengklaim bahwa pemimpin ISIS diyakini telah terbunuh dalam sebuah serangan udara yang menargetkan pertemuan para pemimpin kelompok ekstrimis itu di luar Raqqa.



Kabar terbaru mengenai kepastian tewasnya al-Baghdadi ini diungkapkan oleh Wakil Menteri Luar Negeri Oleg Syromolotov.

"Menurut Kementerian Pertahanan Rusia, dapat dikatakan dengan probabilitas tinggi bahwa pemimpin ISIS, al-Baghdadi, tewas sebagai hasil serangan oleh militer Rusia jelang akhir Mei. Informasi ini sekarang diperiksa melalui berbagai saluran," kata Syromolotov seperti dikutip dari CBS News, Kamis (22/6/2017).

Tidak segera jelas apakah Syromolotov telah menyinggung data intelijen terbaru, atau hanya mengulangi klaim Kremlin tentang tewasnya al-Baghdadi.

Beberapa jam sebelumnya, dalam sebuah briefing harian, juru bicara Kemlu Rusia mengatakan bahwa dia tidak memiliki informasi baru mengenai kondisi al-Baghdadi.

Seorang pejabat mencatat bahwa ISIS tidak diragukan lagi berhasil dikalahkan di medan perang baik di Suriah maupun di Irak, dan bahwa kelompok dan negara lain sangat ingin mengklaim beberapa tanggung jawab atas kekalahan tersebut.

Abu Bakr al-Baghdadi belum pernah terdengar kabarnya sejak akhir 2016 lalu. Pemimpin ISIS ini hanya pernah muncul dalam video, berbicara dengan para pendukung di sebuah masjid yang menjadi ikon di jantung Mosul yang, kebetulan, dihancurkan oleh ISIS pada kemarin Rabu karena pasukan Irak mengepungnya.



Kemunculannya itu terjadi pada tahun 2014, saat Baghdadi mendirikan khalifah Muslim yang memproklamirkan dirinya sendiri sebagai khalifah.

Terakhir kali Baghdadi merilis sebuah pesan audio pada 3 November 2016, saat dia merilis sebuah pernyataan audio yang mendesak para pengikut untuk terus memperjuangkan Mosul. 



Credit  sindonews.com



Rusia Klaim Bunuh Pemimpin ISIS Abu Bakr Al-Baghdadi


Rusia Klaim Bunuh Pemimpin ISIS Abu Bakr Al-Baghdadi
Pemimpin ISIS Abu Bakr al-Baghdadi diyakini tewas akibat serangan udara Rusia. Foto/Istimewa


MOSKOW - Rusia mengatakan mereka yakin salah satu serangan udaranya kemungkinan telah membunuh pemimpin ISIS Abu Bakr al-Baghdadi. Kematian komandan militan tersebut telah dikabarkan beberapa kali sebelumnya.

Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan di Facebook bahwa pihaknya sedang memeriksa informasi yang berkaitan dengan serangan tersebut. Rusia mengatakan serangan tersebut menargetkan sebuah pertemuan tokoh-tokoh senior ISIS dekat benteng kelompok itu di Raqqa, Suriah, pada 28 Mei.

Dikatakan sekitar 30 komandan lapangan dan 300 gerilyawan tewas oleh serangan jet tempur Su-35 dan Su-34. Baghdadi kemungkinan hadir dalam pertemuan tersebut.

"Menurut informasi yang sedang diperiksa melalui berbagai saluran pemimpin ISIS hadir dalam konferensi tersebut dan dihancurkan oleh serangan tersebut," pernyataan Kementerian Pertahan Rusia yang dimuat di Facebook seperti dikutip dari NBC News, Jumat (16/6/2017).

Militer Rusia mengatakan telah mengatakan kepada Amerika Serikat (AS) tentang serangan tersebut yang mungkin telah membunuh pemimpin ISIS. "Mitra kami, AS, telah diberi tahu sebelumnya tentang waktu dan lokasi serangan udara Rusia melalui saluran komunikasi," demikian pernyataan itu. 



Credit  sindonews.com










Perang Lawan ISIS Usai, AS Tarik Senjata dari Kurdi


Perang Lawan ISIS Usai, AS Tarik Senjata dari Kurdi
AS berjanji akan menarik senjata dari militan Kurdi jika berhasil merebut Raqqa dari ISIS. Foto/Ilustrasi/Istimewa
 

ANKARA - Pejabat Turki mengatakan Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS), Jim Mattis, meyakinkan Turki bahwa senjata yang diberikan kepada pejuang Kurdi Suriah akan ditarik kembali. Senjata-senjata tersebut akan ditarik kembali setelah ISIS berhasil digulingkan dari benteng utama mereka di Suriah, Raqqa.

Hal itu diungkapkan Mattis dalam sebuah surat. Dalam surat itu, Mattis juga meyakinkan Menteri Pertahanan Turki Fikri Isik bahwa AS secara teratur akan menyediakan daftar senjata kepada militan Kurdi kepada Turki. Sementara penasihat militer AS di lapangan akan memastikan bahwa senjata tersebut tidak berada di luar zona pertempuran Suriah.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Turki Ertan Omeroglu mengkonfirmasi surat tersebut seperti dikutip dari CBS News, Kamis (22/6/2017).

Keputusan AS untuk meluncurkan serangan guna menguasai Raqqa bekerja sama dengan Pasukan Demokratik Suriah yang dipimpin Kurdi telah memperumit hubunganya dengan Ankara. Turki memandang kelompok pejuang Kurdi tersebut sebagai perpanjangan tangan dari kelompok teroris Kurdi yang beroperasi di Turki.

Ankara takut senjata yang diberikan kepada pejuang Kurdi akan berakhir di tangan para pemberontak di Turki dan telah mengancam akan menanggapi setiap ancaman.

Seorang pejabat Ankara mengatakan Mattis mengatakan kepada ISIS bahwa 80 persen kekuatan yang akan merebut Raqqa akan terdiri dari orang-orang Arab dan pasukan Arab akan menguasai kota tersebut.

Jika dikonfirmasi, pernyataan Mattis mengenai senjata-senjata tersebut akan diambil kembali setelah peperangan Raqqa berakhir dengan konflik dengan komentar baru-baru ini yang dibuat oleh pejabat koalisi pimpinan AS melawan ISIS.

Juru bicara koalisi bulan lalu, Kolonel John Dorrian mengatakan, senjata yang dipasok ke Kurdi tidak akan diambil kembali oleh AS setelah misi spesifik selesai. Namun AS akan memantau dengan hati-hati di mana dan bagaimana mereka digunakan.

Ada beberapa laporan yang kredibel sejak aliansi militer pimpinan AS dibentuk untuk membantu memerangi ISIS di Suriah dan Irak dari senjata buatan Amerika yang jatuh ke tangan milisi, dan bahkan ISIS sendiri dalam jumlah yang lebih kecil.

Dalam beberapa kasus, senjata AS dipasok ke pasukan Kurdi berakhir dengan milisi Syiah yang juga sedang memerangi ISIS, namun terlibat dalam pembunuhan dan penyiksaan Muslim Sunni di daerah yang direbut dari ISIS.  







Credit  sindonews.com




Palestina: Saudi Tidak Akan Jalin Hubungan Diplomatik dengan Israel



Palestina: Saudi Tidak Akan Jalin Hubungan Diplomatik dengan Israel
Petinggi Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), Mustafa Barghouti yakin, Arab Saudi tidak akan menjalin hubungan diplomatik dengan Israel. Foto/Istimewa


RAMALLAH - Petinggi Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), Mustafa Barghouti yakin, Arab Saudi tidak akan menjalin hubungan diplomatik dengan Israel. Setidaknya hal itu tidak akan terjadi dalam waktu dekat.

"Saya tidak berpikir Arab Saudi atau negara-negara Arab lainnya akan menerima untuk menormalisasi hubungan dengan Israel. Ini adalah isu yang sangat sensitif, Yerusalem adalah masalah yang sangat sensitif. Bagaimana mungkin Arab Saudi memiliki hubungan normal dengan Israel, sementara Israel menduduki tempat religius ketiga paling penting bagi umat Muslim, yakni Masjid al-Aqsa?" tanya Barghouti.

"Jika hubungan normal terjadi antara Israel dan negara-negara Arab tanpa menyelesaikan masalah Palestina, Israel berpikir bahwa dunia akan melupakan masalah Palestina," tambahnya, seperti dilansir Al Jazeera pada Kamis (22/6).

Pernyataan Barghouti ini merupakan respon atas seruan yang dibuat oleh Menteri Intelijen dan Transportasi Israel, Yisrael Katz. Katz menyerukan pemimpin Arab Saudi Raja Salman bin Abdul Aziz al-Saud untuk menggelar pertemuan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, untuk memperbaiki hubungan kedua negara.



Katz juga meminta Raja Salman untuk mengirim Putra Mahkota Saudi yang baru, yakni Mohammed bin Salman ke Tel Aviv untuk membahas mengenai ancaman yang ditimbulkan oleh Iran terhadap kawasan, khususnya terhadap Israel dan Saudi.





Credit  sindonews.com






Menteri Israel Minta Raja Salman Gelar Pertemuan dengan Netanyahu


Menteri Israel Minta Raja Salman Gelar Pertemuan dengan Netanyahu
Menteri Israel, Yisrael Katz menyerukan pemimpin Arab Saudi Raja Salman bin Abdul Aziz al-Saud untuk menggelar pertemuan dengan Netanyahu. Foto/Istimewa


TEL AVIV - Menteri Intelijen dan Transportasi Israel, Yisrael Katz menyerukan pemimpin Arab Saudi Raja Salman bin Abdul Aziz al-Saud untuk menggelar pertemuan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Dia menyebut, pertemuan ini harus dilakukan agar terciptanya hubungan diplomatik antara kedua negara.

Katz juga meminta Raja Salman untuk mengirim Putra Mahkota Saudi yang baru, yakni Mohammed bin Salman ke Tel Aviv untuk membahas mengenai ancaman yang ditimbulkan oleh Iran terhadap kawasan, khususnya terhadap Israel dan Saudi.

"Saya memanggil Salman, Raja Saudi, untuk mengundang Perdana Menteri Israel Netanyahu untuk mengunjungi Arab Saudi," kata Katz dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir Al Jazeera pada Kamis (22/6).

"Kami melihat betapa indahnya sambutan yang Anda berikan ketika Presiden (Donald) Trump ada di sana. Anda juga bisa mengirim ahli waris Anda yang baru, Pangeran Mohammed bin Salman. Dia adalah seorang yang dinamis, dia adalah inisiator dan dia ingin membuat sebuah terobosan," sambungnya.

Serupa serupa juga disampaikan oleh Menteri Pertahanan Israel, Avigdor Lieberman. Dia mengatakan, terjalinnya hubungan diplomatik antara Israel dan Suadi akan mempermudah penyelesaikan masalah di kawasan, termasuk di dalamnya masalah dengan Palestina.

"Kesepakatan damai harus dicapai dengan negara Sunni yang moderat, sebelum kesepakatan damai dapat dilakukan dengan Palestina," ucapnya merujuk pada Saudi. 





Credit  sindonews.com




PBB: Populasi Dunia Dekati 10 Miliar di 2050


PBB: Populasi Dunia Dekati 10 Miliar di 2050 
India akan menjadi negara dengan penduduk terpadat di dunia pada 2050. (AFP PHOTO / Dibyangshu SARKAR)


Jakarta, CB -- Populasi manusia di dunia saat ini yang berjumlah 7,6 miliar jiwa akan terus membengkak hingga mencapai angka 9,8 miliar di tahun 2050, sebut Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam laporannya.

Selain itu, PBB menyebutkan di tahun 2050 nanti, India akan melampaui China sebagai negara dengan penduduk terpadat di dunia.

Sementara Nigeria akan menempati posisi populasi terbanyak ke-tiga, di bawah China, menggantikan Amerika Serikat.

Hal itu terungkap dalam laporan Departemen Urusan Sosial dan Ekonomi PBB yang dirilis Rabu (21/6).


“Dengan perkiraan kasar peningkatan penduduk sebanyak 83 juta orang per tahun, tren populasi dunia akan terus meningkat bahkan saat angka fertilitas menurun,” sebut laporan itu, seperti diberitakan AFP, Kamis (22/6)

Mengacu pada kecepatan itu, populasi dunia akan mencapai angka 8,6 miliar jiwa pada 2030, kemudian meningkat hingga 9,8 miliar jiwa di 2050 dan menjadi 11,2 miliar jiwa di tahun 2100.

India, yang kini berada di populasi terpadat ke-dua setelah China akan menjadi nomor satu di 2024 nanti. Saat ini, India memiliki 1,3 miliar penduduk sementara China berada di angka 1,4 miliar.

Adapun Nigeria dinilai sebagai negara dengan pertumbuhan penduduk tertinggi. Di samping itu, penduduk di negara-negara Afrika juga akan berlipat ganda selama 33 tahun mendatang.

Penduduk dengan usia 60 tahun ke atas juga diperkirakan naik dua kali lipat pada 2050 dan meningkat lebih dari tiga kali lipat di 2100.

Laporan itu juga menyebutkan penduduk usia lanjut dunia diprediksi meningkat dari angka 962 juta jiwa pada 2017 menjadi 2,1 miliar di 2050 dan bertambah hingga 3,1 miliar pada 2100.






Credit  CNN Indonesia







Duterte Peringatkan Kemungkinan Perang Sipil di Mindanao


Duterte Peringatkan Kemungkinan Perang Sipil di Mindanao 
Duterte memperingatkan kemungkinan pecahnya perang sipil jika baku tembak antara militer Filipina dan kelompok militan di Marawi tak kunjung usai dan meluas. (Reuters/Erik De Castro)


Jakarta, CB -- Presiden Rodrigo Duterte memperingatkan kemungkinan pecahnya perang sipil jika baku tembak antara militer Filipina dan kelompok militan Maute di Marawi tak kunjung usai dan meluas hingga ke seluruh Mindanao.

Duterte mengatakan, perang sipil sangat mungkin terjadi karena jika kelompok militan Maute yang berafiliasi dengan ISIS mulai merambah ke wilayah lain, warga Kristen akan bersiaga dengan mempersenjatai diri.

"Semuanya akan kacau karena orang Kristen di Mindanao juga akan mempersenjatai diri sendiri. Kita tidak bisa membiarkan itu karena jika warga sipil mempersenjatai diri, akan ada perang sipil," ujar Duterte di hadapan para tentara yang terluka akibat bentrokan dengan Maute di Marawi.

Untuk mencegah terjadinya perang sipil, Duterte mendesak jajaran kabinetnya untuk segera merampungkan perundingan damai dengan kelompok pemberontak Fron Pembebasan Islam Moro (MILF) yang dipimpin oleh Al-Hajj Murad Ebrahim.


Dengan demikian, Duterte dapat meminta bantuan MILF untuk bernegosiasi hingga bisa meredam kekuatan kelompok-kelompok militan yang terinspirasi ISIS, seperti Maute dan Abu Sayyaf.

"Kami berharap dapat mempercepat proses damai dan saya akan mengatakan kepada Murad dan MILF, 'Kalian urus semua wilayah yang kalian inginkan, di pusat Mindanao, Lanao, Cotabato, Sultan Kudarat," tutur Duterte, Kamis (22/6).

Selama belasan tahun, pemerintah Filipina dan MILF memang sudah menggodok perjanjian yang akan memberikan kewenangan bagi kelompok pemberontak tersebut untuk mendirikan pemerintahan otonom di sejumlah wilayah. Namun, perundingan itu tak kunjung rampung.

Menurut Duterte, lebih baik pemerintah merelakan sejumlah wilayah menjadi daerah otonom ketimbang harus melihat perang sipil pecah di selatan negaranya.

Duterte juga mengatakan, ia sesungguhnya tidak ingin memberlakukan darurat militer di Mindanao pasca pecahnya bentrokan antara tentara dan Maute di Marawi. Namun, ia terpaksa melakukannya agar perang tidak meluas.

"Saya sangat tidak ingin memberlakukan darurat militer. Saya terpaksa karena jika tidak, kekacauan di Mindanao akan meluas. Kita kemudian akan kesulitan," katanya, sebagaimana dikutip Inquirer.



Credit  CNN Indonesia






Indonesia Buka Opsi Operasi Militer Bersama Tangkal ISIS


Indonesia Buka Opsi Operasi Militer Bersama Tangkal ISIS 
mengindikasikan adanya operasi militer bersama antara Indonesia, Filipina dan Malaysia demi memberantas ISIS di Asia Tenggara. (REUTERS/Beawiharta)


Jakarta, CB -- Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto mengatakan patroli militer demi menangkal peredaran ISIS yang dilakukan Indonesia, Filipina, dan Malaysia, belum memikirkan ke arah operasi militer bersama.

Namun, Wiranto mengindikasikan bahwa operasi militer gabungan itu bisa dilakukan.

"Kita sendiri punya pengembangan prosedur operasi, tak bisa tiba-tiba kompak," kata Wiranto saat ditemui di kantor Kemenko Polhukam, Kamis (22/6).

Wiranto menjelaskan untuk bisa sampai ke taraf operasi bersama, perlu ada penyesuaian yang harus dilakukan oleh militer dari ketiga negara.

Salah satu penyesuaian yang menurut Wiranto telah sejalan adalah patroli maritim yang beberapa hari lalu diresmikan di Tarakan, Kalimantan Utara. Dalam peresmian itu Menteri Pertahanan dari tiga negara hadir, termasuk Menhan Indonesia Ryamizard Ryacudu.



"Dari situ nanti ada peningkatan dan kita mencoba untuk melakukan prosedur operasi bersama," ujarnya.

Selain masalah prosedur, Wiranto menekankan bahwa keinginan tiga negara tersebut untuk memberantas peredaran ISIS di Asia Tenggara, menjadi aspek yang tak kalah penting.

Wiranto juga menambahkan adanya persetujuan dari Presiden Filipina Rodrigo Duterte untuk melakukan patroli darat di negaranya, guna mengantisipasi penyebaran kelompok ISIS di Asia Tenggara.

Namun, itu tak serta merta membuat militer Indonesia bisa masuk begitu saja ke Filipina. Dia mengatakan tetap harus ada prosedur konstitusional, sebelum akhirnya operasi tersebut bisa dilakukan.

"Semua ada prosedurnya, sementara kita pelajari dulu operasi bersama itu bagaimana karena Indonesia tak bisa tiba-tiba (operasi) di negara lain," ujar mantan Panglima ABRI itu.






Credit  cnnindonesia.com







Filipina Klaim Kepung Militan di Marawi


Filipina Klaim Kepung Militan di Marawi Kini, militan Maute dilaporkan hanya menguasai sekitar 1 kilometer persegi daerah di Marawi. (Reuters/Romeo Ranoco)


Jakarta, CB -- Setelah lima pekan bertempur di Marawi, militer Filipina berhasil memukul mundur militan Maute dan mengepung kelompok militan tersebut di salah satu sudut kota.

"Pasukan kami menyerbu dari timur dan utara dan kami sudah mengepung tiga jembatan," ujar salah satu komandan tentara Filipina, Christopher Tampus, sebagaimana dikutip Reuters.

Kini, kata Tampus, militan Maute hanya menguasai sekitar 1 kilometer persegi daerah di Marawi. Sisa pasukan Maute pun kini diperkirakan sudah menurun drastis, hingga hanya sekitar 100 orang.

Militer Filipina menganggap perkembangan ini sebagai satu kemenangan. Namun, negara tetangga seperti Malaysia justru khawatir para militan yang mulai terdesak akan kabur ke wilayah mereka.

"Kami khawatir mereka akan masuk ke negara ini dengan menyamar menjadi imigran ilegal atau nelayan asing," ucap Komandan Keamanan Sabah Timur, Wan Abdul Bari Wan Abdul Khalid.

Namun, militer Filipina akan berusaha untuk memberangus kelompok Maute sebelum perayaan Idul Fitri. Mereka optimistis, terutama setelah mengetahui strategi tempur Maute.

Para militan itu masih menggunakan strategi klasik, menembak dan melemparkan bom tangan dari dalam sekolah atau masjid.

Mereka juga kerap memaksa warga sipil berjaga di ruas-ruas jalan untuk menjadi tameng manusia jika militer datang.

Strategi ini dapat terbaca setelah militer berhadapan langsung dengan militan Maute sejak bentrokan pecah pada 23 Mei lalu.

Bentrokan ini bermula ketika militer Filipina melancarkan operasi penangkapan pemimpin kelompok militan Abu Sayyaf, Isnilon Hapilon.

Tak berapa lama setelah bentrokan pecah, Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, langsung mendeklarasikan darurat militer.






Credit  CNN Indonesia




Filipina Bikin ISIS Terpojok di Marawi, Malaysia Ketir-ketir



Filipina Bikin ISIS Terpojok di Marawi, Malaysia Ketir-ketir
Militer Filipina membombardir wilayah di Marawi untuk memerangi para militan loyalis ISIS. Foto/REUTERS/Romeo Ranoco



MARAWI - Militan loyalis kelompok Islamic State atau ISIS telah terpojok setelah digempur militer Filipina selama lima minggu terakhir. Namun, serangan Filipina itu membuat Malaysia khawatir kelompok ISIS menyeberang ke wilayah mereka di Sabah.

Kekhawatiran Kuala Lumpur muncul ketika Filipina, Indonesia dan Malaysia sendiri sepakat meluncurkan patroli bersama untuk mengendalikan pergerakan kelompok militan di wilayah kepulauan mereka.

Para menteri luar negeri ketiga negara juga berkumpul di Manila pada hari Kamis (22/6/2017) untuk melakukan pembicaraan.

”Kami khawatir mereka bisa masuk ke negara (Malaysia) dengan menyamar sebagai imigran gelap atau nelayan asing,” kata Kepala Komando Keamanan Sabah Timur (Esscom) Wan Abdul Bari Wan Abdul Khalid, seperti dilansir Bernama.

Esscom telah membuat daftar buron yang mencakup dua pentolan militan yang mempelopori usaha untuk menduduki Marawi.

Mereka adalah pemimpin kelompok Abu Sayyaf Isnilon Hapilon, yang diproklamirkan sebagai emir ISIS Asia Tenggara, dan Abdullah Maute, yang pengikutnya sekitar 400-500 milisi. Kedua pentolan militan pro-ISIS ini dianggap terlibat pembunuhan orang-orang non-Muslim dan penyanderaan puluhan warga sipil di Marawi.

Pertempuran di Marawi pecah mulai 23 Mei 2017. Menurut data militer Filipina, total korban tewas telah mencapai sekitar 369 orang, dengan tiga perempatnya berasal dari kubu kelompok militan.

Juru bicara militer Filipina Letnan Kolonel Jo-Ar Herrera mengatakan bahwa jumlah militan yang berada di Marawi telah menyusut menjadi sedikit di atas 100 orang.

Pejabat militer Filipina Letnan Kolonel Christopher Tampus menambahkan; ”Wilayah mereka telah berkurang menjadi hanya 1km persegi.”

”Pasukan kami datang dari timur dan utara dan kami menghalangi tiga jembatan,” katanya, seperti dikutip Reuters




Credit  sindonews.com











Kemarahan Warga setelah ISIS Hancurkan Masjid Al-Nuri


Kemarahan Warga setelah ISIS Hancurkan Masjid Al-Nuri Masjid al-Nuri dihancurkan oleh ISIS karena hendak direbut oleh pasukan Irak. (Iraqi Military Handout/via Reuters TV)


Jakarta, CB -- "Ketika saya melihat ke luar jendela dan melihat menara tidak lagi berdiri di sana, saya merasa sebagian dari diri saya telah mati."

Untuk Ahmed Saied, guru berusia 54 tahun, dan banyak warga lainnya, Mosul tidak akan lagi sama setelah militan ISIS meledakan mnenara condong yang sudah menghiasi kota selama 850 tahun.

Militan menghancurkan Masjid Agung Al-Nuri pada Rabu malam berikut menara terkenalnya, yang akrab disebut al-Hadba atau si bungkuk oleh warga Irak. Dalam cahaya fajar, yang tersisa hanya dasar bangunan di antara puing-puing.


Penghancuran ini dilakukan ketika pasukan pemerintah Irak merangsek mendekati masjid yang juga menjadi simbol penting bagi ISIS ini. Pemimpin kelompok teror itu, Abu Bakar al-Baghdadi, menggunakannya untuk mendeklarasikan kekhalifahan gadungan yang membentang di Suriah dan Irak.

Bendera hitamnya telah berkibar di atas menara setinggi 45 meter itu sejak 2014, setelah pasukan ISIS membanjiri Irak dan merebut wilayah besar di negara tersebut.

Para pemberontak memilih untuk meledakan masjid itu ketimbang melihat bendera tersebut diturunkan oleh pasukan Irak yang didukung AS. Mereka bertempur di antara bangunan-bangunan dan jalanan Kota Tua, distrik terakhir yang masih dikuasai ISIS di Mosul.

"Dini hari, saya naik ke atap rumah saya dan terkejut melihat menara Hadba sudah hilang," kata Nashwan, seorang buruh harian yang tinggal Khazraj, melalui sambungan telepon. "Saya menangis, saya merasa kehilangan anak."

Menara itu dibangun dari tujuh lapis bata dekoratif dalam pola geometris rumit yang juga ditemukan di Persia dan Asia Tengah. Kemiringan dan kurangnya perawatan membuat menara itu rentan terhadap ledakan.


Kantor media militer Irak menyebarkan gambar yang diambil dari udara, menunjukkan masjid dan menara itu hanya tersisa puing-puing di antara rumah-rumah dan jalan kecil Kota Tua. Video di media sosial menunjukkan menara itu runtuh secara vertikal, menyisakan debu.

"Pasukan keamanan Irak terus mendorong ke kawasan ISIS yang terisa, kata Kolonel Ryan Dillon, juru bicara koalisi internasional yang membantu pasukan Irak melawan ISIS.

"Hanya ada dua kilometer persegi yang tersisa di Mosul Barat sebelum seluruh kota bisa dibebaskan," ujarnya kepada Reuters melalui telepon.

Untuk banyak orang, kehancuran menara itu menjadi tanda kejatuhan terakhir kekuasaan ISIS di Mosul dan meramalkan kekalahannyta di Irak. "Menghgancurkan al-Hadba dan al-Nuri sama dengan mengakui kekalahan secara resmi," kata Perdana Menteri Haider al-Abadi di situs webnya. 




Credit  CNN Indonesia





Al-Nuri, Masjid Zaman Pertengahan yang Dihancurkan ISIS


Al-Nuri, Masjid Zaman Pertengahan yang Dihancurkan ISIS Sebelum dihancurkan ISIS, masjid al-Nuri menjadi salah satu objek sejarah zaman pertengahan di Irak. (REUTERS/Erik De Castro)


Jakarta, CB -- Masjid Agung al-Nuri yang dihancurkan oleh kelompok teror ISIS adalah salah satu peninggalan bersejarah yang ada di Mosul, Irak. Karena itu, kehancurannya dapat dikatakan sebuah kerugian besar bagi negara yang dilanda konflik tersebut.

Walau demikian, Perdana Menteri Irak Haider al-Abadi justru berkata sebaliknya. "Menghancurkan menara al-Hadba dan Masjid al-Nuri adalah bentuk pengakuan kekalahan secara resmi," ujarnya melalui komentar singkat di situs web, Kamis (22/6).

Dari masjid zaman pertengahan inilah pemimpin kelompok teror itu, Abu Bakar al-Baghdadi, mendeklarasikan kekhalifahan gadungan yang membentang di wilayah Suriah dan Irak.


Warga Irak menyebut menara condong setinggi 45 meter di masjid itu sebagai al-Hadba atau si bungkuk. Bendera hitam khas Baghdadi yang menyalahgunakan kata 'tiada Tuhan selain Allah' berkibar di atas menara tersebut sejak 2014 lalu.

Sejumlah pejabat pemerintahan Iraq secara pribadi sempat berharap masjid itu bisa direbut kembali sebelum Hari Raya Idul Fitri tahun ini. Hari pertama Idul Fitri di Irak jatuh pada 25 atau 26 Juni.

Jika Mosul berhasil direbut, maka separuh khalifah Baghdadi yang ada di Iraq bisa dikatakan resmi runtuh, walau ISIS masih mempunyai wilayah di bagian barat dan selatan kota tersebut.

Nama masjid tersebut diambil dari Nuruddin al-Zanki, bangsawan dari wilayah feodal di masa lalu yang meliputi Turki, Suriah dan Irak, yang berperang melawan para tentara salib. Masjid itu dibangun pada 1172-73, tak lama sebelum kematiannya, dan menaungi sebuah pesantren.


Ketika Ibnu Batuta, pengembara sekaligus cendekiawan terkemuka zaman pertengahan, mengunjungi masjid tersebut dua abad kemudian, menaranya condong. Kemiringan itu membuat masjid tersebut disebut Si Bungkuk.

Masjid tersebut dibangun dengan tujuh lapis bata dekoratif dalam pola geometris rumit yang juga ditemukan di Persia dan Asia Tengah.
Abu Bakar al-Baghdadi mendeklarasikan kekhalifahannya di Masjid al-Nuri.
Abu Bakar al-Baghdadi mendeklarasikan kekhalifahannya di Masjid al-Nuri. REUTERS/Social Media Website via Reuters TV)
Nabeel Nouriddin, sejarawan dan arkeolog yang diwawancara Reuters, menyebut menara itu belum pernah direnovasi sejak 1970, membuatnya sangat rentan akan ledakan meski tidak terkena hantaman langsung.

Baghdadi mendeklarasikan dirinya sendiri sebagai kalif atau pemimpin semua Muslim dari podium masjid bersejarah itu pada 4 Juli 2014, setelah para pemberontak menguasai wilayah besar Suriah dan Irak.


Pidato Baghdadi dari masjid itu adalah pertama kalinya ia menampilkan diri ke dunia, dan video yang kemudian disiarkan menjadi satu-satunya rekaman di mana ia menyebut dirisebagai kalif.

Kehancuran lokasi itu terjadi ketika unit Badan Kontra-Terorisme (CTS) elit Irak, yang selama ini bertempur menembus Mosul, sudah berjarak 50 meter dari masjid, kata pernyataan militer Irak.

Seorang juru bicara militer Irak menyebut ledakan itu terjadi tepatnya pada 9.35 waktu setempat.

"Ini adalah kejahatan terhadap warga Mosul dan seluruh Irak, dan merupakan bukti mengapa organisasi brutal ini harus dihancurkan," kata Mayor Jenderal Martin dari militer AS.





Credit  CNN Indonesia





Presiden Turki dan Raja Salman bahas usaha akhiri ketegangan dengan Qatar


Presiden Turki dan Raja Salman bahas usaha akhiri ketegangan dengan Qatar
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. (REUTERS)


Ankara (CB) - Presiden Turki Tayyip Erdogan melakukan pembicaraan telepon dengan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud dan putra mahkota baru, bersepakat untuk meningkatkan usaha mengakhiri ketegangan dengan Qatar, kata sumber dari kantor Erdogan pada Kamis.

Turki menawarkan dukungan kuat kepada Qatar setelah Arab Saudi, Mesir dan beberapa negara lain menuduh Qatar sebagai pendukung terorisme dan memutuskan semua hubungan ekonomi serta diplomatik mereka.

Erdogan berbicara dengan pemimpin Saudi itu pada Rabu malam dan kedua pihak menekankan tekad memperkuat hubungan Turki-Saudi, sementara Erdogan juga mengucapkan selamat kepada Muhamad Bin Salman atas penobatannya sebagai putra mahkota, kata sumber tersebut.

"Kesepakatan dicapai dalam upaya mengakhiri ketegangan kawasan terkait dengan Qatar," kata sumber tersebut dalam pernyataan.

Pernyataan itu mengatakan bahwa Erdogan dan Raja Salman juga setuju untuk melakukan tatap muka pada pertemuan G20 di Hamburg bulan depan.

Raja Salman menobatkan anaknya itu sebagai raja berikutnya sesuai urutan takhta pada Rabu, menyerahkan kekuasaan kepada pemuda 31 tahun itu untuk memperbaiki ekonomi kerajaan, yang bergantung pada minyak, serta menghadapi ketegangan dengan negara pesaing terberat di wilayah sekitarnya, Iran, demikian Reuters.




Credit  antaranews.com



Pakistan klaim tembak jatuh drone Iran


Pakistan klaim tembak jatuh drone Iran
Dokumentasi foto pesawat tempur nirawak (drone) jenis Fotros Drone-7 HR milik militer Iran. (IRNA)
Drone tersebut ditembak oleh Angkatan Udara Pakistan karena tidak dikenal ..."

Islamabad (CB) - Kementerian Luar Negeri Pakistan mengklaim militernya menembak jatuh pesawat tempur nirawak (drone) Iran di Provinsi Baluchistan barat daya, Rabu (21/6).

"Drone tersebut ditembak oleh Angkatan Udara Pakistan karena tidak dikenal dan terbang sekitar tiga hingga empat kilometer di dalam wilayah Pakistan," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Pakistan.

Pesawat nirawak (Unmanned Aerial Vehicle/UAV) itu dilaporkan mulai terpantau terbang melintasi perbatasan pada Senin (19/6),dan diindikasikan pihak Teheran, Iran, terkait dengan aksi ilegal tersebut.

Provinsi Sistan-Baluchistan tenggara Iran, yang berbatasan dengan Pakistan dan Afghanistan, menjadi lokasi bentrokan bersenjata dalam beberapa bulan terakhir antara pasukan Iran dan militan Sunni.

Teheran pada April 2017 memprotes Pakistan atas serangan lintas batas oleh pemberontak bersenjata yang membunuh 10 penjaga Iran di tenggara yang bergolak.

Di Sistan-Baluchistan, pasukan keamanan juga sering bentrok dengan para penjual narkoba.

Provinsi ini terletak pada rute transit utama untuk opium dan heroin yang diselundupkan dari Afghanistan dan Pakistan ke Eropa, Timur Tengah dan Afrika, demikian laporan kantor berita AFP Prancis.




Credit  antaranews.com






ISIS ledakkan masjid bersejarah di Mosul


ISIS ledakkan masjid bersejarah di Mosul
Menara Al-Hadba Masjid Agung Al Nuri terlihat melalui sebuah jendela bangunan di kota tua Mosul, Irak, Kamis (1/6/2017). (REUTERS/Alaa Al-Marjani/cfo/17)


Mosul/Erbil (CB) - Petempur ISIS pada Rabu meledakkan Masjid Agung al-Nuri dan menara condongnya yang terkenal di Mosul, kata militer Irak dalam pernyataan, sementara pasukan Irak berusaha mengusir kelompok tersebut dari kota terdekatnya.

Dari masjid abad pertengahan itu pula tiga tahun lalu pemimpin ISIS Abu Bakr al-Baghdadi mendeklarasikan "kekhalifahan" yang mencakup wilayah Suriah dan Irak.

"Meledakkan menara al-Hadba dan masjid al-Nuri sama dengan pengakuan resmi kekalahan," kata Perdana Menteri Irak Haider Al Abadi dalam tanggapan singkat di lamannya.

Warga Irak menyebut menara condong 45 meter itu al-Hadba atau "si bungkuk". Bendera hitam Baghdadi berkibar di atasnya sejak Juni 2014.

Kantor berita ISIS, Amaq, menuduh pesawat Amerika Serikat menghancurkan masjid itu, pengakuan dengan cepat dibantah pasukan gabungan pimpinan Amerika Serikat (AS) yang memerangi kelompok tersebut.

"Kami tidak menyerang daerah itu," kata juru bicara pasukan gabungan pimpinan AS, Kolonel Angkatan Udara John Dorrian kepada Reuters melalui telepon.

"Tanggung jawab atas kehancuran ini diletakkan sepenuhnya kepada ISIS," kata Mayor Jenderal Angkatan Darat AS Joseph Martin dalam sebuah pernyataan.

Kantor media untuk militer Irak membagikan sebuah gambar yang diambil dari udara yang menunjukkan masjid yang sebagian besar rata dengan tanah dan menyusut menjadi puing reruntuhan di antara rumah-rumah kecil di Kota Tua, distrik bersejarah tempat para petempur berada dalam kepungan.

Masjid tersebut hancur ketika pasukan unit anti-terorisme Irak (Counter Terrorism Service/CTS), yang sedang berusaha memasuki Kota Tua Mosul, berada dalam jarak 50 meter dari tempat itu menurut pernyataan militer Irak.

Juru bicara militer Irak memberikan perkiraan waktu ledakan sekitar pukul 21.35 waktu setempat (01.35 WIB, Kamis).

"Ini kejahatan terhadap rakyat Mosul dan seluruh Irak, dan merupakan contoh mengapa kelompok brutal itu harus dimusnahkan," kata Mayor Jenderal AS, Martin.

Pasukan Irak mengatakan pada Rabu bahwa mereka telah mulai bergerak menuju masjid.

"Ini tidak akan menghalangi kami untuk mengusir mereka, tidak, membunuh mereka bukan mengusir mereka, di dalam Kota Tua," kata Letnan Jenderal Abdul Ghani al-Assadi, komandan tinggi CTS di Mosul dalam sebuah video yang diunggah melalui aplikasi perpesanan.

Pasukan Irak pada Selasa telah mengepung benteng kelompok tersebut di Kota Tua, distrik terakhir di bawah kontrol kelompok ISIS di Mosul.

Baghdadi memproklamasikan dirinya sebagai "khalifah", atau penguasa semua Muslim, dari mimbar masjid itu pada 4 Juli 2014, setelah gerilyawan menguasai sebagian besar wilayah Irak dan Suriah.

Pidato Baghdadi dari masjid itu merupakan pengungkapan pertama dirinya ke dunia, dan siaran rekamannya itu hingga hari ini adalah satu-satunya rekaman video berisi pernyataan dirinya sebagai "khalifah".





Credit  antaranews.com








Penunjukan Putra Mahkota baru Saudi jadi kabar baik untuk AS dan Israel


Penunjukan Putra Mahkota baru Saudi jadi kabar baik untuk AS dan Israel
Putra Mahkota baru Arab Saudi Muhammed bin Salman. (Handout via REUTERS)


Tel Aviv (CB) - Penunjukan Mohammed bin Salman sebagai Putra Mahkota baru Arab Saudi telah menjadi kabar menggembirakan bagi Israel dan Amerika Serikat, karena posisi anti-Iran yang membuatnya menjadi mitra penting keduanya.

Bin Salman setuju dengan Amerika Serikat mengenai perlunya menggagalkan pengaruh Rusia di wilayah tersebut, menggulingkan rezim Presiden Bashar Assad di Suriah, bertindak tegas melawan ISIS serta organisasi radikal lainnya dari Ikhwanul Muslimin hingga Hizbullah.

Selama dua tahun terakhir, beberapa situs Arab melaporkan bahwa bin Salman juga bertemu dengan orang-orang terkemuka Israel.

Menurut media Israel Haaretz, penunjukan Mohammed bin Salman yang genap berusia 32 tahun pada Agustus nanti sebagai pewaris Arab Saudi tinggal menunggu waktu saja.

Bin Salman telah menjalani pelatihan tahta sejak dua setengah tahun lalu melalui misi luar negeri yang dilakukan atas nama ayahnya. Sebagai menteri pertahanan, ia juga bertanggung jawab menjalankan perang Yaman.

Sebelum kemunculan putra mahkota baru, sepupunya, Mohammed bin Nayef, telah menjalin hubungan dengan Washington, terutama dengan CIA. Namun hanya dalam waktu singkat, Nayef tergeser karena orang-orang Amerika mengetahui sosok kuat di kota itu.

Mohammed bin Salman tidak hanya menjalin hubungan antara kerajaan dengan Washington, namun juga dengan Rusia. Pewaris tahta itu beberapa kali bertemu dengan Vladimir Putin guna mengkoordinasikan kebijakan Suriah dan Iran.

Menurut laporan tersebut, pertemuan itu berlangsung di Eilat pada 2015. Satu pertemuan lagi digelar di Yordania pada Maret ini, dan ada pertemuan rutin antara perwira Saudi dan Israel di suatu tempat yang menjadi koordinat Yordania, Arab Saudi dan Amerika Serikat.

Yang belum diketahui adalah sejauh mana ia mampu memajukan proses perdamaian antara Israel dan Palestina, sebagai bagian dari rencana Presiden AS Donald Trump, dan apakah dia mampu membalikkan hubungan antara Israel dan Arab Saudi.

Dalam rangkaian tweet minggu ini, blogger Saudi yang dikenal sebagai "Mujtahidd" mengatakan bahwa Putra Mahkota bin Salman memiliki hubungan baik dengan pewaris tahta Abu Dhabi Mohammed bin Zayed Al Nahyan.

Penguasa Qatar, Tamim bin Hamad Al Thani yang berusia 37 tahun juga menjadi salah satu pemimpin muda di Timur Tengah kendati generasi mereka datang terlambat setelah munculnya para pemimpin muda di Maroko, Yordania dan Suriah.

Pemimpin Arab termasuk Presiden Mesir Abdel-Fattah al-Sissi dan Raja Abdullah sudah merasakan cambuk hubungan luar negeri Saudi. Keduanya telah dicambuk karena "perilaku" dan mereka pun dihukum.

Arab Saudi memotong pasokan minyak ke Mesir enam bulan yang lalu karena dukungan Kairo untuk proposal Rusia di Suriah.

Arab Saudi juga menangguhkan bantuan ke Yordania hingga saat ini karena Yordania menolak untuk membiarkan pasukan Teluk beroperasi dari wilayahnya melawan pasukan Suriah.

Namun pukulan tersulit tentu saja dialami Qatar yang dinyatakan sebagai "non grata" atau ditolak oleh negara-negara Teluk, Mesir, Yaman dan Yordania, yang melakukan aksi blokade terestrial dan udara kepada Qatar.

Sejauh ini, penunjukan Bin Salman berlangsung tanpa adanya halangan dan dengan dukungan dewan yang luar biasa diharapkan tidak menimbulkan guncangan baru di kerajaan tersebut, demikian Haaretz.





Credit  antaranews.com









Kamis, 22 Juni 2017

Obama ke Indonesia: ke Bali Hingga Makan Siang dengan Jokowi




Obama ke Indonesia: ke Bali Hingga Makan Siang dengan Jokowi Obama saat berlibur di British Virgin Island. Foto: Jack Brockway/Virgin Handout via REUTERS.



Jakarta - Presiden ke-44 Amerika Serikat (AS) Barack Obama akan berkunjung ke Indonesia. Ini adalah kunjungan pertamanya ke Indonesia setelah lepas dari jabatan Presiden AS.

Obama dan Indonesia memang tak bisa dipisahkan. Sosok yang memimpin negara adidaya sejak 2008 hingga 2016 itu pernah menjalani masa kecil di Menteng, Jakarta Pusat.

Sebelumnya Obama juga pernah berkunjung ke Indonesia saat menjadi Presiden AS. Dia sempat ke Masjid Istiqlal dalam kunjungannya itu.

Kini Obama akan kembali mengunjungi Indonesia. Tapi kali ini dia akan berlibur ke Pulau Dewata, Bali.

"Sudah ada informasi, Beliau (Obama) akan datang tanggal 23 Juni 2017 sore, khusus untuk liburan," kata Gubernur Bali Made Mangku Pastika di Denpasar, Bali, Rabu (21/6/2017).

Pada saat yang hampir bersamaan, PM Malaysia Najib Razak juga akan berlibur ke Bali. Sebelumnya pada Maret lalu Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud juga berlibur ke Bali bersama dengan keluarganya.

Mengenai pengamanan, tak ada permintaan khusus dari Obama. Bahkan pengamanan akan berjalan seperti hari biasa saja ketika Obama di Pulau Dewata.

"Tidak ada permintaan khusus, pengamanan pariwisata tetap," kata Kapolda Bali Irjen Pol Petrus R Golose.

Kabarnya Obama akan berada di Bali selama 5 hari yakni pada 23-28 Juni 2017. Soal penginapan, sejauh ini masih belum ada kabar yang pasti.

"Baru berita burung, tanggal 23-28 Juni 2017, tapi kami belum tahu apakah di Nusa Dua, atau di Kuta atau di Gianyar. Untuk personel (pengamanan VVIP) belum tahu karena belum ada," kata Pangdam Udayana Mayjen TNI Komaruddin.

Setelah itu kabarnya Obama juga akan berlibur ke daerah lain sebelum ke Jakarta. Namun belum ada pihak yang bisa mengonfirmasi secara pasti ke mana lagi Obama akan berlibur.

Obama akan berada di Jakarta pada tanggal 30 Juni 2017. Pada hari tersebut, Obama akan memenuhi undangan Presiden Jokowi.

Jubir Presiden Jokowi Johan Budi memastikan bahwa Obama diundang makan siang di Istana Bogor. Namun mengenai detailnya, Johan belum bisa mengonfirmasi.

"Katanya diundang makan siang di Istana Bogor," kata Johan saat dimintai konfirmasi lewat pesan WhatsApp, Selasa (13/6/2017).

Johan hanya memperkirakan tak ada agenda khusus yang akan dibahas Obama dan Jokowi. Sementara itu menurut informasi yang dihimpun detikcom, tak ada penyambutan kenegaraan untuk kedatangan Obama ini.

Keesokan harinya, Obama akan berpidato di Konvensi Diaspora Indonesia. Acara itu akan berlangsung tertutup hanya terbatas untuk 3.500 peserta dan undangan.

"Kami berterima kasih kepada Presiden Jokowi yang telah mengundang Pak Obama untuk berlibur ke Indonesia," kata Ketua Board of Trustees Indonesia Diaspora Network (IDN) Dino Patti Djalal saat berbincang dengan detikcom, Rabu (21/6/2017).

Soal pidato Obama di Konvensi Diaspora Indonesia pun akan berlangsung tertutup. Sehingga tak bisa diliput oleh media.

"Biasanya pidatonya akan disarikan oleh kantornya Obama. Kemudian kami nanti akan menyampaikan isi pidatonya ke media," ujar Dino.





Credit  news.detik.com





Ada Apa di Balik Pengangkatan Putra Mahkota Arab Saudi yang Baru?



Ada Apa di Balik Pengangkatan Putra Mahkota Arab Saudi yang Baru? 
Mohammed bin Salman adalah anak raja Saudi dari istri ketiga dengan 12 bersaudara. (Reuters)


Riyadh - PengangkatanMohammed binSalman, anak RajaSalman, sebagai putra mahkota Arab Saudi, menimbulkan sejumlah pertanyaan karena langkah ini melawan tradisi, dan sang putra mahkota baru dipandang kurang berpengalaman.
Pengamat Timur Tengah, Smith Al Hadar dari Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES) memandang kemungkinan dementia (gangguan ingatan) dan ambisi kekuasaan melatarbelakangi tindakan Raja Salman.
"Raja Salman ini sebenarnya sudah kehilangan kemampuan untuk memerintah karena dia menderita dementia, penyakit hilang ingatan dalam jangka pendek. Penyakitnya ini dan ambisinya untuk menegakkan keluarga dia untuk memerintah Arab Saudi, telah membuatnya kehilangan kepekaan."

Sementara itu Dina Y. Sulaeman, direktur Indonesia Center for Middle East Studies (ICMES) memandang pengaruh anak-anak yang menjadi alasan keputusannya.
"Saya pikir lebih karena dipengaruhi anaknya. Beliau sudah tua dan kelihatannya sudah mengalami insecure, sudah mengalami rasa tidak aman. Apalagi konflik juga sangat banyak. Saya kira tidak (karena dementia)."
Raja Salman bin Abdul Aziz yang saat ini berumur 82 tahun, sebelumnya adalah Gubernur Riyadh selama 48 tahun.
Tetapi siapakah sebenarnya Mohammed bin Salman?
salman
 Salman bin Abdul Aziz menjadi raja Arab Saudi pada tahun 2015, setelah sempat menjadi gubernur ibu kota Saudi, Riyadh, selama 48 tahun. (AFP/GETTY IMAGES)

1. Anak Raja
Mohammed bin Salman adalah anak raja Saudi dari istri ketiga, dari dua belas bersaudara. Pria berumur 31 tahun ini dikenal cerdas tetapi kurang berpengalaman. Pada tahun 2015, dia dipromosikan sebagai wakil putra mahkota.
Mohammed bin Salman dikenal sebagai seseorang yang emosional, populer di kalangan anak muda dan mengenyam pendidikan di Barat, kata Dina Y. Sulaeman.
"Memang masih sangat muda, Pernah mengalami pendidikan di negara Barat. Memang dikenal sebagai orang yang impulsif, jadi emosional. Populer di kalangan anak muda di Saudi. Januari 2015, dia akhirnya diangkat sebagai menteri pertahanan."
minyak
Tangki minyak di markas Aramco yang sahamnya dijual di pasar dunia untuk mengatasi masalah ekonomi Arab Saudi. (Reuters)
2. Ketergantungan dari minyak
Sebagai ketua Dewan Ekonomi dan Pembangunan, Mohammed dipandang berhasil dalam menghasilkan konsep Vision 2030, seperti dikatakan pengamat Timur Tengah, Smith Al Hadar. "Dia memang berperan dalam menentukan visi Saudi tahun 2030. Diproyeksikan tahun 2030 itu Saudi telah melepaskan ketergantungannya pada minyak. Dan dia berada di balik itu."
Saat ini sebagian besar pemasukan negara ini masih berasal dari minyak, tetapi rendahnya harga minyak dan semakin berkurangnya cadangan dan pasokan, membuat negara ini mengubah kebijakan ekonomi untuk masa depan.
qatar Qatar dituding menyokong Ikhwanul Muslimin, berhubungan dekat dengan Taliban dan afiliasi-afiliasi Al-Qaeda, dan menjalin keakraban dengan Iran. (Getty Images)

3. MasalahQatar danYaman
Sebagai menteri pertahanan, Mohammed dipandang yang paling bertanggung jawab atas masalah yang dihadapi kerajaan ini terkait hubungan dengan Qatar dan Yaman.
Saat ini sebagian pihak memandang kebijakan Saudi terkait dengan Qatar, membuat negara itu dikucilkan pihak-pihak lain, baik oleh sesama negara Teluk, Amerika Serikat maupun PBB.
"Apa Saudi berpikir dengan menekan Qatar, itu nanti negara-negara besar yang selama ini berhubungan baik dengan Qatar akan menjauh, karena mereka akan memprioritas hubungan dengan Arab Saudi dibandingkan dengan dengan negara kecil seperti Qatar? Tetapi ternyata negara regional seperti Turki dan Iran itu ternyata berbalik dan mendukung Qatar," kata Smith Al Hadar.


Terkait dengan Yaman, pengamat Timur Tengah, Dina Y. Sulaeman memandang usia Mohammed yang sangat muda tetapi sudah menduduki posisi strategis menjadi menteri pertahanan membuat Saudi menghadapi masalah.
"Keputusan-keputusannya tidak strategis. Jadi misalnya serangan ke Yaman itu kan justru sangat merugikan Saudi. Akhirnya Saudi harus membiayai perang yang sangat mahal dan sebenarnya secara strategis tidak menguntungkan untuk Saudi saat ini."
4. Keberlangsungan kekuasaan keluarga
Selain Mohammed, Raja Salman juga mengangkat anaknya Khaled yang mantan pilot, menjadi duta besar Arab Saudi untuk Amerika Serikat. Pengangkatan mereka dipandang merupakan bagian pertama pemberian berbagai posisi penting kepada keturunannya dan merupakan usaha pembentukan dinasti baru.
"Raja Salman ini sedang berusaha menciptakan dinasti baru melalui garis keturunan Salman ini, yang akan memerintah Saudi ke depan. Mengingat Mohammed bin Salman masih muda, tentu saja dia akan berkuasa lama menjadi raja Saudi," kata pengamat Smith Al Hadar.
5. Mendobrak tradisi
Pemunculan Mohammed bin Salman telah menyebabkan sejumlah pihak resah karena adanya sejumlah kejanggalan, seperti dikatakan Smith Al Hadar.
"Raja Salman itu kan masih punya adik-adik. Dua adiknya. Dan selama ini suksesinya itu, setelah ayah mereka, Raja Abdul Aziz, turunnya itu saudara-saudaranya saling ganti. Jadi mestinya kalaupun Raja Salman mengangkat orangnya, mestinya dia punya adik."


Dina Y. Sulaeman mengatakan, berdasarkan tradisi Arab Saudi seharusnya Mohammed bin Nayef memang tetap menjadi putra mahkota.
"Kalau secara urut-urutannya, kalau misalnya Raja Salman, King Salman saat ini meninggal, itu penggantinya Mohammed bin Nayef, bukan Mohammed bin Salman. Meskipun Mohammed bin Salman ini putra kandung Raja Salman yang sekarang."
Mohammed bin Nayef adalah anak dari Nayef bin Abdul Aziz, saudara Salman bin Abdul Aziz.
Mohammed bin Salman, trump Presiden AS, Donald Trump bersalaman dengan Mohammed bin Salman di Gedung Putih pada bulan Maret 2017. (AFP/Getty Images)

6. Mendekat ke Amerika Serikat
Dengan semakin berkuasanya anak-anak Raja Salman yang berpendidikan Barat, diperkirakan hubungan Saudi dengan Amerika Serikat akan lebih erat lagi, kata pengamat Dina Y. Sulaeman.
"Ketika zaman Obama itu kan memang antara Saudi dengan Amerika Serikat sedikit merenggang, karena Saudi tidak menyetujui Amerika menandatangani perjanjian nuklir dengan Iran. Setelah kunjungan Pangeran Mohammed bin Salman ke Gedung Putih, bulan Maret yah, itu kan salah satu pernyataannya adalah bahwa sekarang adalah turning point."
Perubahan hubungan Saudi dengan Yaman dan Qatar, yang kemudian menimbulkan masalah, diduga sudah dikonsultasikan dengan Amerika Serikat. Negara itu juga baru saja menjual senjata dalam jumlah dan nilai yang besar ke Saudi.
7. Kudeta?
Sejumlah pihak memandang keputusan Raja Salman pada hari Rabu (21 Juni) untuk mengangkat anak-anaknya pada posisi penting dipandang justru akan berisiko bagi keberlangsungan kekuasaannya.
Smith Al Hadar dari ISMES mengatakan: "Raja Salman ini tidak cukup bijaksana. Dia tidak cukup peka melihat kenyataan di sekeliling bahwa ketidakpuasan jelas sekali di kalangan keturunan Al Saud ini. Akan ada kasak-kusuk di kalangan istana itu, yang bisa pecah menjadi sebuah kudeta, atau setidaknya dalam waktu pasca Raja Salman itu akan menjadi persoalan besar."


Tetapi Dina Y. Sulaeman dari ICMES memandang penolakan tidaklah besar karena Mohammed bin Nayef sendiripun sudah menyatakan dukungan terhadap Mohammed bin Salman.
"Kalau saya perkirakan tidak yah (penolakan) karena kekuatan terbesar sekarang ada di tangan Mohammed bin Salman terutama di militer karena dia menjabat sebagai menteri pertahanan. Sementara jabatan-jabatan Mohammed bin Nayef sudah langsung dilucuti dan diapun sekarang secara resmi sudah menyatakan kesetiaan kepada Raja Salman."





Credit  news.detik.com





‘Tank Terbang’ Rusia Akan Perkuat Angkatan Laut Mesir


Pada hari pertama pameran kedirgantaraan internasional di Le Bourget, Rusia mengumumkan telah memenangkan tender untuk memasok versi kapal helikopter tempur Ka-52 ke Mesir.

Ka-52K
Helikopter ini dilengkapi rudal jelajah antikapal Kh-35 dan Kh-31 terbaru. Sederhananya, Ka-52K adalah ‘tank terbang’ dengan rudal jelajah. Sumber: Andrey Luzik/RIA Novosti


Helikopter tempur berbasis kapal buatan Rusia, Ka-52K, akan ditempatkan pada kapal perang amfibi kelas Mistral, kapal yang sebelumnya hendak dijual Prancis ke Rusia, tapi terpaksa dibatalkan (karena tekanan sekutu NATO) dan dijual ke Mesir. Tugas penting berikutnya adalah mencapai kesepakatan mengenai spesifikasi teknis helikopter itu sebelum mulai beroperasi di Angkatan Laut Mesir.
“Kami perlu membahas spesifikasi helikopter dan kondisi keuangan. Dengan kata lain, kami perlu menjalani pekerjaan prakontrak yang sulit,” kata Kepala Layanan Federal untuk Kerja Sama Teknik-Militer Rusia (FSMTC) Dmitry Shugayev pada pameran kedirgantaraan Le Bourget.
Ka-52K Katran adalah satu-satunya helikopter tempur di dunia yang bisa membawa rudal-rudal antikapal besar yang digunakan oleh aviasi angkatan laut.
“Helikopter ini dilengkapi rudal jelajah antikapal Kh-35 dan Kh-31 terbaru kami. Sederhananya, Ka-52K adalah ‘tank terbang’ dengan rudal jelajah,“ kata Dmitry Safonov, seorang analis militer di surat kabar Izvestia.
Ka-52K ditujukan untuk menjalankan tugas patroli, memberikan dukungan pada pasukan penyerang saat operasi amfibi, dan juga untuk misi pertahanan di garis depan dan belakang.
Sumber: Andrey Luzik/RIA NovostiKa-52K Katran adalah satu-satunya helikopter tempur di dunia yang bisa membawa rudal antikapal besar yang digunakan oleh aviasi angkatan laut Sumber: Andrey Luzik/RIA Novosti

Katran di Medan Perang

Helikopter Ka-52K Katran pertama kali unjuk gigi selama misi tempur kapal induk Admiral Kuznetsov yang berperang melawan ISIS di Suriah. Sama seperti versi daratnya, helikopter maritim ini pertama kali digunakan dalam kondisi tempur di Suriah.
Rekaman aksi tempur helikopter itu pertama kali tersebar luas di internet pada 3 April 2016 ketika tentara Suriah, dengan dukungan aviasi Rusia, membebaskan kota Al-Qaryatayn di Provinsi Homs dari militan ISIS.
Pensiunan Kolonel Jenderal Leonid Ivashov, yang juga merupakan presiden Akademi Geopolitik, mengatakan bahwa kemampuan tempur dan senjata Ka-52K sebanding dengan versi daratnya.
“Helikopter tersebut ditujukan untuk memberikan dukungan kepada pasukan darat. Helikopter Katran memiliki bilah rotor lipat yang memungkinkannya muat dalam hanggar di atas kapal pembawa helikopter. Sementara, sistem navigasinya juga telah ditingkatkan sehingga mampu beradaptasi dengan penerbangan di atas laut dan saat pendaratan kapal,” kata Ivashov.
Helikopter Katran pada awalnya dikembangkan untuk digunakan dengan kapal amfibi kelas Mistral yang dipesan Rusia dari Prancis pada 2011. Namun, akibat krisis Ukraina, kapal pembawa helikopter itu tidak pernah masuk dalam layanan dengan Angkatan Laut Rusia.
Vadim Kozyulin, seorang profesor di Akademi Ilmu Pengetahuan Militer, mengatakan bahwa kala itu, Presiden Prancis François Hollande mendapat tekanan dari sekutu NATO dan terpaksa mengakhiri kontrak pengiriman Mistral kepada Rusia. Akhirnya, Mesir mengakuisisi kapal-kapal tersebut. Masing-masing kapal memiliki dek seluas 5.200 meter persegi dengan enam area pendaratan. Dua elevator pada kapal ini dapat membawa helikopter naik dari hanggar ke dek penerbangan. Selain itu, 16 helikopter tempur dapat dibawa di dek penerbangan dan hanggar.
Pada akhirnya, Mesir kemungkinan akan menerima 32 unit Ka-52K yang, berdasarkan kesepakatan yang dicapai pada 2014, sebelumnya direncanakan untuk kapal pengangkut helikopter kelas Mistral Rusia.



Credit  indonesia.rbth.com








Jika Diizinkan, Pengekspor Senjata Rusia Siap Suplai ke Negara-negara NATO


Jika Presiden Rusia Vladimir Putin mengizinkan, Rosoboronexport siap mengekspor senjata dan perlengkapan militer ke negara-negara NATO dengan senang hati.
Rosoboronexport
Rosoboronexport telah mengimpor senjata buatan Rusia ke banyak negara. Sumber: Marina Lystseva/TASS

Perusahaan pengekspor senjata negara Rusia, Rosoboronexport, siap untuk mengirim senjata ke negara-negara NATO apabila Presiden Vladimir Putin mengizinkan, kata Direktur Jenderal Rosoboronexport Alexander Mikheev, Rabu (21/6).
“Jika diizinkan presiden, Rosoboronexport dengan senang hati akan mengekspor senjata dan perlengkapan militer ke negara-negara aliansi (NATO),” ujar Mikheev, seperti yang diberitakan Sputnik.
Namun begitu, Mikheev menekankan bahwa saat ini hal tersebut “terganggu oleh kompetisi tidak adil dari negara-negara Barat, yang tecermin dalam sanksi sepihak yang dijatuhkan kepada Rusia dan Rosoboronexport.”
Saat ini, Yunani adalah satu-satunya negara anggota NATO yang menggunakan senjata buatan Rusia, yaitu sistem misil darat-ke-udara jarak jauh S-300. Militer Yunani sukses menguji coba sistem tersebut pertama kali pada 2013.  



Credit  indonesia.rbth.com







Rosatom Bangun Kompleks untuk Proses Ulang Segala Jenis Bahan Bakar Nuklir


Rosatom akan jadi yang pertama di dunia dengan teknologi ini.
Nuclear Plant
Fasilitas nuklir Mayak dibangun pada pertengahan 1940-an. Sumber: Pavel Lisitsyn/RIA Novosti

Perusahaan nuklir negara Rusia, Rosatom, berencana untuk menjadi perusahaan pertama di dunia yang memiliki teknologi pemrosesan ulang segala jenis bahan bakar nuklir.
Rencana tersebut diharapkan akan terealisasi pada 2020 di fasilitas nuklir Mayak milik Rosatom, ujar Dmitry Kolupaev, wakil CEO untuk pengembangan strategi fasilitas nuklir tersebut kepada Sputnik, Rabu (21/6).
“Kami berencana untuk menciptakan sebuah unit khusus yang akan bekerja pada 2020. Kompleks pemrosesan ulang ‘omnivor’ akan selesai dibangun (untuk memproses ulang) jenis-jenis bahan bakar nuklir yang berbeda, serta untuk menampung perangkat dengan ukuran berbeda-beda,” ujar Kolupaev.
Unit khusus tersebut akan ditugaskan untuk membongkar perangkat pemrosesan ulang nuklir dengan ketinggian hingga lebih dari 13 meter, kata Kolupaev. 
Fasilitas nuklir Mayak dibangun pada pertengahan 1940-an, dan saat ini dikhususkan untuk pemrosesan ulang bahan bakar nuklir yang telah digunakan oleh reaktor nuklir, kapal selam Rusia, serta plutonium dari senjata yang tak lagi digunakan.  




Credit  indonesia.rbth.com




Omar Khayyam, Ilmuwan Muslim Pencipta Kalender Masehi

Kalender hasil karya Khayyam dipakai hingga akhir abad ke-20.

Omar Khayyam, Ilmuwan Muslim Pencipta Kalender Masehi
Ilmuwan Muslim Omar Khayyam. (Wikipedia)

CB – Pada 1072 Masehi, seorang ilmuwan asal Nishapur, Persia, bernama Omar Khayyam mendokumentasikan keakuratan dari penghitungan jumlah hari dalam satu tahun. Ia adalah seorang astronom, astrolog, dokter, filsuf, dan matematikawan.
Ia membuat kontribusi luar biasa dalam aljabar. Pada 1073, Khayyam menerima undangan untuk pergi ke Isfahan, ibu kota Kekaisaran Seljuk. Undangan Khayyam bukan sembarang undangan, karena berasal dari dua orang paling berkuasa di Seljuk.
Mereka adalah Sultan Kekaisaran Agung Seljuk, Malik Shah, dan wazirnya Nizam al-Mulk. Pria kelahiran 18 Mei 1048 tersebut dimandati untuk mempersiapkan kalender Masehi.
Kalender ini yang kemudian dijadikan patokan bagi umat manusia di seluruh dunia, era di mana jangka satu tahun bergulir secara teratur. Dalam menjalankan misi kemanusiaannya, Khayyam tak sendiri.
Pria penganut Islam Sufi itu merekrut ilmuwan berbakat lainnya untuk menemaninya ke Isfahan, satu tahun berikutnya. Di sana, mereka dibayar dengan gaji yang amat tinggi dan mendapat jaminan hidup yang istimewa.
Sultan Malik Shah menggaji Khayyam untuk menemukan sebuah observatorium. Tujuan awalnya adalah untuk melakukan observasi terhadap langit selama 30 tahun. Pada saat itu, Saturnus, planet yang diketahui paling jauh dari Bumi, dilaporkan akan menyelesaikan orbitnya.
Selama berada di Isfahan, Khayyam mengukur lamanya waktu dalam satu tahun dengan akurasi dan ketepatan yang luar biasa. Khayyam menemukan bahwa 1.029.983 hari sama dengan 2.820 tahun.
Meskipun telah menjadi mode untuk mengutip lebih banyak desimal dari angka tersebut, Khayyam menyebut 1.029.983 hari mengandung tujuh angka penting. Jadi tidak masuk akal apabila mengutip lebih dari tujuh angka penting tersebut dalam rentang waktu satu tahun.
Mengutip situs Famous Scientists, Kamis 22 Juni 2017, satu tahun sebenarnya mengalami perubahan sebanyak 30 menit dari tahun ke tahun.
Rata-rata jangka satu tahun adalah 365,242189 hari. Artinya, dalam pembulatan, tujuh angka penting tadi sudah termasuk dalam bagian 365,2422 hari dalam setahun.

Dengan ditetapkannya hasil ini maka Malik Shah kemudian memperkenalkan kalender baru Khayyam di Kekaisaran Seljuk pada 15 Maret 1079. Kalender itu juga dipakai sampai abad ke-20.




Credit  VIVA.co.id