Ilustrasi kapal Rohingya. (Reuters/Clodagh Kilcoyne)
Jakarta, CB -- Otoritas Myanmar menyita satu kapal pembawa 93 orang diduga Muslim Rohingya yang berupaya kabur dari kamp penampungan di Rakhine ke Malaysia.
Direktur
kantor pemerintah daerah Dawei, Moe Zaw Latt, mengatakan bahwa pihaknya
pertama kali mengetahui keberadaan kapal mencurigakan itu dari laporan
nelayan.
Angkatan laut kemudian menghentikan kapal itu pada Minggu (25/11) dan menahan 93 orang yang ada di dalamnya.
Saat ditanya, puluhan orang itu mengaku berasal dari kamp penampungan Thae Chaung di ibu kota negara bagian Rakhine, Sittwe.
"Mereka mengaku lari dari kamp. Mereka mengaku ingin kabur ke Malaysia," ucap Moe sebagaimana dikutip
Reuters.
Kabar penangkapan ini kembali menyita perhatian publik setelah sejumlah gambar beredar di berbagai media sosial.
Dalam
sejumlah foto, terlihat kapal yang disita oleh aparat. Kapal itu memang
tipe armada yang biasa digunakan Rohingya untuk kabur dari Rakhine.
Ini adalah kali ketiga kapal pembawa Rohingya ditahan ketika menuju Malaysia menjelang akhir tahun ini.
Juru
bicara badan pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa pun sudah sempat
mendesak agar ada upaya pencegahan karena ketika musim muson sudah
lewat, akan semakin banyak kapal imigran yang berlayar.
"Dengan
kemungkinan peningkatan pergerakan kapal di akhir musim muson, sangat
penting bagi otoritas untuk mengambil langkah penanganan akar masalah
pergerakan ini," ucap juru bicara itu kepada
Reuters.
Menurut
jubir tersebut, otoritas setempat harus menciptakan kesetaraan sosial
dan ekonomi di tempat tinggal atau penampungan Rohingya agar tak ada
lagi eksodus yang mengkhawatirkan kawasan.
Otoritas
setempat dianggap harus menciptakan kesetaraan sosial dan ekonomi di
tempat tinggal atau penampungan Rohingya agar tak ada lagi eksodus yang
mengkhawatirkan kawasan. (AFP Photo/K M Asad)
|
Eksodus Rohingya ini pertama kali terjadi pada 2012, ketika kapal-kapal
mereka terdampar di perairan Malaysia dan Indonesia saat menuju
Australia.
Mereka kabur dari Myanmar karena penyiksaan militer di tempat tinggal mereka di negara bagian Rakhine.
Rohingya kembali menjadi sorotan pada Agustus tahun lalu, ketika bentrokan di Rakhine kembali memanas.
Bentrokan bermula ketika satu kelompok bersenjata Rohingya menyerang sejumlah pos polisi dan satu markas militer di Rakhine.
Militer
Myanmar lantas melakukan "operasi pembersihan" Rakhine dari kelompok
bersenjata tersebut. Namun ternyata, militer juga membantai sipil
Rohingya dan membakar rumah kaum minoritas tersebut.
Ribuan orang tewas dalam bentrokan tersebut, sementara ratusan ribu lainnya kabur ke Bangladesh.
Nasib
Rakhine pun semakin terkatung-katung karena Bangladesh mulai kewalahan,
sementara Myanmar tak pernah mau mengakui mereka sebagai warga negara.
Melalui
sebuah perjanjian dengan Bangladesh, Myanmar akhirnya sepakat untuk
menerima kembali orang Rohingya yang memenuhi serangkaian persyaratan.
Meski demikian, kini Rohingya takut kembali ke Myanmar karena tak ada yang bisa menjamin keamanan mereka di sana.
Credit
cnnindonesia.com