Jamal Khashoggi
Foto: EPA-EFE/Ali Haider
Saudi membantah klaim pejabat keamanan Turki soal pembunuhan Khashoggi.
CB,
ANKARA -- Dua pekan sejak menghilang, belum ada kabar tentang
keberadaan jurnalis Saudi Jamal Khashoggi. Hal ini semakin menguatkan
klaim Turki bahwa Khashoggi benar-benar telah dibunuh di Konsulat Saudi.
Pemerintah Saudi telah membantah spekulasi tersebut dan menyebut
Khashoggi sudah keluar dari kantor konsulat. Sayang Saudi tak memiliki
bukti yang memperlihatkan Khashoggi keluar. Sebaliknya, kesaksian
Hatice Cengiz menyebut tunangannya itu belum juga keluar dari kantor
konsulat setelah ia menunggu lebih dari tiga jam.
Jika
benar Khashoggi dibunuh, siapa yang melakukannya? Media-media Barat dan
Turki mencurigai 15 personel Saudi yang datang ke Istanbul bersamaan
saat Khashoggi menghilang. Personel-personel Saudi ini ditengarai
mengetahui keberadaan jurnalis
Washington Post tersebut.
Sumber eksklusif
New Khaleej
seperti dikutip Middleeastmonitor mengonfirmasi jika tim pasukan elite
Al-Saif Al-Ajrab bertanggung jawab atas pembunuhan Khashoggi. Batalion
elite ini disebut berafiliasi langsung oleh putra Mahkota Pangeran
Muhammad bin Salman.
Sumber
menyebut, Salman memilih orang-orang yang berkompeten dari berbagai
kesatuan militer untuk masuk dalam pasukan tersebut. Batalion elite ini
ditengarai juga bertanggung jawab atas penangkapan ulama dan pangeran
yang dianggap bersebrangan dengan kerajaan beberapa waktu lalu.
Sebutan
Batalion berasal dari nama pedang terkenal Imam Turki bin Mohamed
Al-Saudi, salah satu pendiri negara Saudi. Pangeran MBS telah menyangkal
beragam keterlibatannya. Saudi juga mempersilahkan Turki memeriksa
kantor konsulat mereka.
Ihwal laporan keterlibatan pangeran MBS bukan hal yang baru. Sebelumnya seperti dikutip
the Washington Post,
laporan intelien AS menyebut, Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi
Pangeran Mohammed bin Salman (MBS) telah memerintahkan operasi
penangkapan jurnalis Jamal Khashoggi.
Hal itu rencananya dilakukan dengan memancing Khashoggi kembali ke
negaranya dari tempat tinggalnya di Virginia, Amerika Serikat (AS).
Rencana Pangeran MBS untuk menangkap dan menahan Khashoggi diperoleh
intelijen AS dari pejabat-pejabat Saudi yang membahas hal tersebut.
Kendati demikian, Pemerintah AS belum mengonfirmasi sepenuhnya tentang
informasi yang telah beredar itu.
Beberapa rekan Khashoggi mengatakan, selama empat bulan terakhir,
para pejabat senior Saudi yang dekat dengan Pangeran MBS telah
menawarkan perlindungan untuknya. Khashoggi bahkan ditawarkan jabatan
tinggi di pemerintahan bila bersedia kembali ke Saudi.
"Dia
(Khashoggi) berkata, 'Apakah kamu bercanda? Saya tidak memercayai
mereka (Pemerintah Saudi) sedikit pun," kata Khaled Saffuri, seorang
aktivis politik Arab-Amerika, menceritakan percakapannya dengan
Khashoggi yang terjadi pada Mei lalu, tepatnya setelah Khashoggi
menerima panggilan dari Saud al-Qahtani, seorang penasihat istana
kerajaan.
Khashoggi dilaporkan hilang setelah mendatangi
gedung konsulat jenderal Saudi di Istanbul, Turki, pada 2 Oktober lalu.
Dua pejabat kepolisian Turki mengklaim Khashoggi telah dibunuh di dalam
gedung konsulat. Namun, tuduhan tersebut segera dibantah pejabat
konsulat Saudi di Istanbul.
Selama berkarier sebagai
jurnalis, dia diketahui kerap melayangkan kritik tajam terhadap
kebijakan-kebijakan yang diambil Pemerintah Saudi. Pangeran MBS yang
dipuji karena dianggap melakukan reformasi sosial di Saudi, tak luput
dari kritikannya.
Dalam sebuah kolom di
Washington Post
pada 21 Mei lalu, Khashoggi menulis, “Kami diharapkan untuk dengan
penuh semangat menyambut reformasi sosial dan memuji putra mahkota (MBS)
sambil menghindari referensi apa pun kepada orang-orang Arab perintis
yang berani mengatasi masalah ini beberapa dekade lalu.”
“Kami
diminta untuk meninggalkan harapan kebebasan berpolitik, dan tetap diam
tentang penangkapan dan larangan perjalanan yang berdampak, tidak hanya
pada kritikus, tapi juga keluarga mereka,” kata Khashoggi dalam
tulisannya.
Dalam sebuah artikel pada September lalu,
Khashoggi kembali mengkritik MBS. Tulisan tersebut berjudul “Saudi
Arabia's Crown Prince Must Restore Dignity to His Country-by Ending
Yemen's Cruel War”. Melalui tulisannya itu, Khashoggi mendesak Saudi,
terutama Pangeran MBS, untuk segera mengakhiri perang Yaman yang telah
menyebabkan bencana kemanusiaan.
Presiden Turki Tayyip
Erdogan menegaskan, Turki tidak akan berdiam diri atas hilangnya
jurnalis Saudi, Jamal Khashoggi. Turki sedang menyelidiki semua aspek
dari kasus tersebut. Ia menyebut, kasus ini bukan persoalan biasa.
Presiden AS Donald Trump juga memberikan perhatian khusus pada kasus
ini.
Credit
republika.co.id