Ilustrasi ISIS. (Laudy Gracivia)
Jakarta, CB -- Seorang warga Indonesia yang bergabung dengan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS),
Muhammad Saifuddin alias Abu Walid, meninggal dalam pertempuran sengit
dengan pasukan koalisi Amerika Serikat, Inggris, Prancis dan Kurdi. Dia
dilaporkan tewas di Provinsi Deir al-Zour pada 29 Januari, yang menjadi
pertahanan terakhir ISIS.
Menurut Kepala Biro Penerangan
Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Dedi Prasetyo,
Saifuddin meninggal dalam pertempuran bersama seorang temannya yang juga
militan ISIS, Mohammed Karim Yusop Faiz.
"Dia meninggal karena terkena serpihan akibat tembakan tank angkatan bersenjata Suriah dalam pertempuran," kata Dedi.
Seperti dilansir Associated Press,
Selasa (12/2), kabar tewasnya Saifuddin dibenarkan oleh pihak keluarga.
Kakak mendiang, Muinudinillah Basri, menyatakan mereka mendapatkan
gambar jasad Saifuddin yang dikirim melalui aplikasi pesan singkat.
"Ada foto jenazahnya dan saya mengenalinya," kata Basri.
Pemerintah
Amerika Serikat pada Agustus 2018 menyatakan mendiang Saifuddin beserta
dua orang lainnya, Mohammad Rafi Udin (warga Malaysia) dan Mohammed
Reza Lahaman Kiram (warga Filipina), masuk dalam daftar teroris dunia.
Mendiang
Saifuddin beberapa kali muncul dalam rekaman video ISIS. Tiga tahun
lalu, dia disebut sebagai salah satu dari tiga algojo yang mengeksekusi
tiga warga asing, termasuk seorang jurnalis asal Jepang, Kenji Goto.
Basri
menyatakan dia tidak pernah mendapat kabar dari adiknya, sejak
Saifuddin pergi dari Indonesia bersama anak istrinya ke Suriah untuk
bergabung dengan ISIS sekitar empat tahun lalu. Dia menyatakan adiknya
menjadi radikal ketika pecah kerusuhan di Ambon pada 1999 hingga 2001.
Saifuddin pergi ke Ambon bersama saudara kembarnya, yang tewas dalam
kerusuhan.
Setelah peristiwa Bom Bali I pada 2002, Saifuddin
disebut pergi ke selatan Filipina bersama dengan dua militan senior. Dia
lantas bergabung dengan kelompok bersenjata setempat.
Aparat
Filipina berhasil menangkap Saifuddin pada 2007 ketika dia hendak
kembali ke Indonesia. Dia dipenjara selama sembilan tahun karena mencoba
menyelundupkan senjata dan bahan peledak.
Setelah bebas pada
2013, Saifuddin kemudian menikahi seorang janda pelaku bom bunuh diri.
Dia kemudian menghilang dan aktivitasnya tidak diketahui aparat. Namun,
dia mendadak muncul dalam video propaganda ISIS yang meminta kaum Muslim
di Indonesia bergabung dengan ISIS dan berperang di Suriah dan selatan
Filipina.
Menurut salah satu mantan narapidana terorisme, Sofyan
Tsauri, Saifuddin adalah satu-satunya orang Indonesia dengan kedudukan
paling tinggi di ISIS. Bahkan menurut dia, pemimpin ISIS, Abu Bakar
al-Baghdadi, memintanya untuk memimpin para militan dari Asia Tenggara.
Polri
menyatakan Saifuddin pula yang membiayai keberangkatan seorang
tersangka terorisme, Harry Kuncoro, yang berhasil ditangkap ketika
hendak menuju Suriah. Harry dibekuk di Bandara Internasional
Soekarno-Hatta pada Januari lalu.
Menurut Polri, Harry divonis
bersalah dalam tindak pidana terorisme karena melindungi Umar Patek,
yang saat ini menjadi narapidana, dan menyimpan senjata api. Dia baru
bebas setelah menerima grasi pada 2018.
Setelah bebas, Harry
lantas mengontak Saifuddin melalui aplikasi Telegram. Dari percakapan
itu, Saifuddin yang mengirimkan dana sebesar US$2,100 (sekitar Rp30
juta) untuk mengurus dokumen dan biaya perjalanan. Dia bisa membuat
paspor berbekal kartu tanda pengenal palsu.
Saifuddin
juga memberi saran supaya Harry pergi ke Suriah melalui provinsi
Khurasan di Iran. Sebab, ada seorang militan asal Indonesia yang tinggal
di sana.
Credit
cnnindonesia.com