Selasa, 01 September 2015

Istana Jokowi Dikepung Buruh, Ini 10 Tuntutannya

Istana Jokowi Dikepung Buruh, Ini 10 Tuntutannya

Puluhan aktivis mahasiswa, pedagang kaki lima, buruh dan nelayan yang tergabung dalam Aliansi Tarik Mandat, menyerukan slogan saat melakukan aksi unjuk rasa, di depan Istana Negara, Jakarta, 28 Agustus 2015. TEMPO/Imam Sukamto
 
 
CB, Jakarta - Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal menuturkan ada 35 ribu buruh yang siap membanjiri Istana Merdeka pada Selasa, 1 September 2015. Dalam aksi ini, massa buruh akan membawa sepuluh tuntutan.

"Ada sepuluh tuntutan dari buruh yang dilatarbelakangi ketidakadilan yang diterima buruh akhir-akhir ini," kata Said Iqbal, Senin, 31 Agustus 2015.


Adapun sepuluh tuntutan buruh adalah:
1. Turunkan harga bahan bakar minyak dan sembilan bahan makanan pokok
2. Tolak pemutusan hubungan kerja akibat pelemahan rupiah dan perlambatan ekonomi
3. Tolak pekerja asing atau mewajibkan pekerja asing berbahasa Indonesia
4. Perbaiki layanan kesehatan
5. Naikkan upah minimum 22 persen
6. Angkat pekerja kontrak dan outsourcing jadi karyawan tetap dan guru honorer jadi pegawai negeri sipil
7. Revisi peraturan pemerintah jaminan pensiun setara dengan PNS
8. Bubarkan Pengadilan Hubungan Industrial
9. Pidanakan perusahaan pelanggar keselamatan dan kesehatan kerja
10. Sahkan Rancangan Undang-Undang Pembantu Rumah Tangga.

Said Iqbal menjelaskan massa yang datang berasal dari 40 organisasi yang tergabung dalam empat federasi: KSPI, KSBSI, KSPSI, dan KPKPBI. Massa akan berkumpul di patung kuda sekitar pukul 10.00 lalu bergerak ke Istana untuk berorasi. Setelah orasi, sekitar pukul 13.00 massa dibagi dua lalu long march ke Kementerian Tenaga Kerja dan Kementerian Kesehatan.

Timboel Siregar Sekretaris Jenderal Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia menuturkan aksi ini dilatarbelakangi oleh tindakan kesewenangan perusahaan akhir-akhir ini. "Ada banyak buruh di-PHK alasannya rupiah melemah sehingga keuangan perusahaan terpuruk, belum lagi kebakaran di Mandom yang menewaskan buruh," katanya.
Credit  TEMPO.CO


Buruh Kepung Istana

Buruh yang melakukan aksi di Istana Merdeka (foto: Arfiansyah Ruslan-Okezone)
Buruh yang melakukan aksi di Istana Merdeka (foto: Arfiansyah Ruslan-Okezone)
JAKARTA – Kedatangan buruh menuju Jakarta terus menjadi-jadi, bahkan buruh terlihat sudah mengepung Istana Merdeka sampai siang hari ini. Belum terlihat aktifitas aksi buruh yang menurun sampai saat ini.

Di depan gerbang Istana, mereka juga berorasi menuntut sejumlah permintaannya agar dipenuhi oleh pemerintah. Di antaranya kenaikan upah kaum buruh, dan juga keselamatan kerja bagi kaum buruh.
 



Credit  Okezone


Buruh Merangsek ke Istana Merdeka

Selasa, 01 September 2015 | 14:18 WIB
Buruh Merangsek ke Istana Merdeka
Ribuan buruh berbaris menuju Istana di kawasan Jalan Thamrin, Jakarta, 1 September 2015. Massa buruh direncanakan akan berdemo di depan Istana. TEMPO/Subekti
 
 
CB, Jakarta - Ribuan buruh melakukan long march dari Patung Kuda, Thamrin, menuju Istana Merdeka. Meskipun Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya Inspektur Jenderal Tito Karnavian mengimbau buruh tak lakukan long march, buruh tetap merangsek masuk.

"Polisi jangan halangi kami. Jangan provokasi kami!" teriak orator aksi dari pikap dengan suara yang terdengar hingga radius 50 meter. Sang orator juga meneriakkan kepada buruh jangan masuk dan berhenti di Monumen Nasional. "Kalau di Monas artinya tunduk pada kemauan pemerintah. Kita di sini mau suarakan kepentingan kita, biar yang di dalam Istana tahu suara kita!"

Massa berseragam biru dari Brigade Serikat Pekerja Seluruh Indonesia berada di barisan terdepan, disusul barisan massa berseragam merah dari Garda Metal Merah dan massa berseragam hijau dari Green Force FSP KEP KSPI. "Jangan cuma duduk. Kita dilatih tidak untuk duduk saja!"

Massa sesekali berhenti. "Rapatkan barisan. Jangan sampai terputus!" kata orator. Lagu Darah Juang dan Halo-halo Bandung silih berganti dengan lagu Iwan Fals berjudul Bongkar. "Maju terus buruh!" yang disambut dengan teriakan-teriakan buruh.

Sebelumnya Kapolda Inspektur Jenderal Tito Karnavian mengimbau buruh berorasi di Silang Monas. Bahkan, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mempersilakan buruh berorasi di Balai Kota. Namun, buruh menganggap suara mereka harus disampaikan di depan Istana Merdeka.

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal menuturkan ada 35 ribu massa buruh yang siap membanjiri Istana Merdeka pada 1 September 2015. Said Iqbal menjelaskan, massa yang datang berasal dari 40 federasi yang tergabung dalam 4 federasi: KSPI, KSBSI, KSPSI, dan KPKPBI.

Said mengatakan massa akan berkumpul di patung kuda sekitar pukul 10.00 lalu bergerak ke Istana Merdeka untuk berorasi. "Usai orasi, sekitar pukul 13.00 massa akan dibagi dua lalu long march ke Kementerian Tenaga Kerja dan Kementerian Kesehatan," kata dia.

Timboel Siregar sebagai Sekretaris Jenderal Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia menuturkan, aksi ini dilatarbelakangi oleh tindakan kesewenangan perusahaan akhir-akhir ini. "Ada banyak buruh di-PHK alasannya rupiah melemah sehingga keuangan perusahaan terpuruk, belum lagi kebakaran di Mandom yang menewaskan buruh," kata dia.

Adapun sepuluh tuntutan buruh adalah:
1. Turunkan harga bahan bakar minyak dan sembilan bahan makanan pokok
2. Tolak pemutusan hubungan kerja akibat pelemahan rupiah dan perlambatan ekonomi
3. Tolak pekerja asing atau mewajibkan pekerja asing berbahasa Indonesia
4. Perbaiki layanan kesehatan
5. Naikkan upah minimum 22 persen
6. Angkat pekerja kontrak dan outsourcing jadi karyawan tetap dan guru honorer jadi pegawai negeri sipil
7. Revisi peraturan pemerintah jaminan pensiun setara dengan PNS
8. Bubarkan Pengadilan Hubungan Industrial
9. Pidanakan perusahaan pelanggar keselamatan dan kesehatan kerja
10. Sahkan Rancangan Undang-Undang Pembantu Rumah Tangga.

Credit TEMPO.CO

Enam Ilmuwan Diasingkan Setahun Demi Perjalanan ke Mars


Enam Ilmuwan Diasingkan Setahun Demi Perjalanan ke Mars  
Lokasi isolasi enam ilmuwan selama setahun untuk mensimulasikan apa yang mungkin dialami para astronaut di planet Mars. (Dok.HI-SEAS/University of Hawaii)
 
 
Jakarta, CB -- Perjalanan manusia ke Mars membutuhkan persiapan matang. Penelitian dan pengembangan di Bumi terus dilakukan dan sekelompok ilmuwan kembali harus diasingkan dari peradaban Bumi guna mensimulasikan apa yang mungkin dialami astronaut selama di Mars.

Tim ilmuwan yang terdiri dari enam orang pada Jumat lalu (28/8) menjalani simulasi di lokasi terpencil, yakni sebuah pulau di Hawaii, Amerika Serikat.

Dari laporan NBC News, simulasi yang diselenggarakan oleh program Space Exploration Analog and Simulation (SEAS) kali ini adalah keempat kalinya dilakukan dan durasinya pun lama, 365 hari alias setahun.

Tim ilmuwan itu terdiri dari tiga perempuan dan tiga pria. Empat kru di antaranya asal Amerika, satu dari Perancis, dan satu lagi berkebangsaan Jerman.


Enam ilmuwan ini akan 'dikurung' di dalam ruang simulasi berbentuk kubah yang lebarnya 10 meter dan tinggi 6 meter. Kubah tersebut menggunakan tenaga surya.

Tempat tinggal kubah itu memiliki area lantai bawah yang terdiri dari laboratorium, dapur, ruang kerja, ruang makan, dan kamar mandi. Sementara di lantai atas terdapat enam kamar tidur dan satu kamar mandi.

Selama satu tahun simulasi menjalani aktivitas di lingkungan 'Mars' tersebut, mereka sudah diberi pasokan makanan dan air. Makanan yang mereka dapatkan itu sama persis seperti makanan yang diperoleh oleh astronaut di antariksa.

Para peneliti bakal memantau keenam ilmuwan ini melalui kamera, pelacak pergerakan tubuh, dan metode lain. Mereka akan mengumpulkan data dalam sebuah penelitian yang bertema "A wide range of cognitive, social and emotional factors that may impact team performance".

"Kami harap misi ini akan menumbuhkan pemahaman baru soal faktor sosial dan psikologis pada eksplorasi antariksa jangka panjang," ujar pimpinan investigator HI-SEAS, Kim Binsted dalam sebuah pernyataan saat bertandang di University of Hawaii.

Para ilmuwan yang terlibat dalam penelitian ini tidak diizinkan melakukan tatap muka atau kontak dengan manusia lain di luar kubah.

Mereka diizinkan keluar kubah untuk melakukan kegiatan di luar ruangan seperti bermain golf. Tetapi, kegiatan di luar ruangan itu kebanyak melakukan penelitian linkungan setempat.

Program simulasi sebelumnya yang juga beranggotakan enam ilmuwan memakan waktu delapan bulan. Mereka diasingkan di sekitar lereng Mauna Loa, Hawaii.

Memantau perasaan dan performa dari seluruh kru ilmuwan selama berada di lingkungan terisolasi dinilai bisa membantu staf di Bumi nantinya ketika misi penjelajahan Mars di masa depan sudah dilakukan. Semuanya bertujuan untuk menentukan apakah awak astronaut mengalami depresi atau masalah komunikasi selama di Mars.

Credit  CNN Indonesia