Utusan
oposisi untuk AS, Carlos Vecchio, memasang foto Juan Guaido setelah
sebelumnya menurunkan foto Presiden Nicolas Maduro. Foto/Istimewa
WASHINGTON
- Perwakilan pemimpin oposisi Venezuela Juan Guaido telah mengambil
kendali atas tiga properti diplomatik negara itu di Amerika Serikat
(AS). Hal itu dikatakan oleh utusan Guaido untuk AS ketika oposisi
mendesak upaya untuk menggulingkan Presiden sosialis Nicolas Maduro.
Utusan
Guaido, Carlos Vecchio, mengatakan oposisi telah menguasai dua gedung
milik kementerian pertahanan Venezuela di Washington dan satu gedung
konsuler di New York. Dia menambahkan bahwa kelompok itu mengharapkan
untuk mengambil kendali kedutaan besar Venezuela di Washington "di
hari-hari yang akan datang."
Langkah itu diambil setelah Guaido,
presiden Majelis Nasional yang dikuasai oposisi, meminta konstitusi
untuk menjadi presiden sementara pada Januari. Ia beralasan bahwa
terpilihnya kembali Maduro pada pemilu bulan Mei 2018 lalu tidak sah.
"Kami
mengambil langkah-langkah ini untuk melestarikan aset Venezuela di
negara ini," kata Vecchio dari salah satu bangunan, kantor atase militer
Venezuela ke Washington, setelah melepas potret Maduro dari tembok dan
menggantinya dengan foto Guaido seperti dikutip dari TRT World, Selasa (19/3/2019).
AS
dan puluhan negara lain mengakui pemimpin oposisi Juan Guaido sebagai
pemimpin sementara negara kaya minyak itu ketimbang Presiden Nicolas
Maduro, yang menolak untuk mundur dan menuduh Guaido sebagai boneka AS.
Sementara
itu, Rusia, China, Turki, Kuba, dan negara-negara lain berpihak pada
Presiden Nicolas Maduro yang terpilih dalam pemilu yang diboikot
oposisi. Mereka memperingatkan AS dan sekutunya untuk tidak "campur
tangan" dalam urusan dalam negeri negara Amerika Selatan itu.
French President Emmanuel Macron is
considering banning all protests on the Champs Elysees after rioters
"yellow vests" damaged the iconic streets of Paris last week, officials
at the presidential office said on Monday.
Jakarta (CB) - Presiden Prancis Emmanuel Macron sedang
mempertimbangkan larangan semua aksi protes di Champs Elysees setelah
para perusuh "rompi kuning" merusak jalan ikonik Paris pekan lalu, kata
pejabat kantor kepresidenan, Senin.
Sabtu lalu, para pengunjuk rasa yang terkait dengan gerakan "rompi
kuning" membakar restoran ternama Fouquet di kawasan Champs Elysees
serta sejumlah kios surat kabar dan sebuah toko barang berkelas dunia
Longchamp.
Pasca kerusuhan Sabtu, yang mengingatkan kembali pada peristiwa
bentrokan kekerasan antara pengunjuk rasa dan polisi pada Desember di
Champs Elysees, Macron menggelar pertemuan dengan menteri dalam negeri
dan menteri kehakiman, Senin.
Macron berjanji akan mengambil "tindakan keras" secepat mungkin guna mencegah terulangnya kerusuhan pada Sabtu depan.
Sejak pertengahan November, pengunjuk rasa "rompi kuning" - kelompok
yang awalnya menuntut pengurangan pajak bahan bakar kemudian berubah
menjadi gerakan oposisi umum menentang pemerintah - menggelar aksi unjuk
rasa setiap Sabtunya di ibu kota Prancis.
Menteri
Dalam Negeri Jerman, Horst Seehofer menuturkan, pemerintah Jerman
mempertimbangkan untuk meningkatkan keamanan di masjid-masjid.
Foto/Istimewa
BERLIN
- Menteri Dalam Negeri Jerman, Horst Seehofer menuturkan, pemerintah
Jerman mempertimbangkan untuk meningkatkan keamanan di masjid-masjid.
Langkah ini diambil setelah adanya serangan teroris di Selandia Baru
terhadap dua masjid di negara itu.
“Situs keagamaan juga bisa
menjadi target teroris. Jika ada tanda bahaya, kami akan memperkuat
perlindungan terhadap mereka," kata Seehofer saat melakukan wawancara
dengan harian Bild, seperti dilansir Anadolu Agency pada Senin (18/3).
Dalam
wawancara itu, Seehofer mengatakan pemerintah setempat terus melakukan
kontak dengan komunitas agama untuk melindungi tempat ibadah mereka. Dia
menegaskan, setiap warga Jerman berhak beribadah dengan aman dan
nyaman, sesuai dengan kepercayaan mereka.
"Bagi
pemerintah federal, kebebasan beribadah adalah masalah utama. Penting
untuk bertindak tegas dan menggunakan ketelitian penuh hukum terhadap
kejahatan Islamofobia dan serangan terhadap masjid," ungkapnya.
Jerman,
negara berpenduduk lebih dari 81 juta orang, memiliki populasi Muslim
terbesar kedua di Eropa Barat setelah Prancis. Di antara 4,7 juta Muslim
di negara itu, tiga juta diantaranya berasal dari Turki.
Jakarta, CB -- Badan intelijen Turki
sedang menyelidiki serangan senjata di Utrecht, Belanda. Dilansir dari
AFP, penyelidikan ini dilakukan untuk menentukan apakah tembakan
tersebut merupakan serangan teror atau kemungkinan perselisihan
keluarga.
Hal ini diungkapkan oleh Presiden Turki Recep Tayyip
Erdogan. Tak lama setelah kejadian, polisi Belanda menangkap seorang
tersangka kelahiran Turki atas serangan di sebuah trem di kota Utrecht
yang menewaskan tiga orang dan lima lainnya cedera.
Pihak
berwenang Belanda mengatakan mereka sedang menyelidiki kemungkinan motif
teroris, tak terkecuali motif lain, termasuk perselisihan keluarga.
"Badan intelijen kami sedang menyelidiki semua ini, kepala intelijen
mengatakan kepada saya bahwa ia akan mengumpulkan semua detail dan akan
kembali kepada saya," kata Erdogan kepada saluran TV Turki, Ulke TV.
"Beberapa
mengatakan tembakan tersebut merupakan pertikaian keluarga. Namun, yang
lain mengatakan itu adalah tindakan teroris," katanya.
Menurut
media Turki, tersangka utama Gokmen Tanis lahir di Yozgat, Turki tengah.
Kantor berita negara Turki Anadolu mengutip kerabat dari tersangka
penyerang, mengatakan kejadian penembakan mungkin terjadi karena
perselisihan keluarga.
Ayah dari tersangka, Mehmet Tanis, mengatakan putranya harus dihukum jika terbukti bertanggung jawab.
Dia
mengatakan telah kehilangan kontak dengan putranya setelah kembali ke
tanah airnya pada 2008. Sedangkan putranya tersebut menetap di Belanda.
Ambulans diparkir di samping lokasi penembakan di Utrecht, Belanda, Senin (18/3).
Foto: AP Photo/Peter Dejong
Polisi Belanda menahan seorang pria kelahiran Turki.
CB,
UTRECHT -- Sedikitnya tiga orang tewas dan lima lainnya terluka dalam
penembakan di sebuah trem di Utrecht, Belanda, Senin (18/3). Polisi
Belanda mengatakan mereka menyelidiki insiden tersebut sebagai
kemungkinan serangan teroris.
Dilansir di Vox,
otoritas menahan satu tersangka, Gokmen Tanis (37 tahun). Wali Kota
Utrecht Jan van Zanen mengatakan sepertinya penembakan dilakukan satu
orang, namun ada kemungkinan terdapat pelaku lain.
CNN
melaporkan tersangka kedua telah ditahan. Zanen menambahkan belum
diketahui kaitan tersangka kedua dalam penembakan tersebut. Berikut
fakta mengenai penembakan di Utrecht sejauh ini.
Serangan terjadi sekitar pukul 10.45 waktu setempat di sebuah trem dekat October 24 Square.
Setidaknya tiga orang tewas dan lima lainnya luka-luka setelah seorang penembak melepaskan tembakan.
Pria bersenjata itu melarikan diri dari daerah itu setelah serangan itu. Juru bicara kepolisian Belanda Joost Lanshage, menurut Wall Street Journal, mengatakan polisi sedang menyelidiki apakah tersangka memiliki kaki tangan.
Polisi
Utrecht mengatakan mereka sedang menyelidiki penembakan itu sebagai
kemungkinan serangan teroris. Menurut surat kabar Belanda De Telegraaf, pejabat di Belanda menaikkan tingkat ancaman di Utrecht ke klasifikasi tertinggi untuk pertama kalinya setelah penembakan.
Polisi
telah menangkap tersangka utama dalam serangan itu, orang yang mereka
identifikasi sebagai Gökman Tanis, seorang pria kelahiran Turki.
Belum diketahui motif pasti serangan dan nama-nama korban.
Lokasi penembakan di Utrecht. (REUTERS/Piroschka van de Wouw)
Jakarta, CB -- Polisi Belanda telah
menangkap tersangka dalam penembakan di sebuah trem di Utrecht,
Belanda. AFP mengabarkan Kepala Polisi Utrecht mengumumkan penangkapan
tersebut dalam konferensi pers
"Kami baru saja diberitahu bahwa tersangka telah ditangkap," kata kepala polisi Utrecht, Rob van Bree, pada konferensi pers.
Polisi
sebelumnya mengatakan mereka sedang mencari tersangka kelahiran Turki,
Gokmen Tanis berusia 37 dan mengeluarkan foto dirinya.
Kepala dinas penanggulangan terorisme nasional Belanda Pieter-Jaap
Aalbersberg membenarkan penangkapan tersangka utama atas penembakan
tersebut.
Dia mengatakan pihak berwenang telah menurunkan
tingkat ancaman di Utrecht dari tingkat maksimum lima sebagai akibat
dari penangkapan.
Kasus penembakan di kawasan 24 Oktoberplein di
Utrecht, Belanda, pada Senin (18/3) pagi ini menelan tiga korban
meninggal dan sembilan orang lainnya mengalami luka-luka.
Polisi
menyebarkan foto-foto pria kelahiran Turki berusia 37 tahun, bernama
Gkmen Tanis yang diduga sebagai pelaku penembakan. Foto/Istimewa
UTRECHT
- Walikota Utrecht, Jan van Zaanen dalam sebuah pernyataan di akun
Twitternya menuturkan, tiga orang tewas dalam penembakan di trem. Dia
juga menuturkan bahwa sembilan orang lainnya terluka dalam penembakan
itu."Paling tidak tiga orang tewas dan sembilan lainnya luka-luka dalam
penembakan di sebuah trem Utrecht. Tiga diantaranya terluka cukup
parah," kata van Zaanen, seperti dilansir dutchnews pada Selasa
(18/3).Dia kemudian mengatakan, atas nama pemerintah Belanda dirinya
mengucapkan belasungkawa kepada korban dalam penembakan itu dan
mendoakan mereka yang terluka untuk segera pulih.Van Zaanen kembali
menegaskan bahwa pihak masih melihat kemungkinan ini adalah serangan
teroris. "Kami tidak dapat mengecualikan, pada kenyataannya kami
berasumsi, bahwa ada motif teroris," ungkapnya.Kepolisian Utrecht,
lanjut van Zaanen telah mengindentifikasi seorang pria yang diduga
sebagai pelaku penembakan. Tapi, van Zaanen mengatakan tidak menutup
kemungkinan ada pelaku lain dalam serangan itu."Orang-orang di Utrecht
disarankan untuk tetap berada di dalam rumah sambil menunggu informasi
lebih lanjut," ungkapnya.Sementara itu, polisi setempat telah
menyebarkan foto-foto pria yang diduga melakukan penembakan itu. Pria
itu diketahui kelahiran Turki berusia 37 tahun, bernama Gökmen Tanis.Dia
sedang dicari sehubungan dengan insiden di 24 Oktoberplein di dekat
stasiun kereta utama kota pada Senin pagi. Polisi telah mengatakan
kepada publik untuk tidak mendekati tersangka secara langsung.
Jakarta, CB -- Pasca penembakan di Utrecht, KBRI Den Haag mengimbau agar masyarakat Indonesia yang berdomisili di Belanda lebih waspada.
Dalam postingan di Instagram, KBRI mengimbau lima poin yakni:
1. Agar senantiasa waspada dan selalu memantau perkembangan situasi keamanan di wilayah tempat tinggal/bekerja masing-masing.
2. Agar menghindari kerumunan massa dan daerah-daerah yang menjadi konsentrasi kegiatan massa.
3. Apabila tidak terdapat kepentingan, dimohon agar tidak meninggalkan rumah.
4. Tetap mematuhi hukum yang berlaku dan instruksi/himbauan aparat keamanan setempat.
5.
Sekiranya terdapat hal yang perlu diketahui/dilaporkan, dapat
menghubungi KBRI Den Haag dengan alamat: Tobias Asserlaan 8, 2517 KC,
Den Haag.
Imbauan ini keluar pasca kejadian penembakan yang
terjadi di kawasan 24 Oktoberplein di Utrecht, Belanda, pada Senin
(18/3) pagi.
Dilansir dari Reuters, polisi mulai menyebarkan informasi pencarian laki-laki yang yang diduga bernama Gokmen Tanis.
"Polisi
meminta untuk mencari Gokmen Tanis (lahir di Turki) berusia 37 tahun
sehubungan dengan insiden pagi ini," kata satu pernyataan polisi.
AFP mengabarkan tiga orang tewas dan sembilan korban luka-luka dalam kejadian penembakan tersebut.
Jakarta, CB -- Beberapa orang terluka dalam penembakan di kawasan 24 Oktoberplein di Utrecht, Belanda, pada Senin (18/3) pagi.
"Penembakan
di #24oktoberplein di #Utrecht. Insiden dilaporkan pada 10.45. Beberapa
orang terluka," demikian pernyataan kepolisian Utrecht melalui Twitter
resmi mereka.
A shooting occurred on the #24oktoberplein in #Utrecht.
The incident has been reported at 10.45 hour. Multiple people have been
injured. The surrounding area has been cordoned off and we are
investigating the matter.
Juru bicara Kepolisian Pusat Belanda, Joost Lanshage, mengatakan kepada CNN bahwa penembakan terjadi di atau dekat trem.
Sebagaimana dikutip Reuters, sejumlah saksi mata mengatakan kepada RTV Utrecht bahwa seorang perempuan terlihat tergeletak di lokasi kejadian, sementara orang lain berlarian.
Lanshage memastikan bahwa penembakan sudah selesai. Namun, operasi polisi masih berlangsung.
Kepolisian menyatakan area di sekitar lokasi penembakan sudah ditutup. Aparat pun langsung menggelar penyelidikan.
Pemerintah setempat juga langsung mengerahkan petugas dari semua lembaga cepat tanggap Belanda.
Kuala Lumpur (CB) - Kepolisian Diraja Malaysia (PDRM) menangkap
12 warga Filipina dan seorang warga setempat dalam penyerbuan di
Semporna dan Tambunan, Sabah, pada 11 dan 12 Maret 2019, setelah diduga
terlibat dengan kelompok terorisme.
Kepala PDRM Irjen Pol Tan Sri Mohamad Fuzi Harun di Kuala Lumpur, Senin, mengatakan operasi dilakukan oleh Bagian Counter Terrorism Cabang Bukit Aman bekerjasama dengan Kantor Polisi Sabah dan Unit 69 Komando Polisi Diraja Malaysia (PDRM).
Penangkapan pertama dilakukan pada 11 Maret di Semporna yang
melibatkan lima lelaki warga Filipina dan seorang lelaki setempat
berusia 40 hingga 60 tahun.
Empat dari pelaku diduga terlibat dalam pertempuran bersama kelompok teroris Maute di Bandar Marawi, Filipina, pada 2017.
Fuzi mengatakan mereka turut memberi perlindungan kepada elemen kelompok
teroris Maute serta beberapa warga Timur Tengah yang bersembunyi di
Sabah.
Dua lagi pelaku yang ditahan diduga anggota kelompok Royal Sulu Force
(RSF) yang terlibat dalam insiden serangan di Lahad Datu dan Semporna
pada 2013.
"Mereka turut terlibat dalam merekrut anggota baru RSF dengan menjual
kartu keanggotaan kelompok tersebut dari kalangan warga Filipina yang
menetap di Sabah. Kedua pelaku terlibat melarikan diri ke selatan
Filipina setelah kekalahan RSF," katanya.
Ia menambahkan, kedua pelaku menyusup masuk ke Semporna untuk mengaktifkan lagi kelompok RSF di Sabah pada 2018.
Mohamad Fuzi mengatakan lima laki-laki dan seorang wanita warga Filipina
berusia antara 23 hingga 63 tahun ditahan dalam penangkapan kedua pada
11 Maret di Tambunan, Sabah.
Pelaku menyusup masuk ke Sabah pada Desember tahun lalu bersama anggota
kelompok lain untuk menghindari operasi tentara Filipina.
“Sementara itu, lima lagi pelaku ditahan karena terlibat dalam memberi
perlindungan kepada elemen kelompok teroris ASG dan kelompok Maute yang
masih bebas,” katanya.
Penangkapan ketiga, ujar dia, dilakukan pada 12 Maret di Tambunan,
Sabah, yang melibatkan seorang laki-laki warga Filipina berusia 39 tahun
yang bekerja sebagai buruh bangunan.
Pelaku ditahan karena memberikan perlindungan kepada kelompok teroris ASG dan kelompok teroris Maute yang masih bebas.
"Dengan penangkapan ini Bagian Counter Terrorism yakin dapat
memburu anggota kelompok ASG dan kelompok teroris Maute yang bersembunyi
di Malaysia, terutamanya di Sabah," katanya.
Kejaksaan Malaysia Segera Panggil Dua Unit Goldman Sachs
KUALA LUMPUR
- Kejaksaan Malaysia akan memanggil unit bank investasi Amerika Serikat
(AS), Goldman Sachs di London dan Hong Kong agar merespon dakwaan
kriminal yang diajukan pada mereka tahun lalu. Segra setelah terpilih
pada Mei 2018, pemerintahan baru Malaysia mendakwa tiga unit Goldman
Sachs karena dituduh membuat pernyataan tidak benar dan menghilangkan
fakta kunci terkait penerbitan obligasi bernilai USD6,5 miliar untuk
dana negara 1Malaysia Development Berhad (1MDB).
Kemarin, hanya
unit Goldman Sachs Singapura yang hadir dalam pemeriksaan pra-peradilan
di pengadilan Kuala Lumpur sebagai responden. “Pemanggilan baru akan
diberikan pada kantor Inggris dan Hong Kong Goldman Sachs menjelang
pemeriksaan pengadilan selanjutnya pada 24 Juni,” ungkap kejaksaan Aaron
Paul Chelliah, dilansir Reuters.
Skandal 1MDB memainkan peran
penting dalam kekalahan Najib Razak setelah hampir satu dekade berkuasa.
Pemerintahan baru yang dipimpin Perdana Menteri (PM) Mahathir Mohamad
segera membuka kembali berbagai investigasi korupsi. Najib yang
menyangkal semua tuduhan terhadapnya telah mendapat banyak dakwaan
kriminal yang sebagian besar terkait 1MDB. Dia juga dilarang
meninggalkan negara itu.
Departemen
Kehakiman AS memperkirakan total USD4,5 milair dikorupsi oleh para
pejabat tinggi 1MDB dan mitranya antara 2009 dan 2014, termasuk beberapa
dana yang dibantu pengumpulannya oleh Goldman Sachs. Otoritas Malaysia
saat ini berupaya memulangkan USD7,5 milair dana dari Goldman Sachs,
termausk USD600 juta fee yang dibayangkan pada bank itu untuk penerbitan
obligasi.
Goldman Sachs menyangkal tuduhan bersalah dan
menyatakan beberapa mantan pejabat pemerintahan Malaysia dan 1MDB
berbohong tentang bagaimana hasil penjualan obligasi itu akan digunakan.
Pengadilan terpisah di Kuala Lumpur juga digelar pada 15 April untuk
para jaksa mengajukan dokumen pada tim pengacara mantan bankir Goldman
Sachs, Roger Ng.
Ng merupakan warga Malaysia yang didakwa pada
19 Desember 2018 memberikan pernyataan tidak benar dalam penawaran
prospektus untuk penjualan obligasi 1MDB. Jaksa Zaki Arsyad menjelaskan
di pengadilan bahwa dia perlu lebih banyak waktu untuk memperoleh
sejumlah dokumen karena sebagian besar dari luar negeri. Ng awalnya akan
diekstradisi ke AS untuk menghadapi dakwaan pencucian uang yang
diajukan padanya oleh Departemen Kehakiman AS.
Malaysia
menyatakan pihaknya mungkin menunda ekstradisi ke AS hingga Ng dapat
menghadapi pengadilan di dalam negeri terlebih dulu. Mantan pejabat
Goldman Sachs lainnya, Tim Leissner dan pakar keuangan Malaysia Low Taek
Jho juga didakwa di AS atas tuduhan mencuri miliaran dolar dari 1MDB.
Leissner telah mengaku bersalah.
Low yang keberadaannya masih
tidak diketahui telah menyangkal melakukan kesalahan dan menolak kembali
ke Malaysia. Menurut Low, kasus yang diajukan padanya memiliki motif
politik. Low yang masuk daftar pencarian orang (DPO) di beberapa negara
diyakini bersembunyi di China atau Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA).
Namun, laporan itu belum dapat diverifikasi.
Atas kasus ini dan
sesuai permintaan Komisi Antikorupsi Malaysia (MACC) yang sedang
menyelidiki 1MDB, Kementerian Imigrasi Malaysia juga mencabut paspor
Low. Low dikenal sebagai pebisnis yang sering berfoya-foya dan membeli
barang mewah dengan harga selangit di New York.
Departemen Kehakiman AS menuduh Low terlibat pencurian senilai USD4,5
miliar dari 1MDB. Di Singapura, dia juga didakwa pencucian uang dan
penerimaan properti hasil curian. Otoritas terkait AS menyita hampir
USD2 miliar aset yang diduga dibeli dengan uang haram tersebut.
Barangnya
meliputi ratusan juta karya seni maestro, perhiasan mahal, properti
mewah, termasuk beberapa rumah di London yang ditaksir mencapai ratusan
juta poundsterling, dan kapal pesiar besar USD250 juta. ”Ini
mengecewakan karena semuanya bermuatan politik dan tidak memiliki
dasar,” kata pengacara Low.
Saat ini mantan PM Malaysia Najib
Razak yang juga rekan Low dan istrinya, Rosmah Mansor, didakwa korupsi
dan penyalahgunaan kekuasaan. Mereka terancam dipenjara puluhan tahun.
Saat berada di AS, Low dilaporkan sering menggelar pesta megah dan mewah
di atas standar warga Las Vegas. Para tamu dibawa dengan deretan mobil
limusin menuju satu tenda besar yang khusus didirikan untuk menampung
satu wahana kincir raksasa, komidi putar, penampilan sirkus, hingga klub
malam.
Sebelum pembunuhan Jamal Khashoggi, Pangeran
Mohammed bin Salman (MbS), disebut pernah memerintahkan sebuah kelompok
untuk membungkam pembangkang dan oposisi. (Tolga AKMEN/AFP)
Jakarta, CB -- Lebih dari setahun sebelum pembunuhan Jamal Khashoggi terjadi, Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MbS), disebut pernah memerintahkan sebuah kelompok untuk membungkam para pembangkang dan oposisi.
Hal
itu terungkap dari laporan New York Times mengutip seorang pejabat
Amerika Serikat yang membacakan laporan intelijen terkait hal tersebut.
Pejabat
AS itu menyebut kelompok tersebut sebagai Kelompok Intervensi Cepat
Saudi. Pembungkaman yang dilakukan kelompok itu termasuk melakukan
pengawasan secara ketat, penculikan, penahanan, hingga penyiksaan
terhadap sejumlah warga Saudi yang dianggap melawan kerajaan.
Laporan
itu memaparkan pembunuhan Khashoggi pada 2 Oktober lalu di gedung
konsulat Saudi di Istanbul merupakan bagian dari misi kelompok tersebut
untuk memberangus pembangkang secara lebih luas.
Hal tersebut dikutip intelijen dari sejumlah pejabat AS dan rekan beberapa warga Saudi yang menjadi korban misi tersebut.
Selain
pembunuhan Khashoggi, kelompok tersebut juga diduga terlibat dalam
penahanan sejumlah aktivis perempuan di Saudi pada tahun lalu.
Dikutip AFP, New York Times
melaporkan pada Juni lalu ketua kelompok tersebut bahkan pernah meminta
salah satu penasihat MbS untuk memberikan bonus tambahan. Bonus itu
diminta menyusul misi "pembungkaman" yang banyak dilakukan timnya selama
ini.
MbS dikabarkan memberi kewenangan Kelompok Intervensi Cepat Saudi untuk
beroperasi. Kelompok itu diawasi oleh Saud al-Qahtani, seorang anggota
keluarga kerajaan yang berkuasa di ranah pengadilan Saudi.
Laporan
intelijen AS tersebut tak merinci seberapa dalam keterlibatan MbS
dengan aktivitas kelompok tersebut. Namun, dokumen itu memaparkan bahwa
anggota kelompok itu melihat Qahtani sebagai "perpanjangan tangan" MbS
dalam memerintahkan misi untuk organisasi itu.
Qahtani sendiri
telah dipecat Saudi karena diduga terlibat pembunuhan Khashoggi. Sejauh
ini, sebanyak 11 pejabat Saudi telah didakwa atas kematian wartawan
pengkritik MbS tersebut.
Lima
di antara para terdakwa itu terancam hukuman mati. Saudi tak
menjelaskan apakah Qahtani termasuk dari 11 orang yang didakwa tersebut.
Sementara
itu, pejabat Saudi menolak untuk mengonfirmasi atau menyangkal
keberadaan tim tersebut. Kedutaan Saudi di Washington juga tak segera
menanggapi laporan surat kabar tersebut.
Penyiar
berita Russia 1 mengejek militer Amerika Serikat saat menyiarkan
laporan tentang rudal Zircon hipersonik, Minggu (17/3/2019).
Foto/Twitter @JuliaDavisNews
MOSKOW - Russia 1,
stasiun televisi pemerintah Rusia, menyombongkan rudal Zircon
hipersonik terbaru yang diklaim akan membuat sistem pertahanan rudal
Amerika Serikat (AS) menjadi debu. Misil canggih Moskow itu bisa terbang
dengan kecepatan 6.000 mph.
Dalam siarannya hari Minggu
(17/3/2019), televisi pemerintah tersebut mengejek militer Washington
dengan nada ancaman. Misil Zircon atau Tsirkon pernah diuji terbang pada
Desember lalu dan berhasil melesat dengan kecepatan 6.138 mil per jam
(mph).
Keberadaan rudal itu telah lama menjadi rahasia umum di
antara badan-badan intelijen AS. Namun, Presiden Rusia Vladimir Putin
baru mengonfirmasi pada pidato kenegeraan 20 Februari lalu bahwa
negaranya memang mengembangkan misil Zircon.
"AS
pernah mencari dominasi global melalui program misilnya. Mereka harus
meninggalkan ilusi, kami akan selalu merespons dengan respons timbal
balik," kata Putin dalam pidatonya sekitar tiga minggu lalu. Putin juga
mengklaim bahwa kemampuan rudal hipersoniknya tak terkalahkan.
Pengamat Rusia dan jurnalis Washington Post, Julia Davis, menuliskan apa yang disiarkan dalam program berita Russia 1
di Twitter. "Sistem pertahanan rudal AS akan berubah menjadi debu,"
tulis dia, mengomentari laporan tentang rudal Zircon hipersonik.
Misil
itu awalnya dirancang untuk menargetkan kapal. Namun, menurut laporan
Fast Company, senjata itu sekarang diyakini juga memiliki kemampuan
menyerang target di darat.
Laporan berita televisi pemerintah itu
disiarkan jurnalis Dmitry Kiselyov. "Pembawa acara TV negara Rusia
Dmitry Kiselyov membanggakan bahwa rudal jelajah hipersonik Tsirkon
mampu mengatasi sistem pertahanan rudal AS, menjadikannya tidak berarti.
Orang Amerika sendiri tidak percaya akan hal itu. Layar (televisi)
berbunyi; 'Sistem pertahanan rudal AS berubah menjadi debu'," tulis
Davis via akun Twitter-nya, @JuliaDavisNews.
“Saya
tidak bisa terlalu menekankan seberapa sering saya mendengar para
pakar, politisi, dan pejabat pemerintah berpengaruh di TV Rusia
mengatakan; 'Amerika bukan teman kita', 'Kami tidak ingin menjadi teman
mereka', 'Mereka tidak akan pernah menjadi teman kami', lanjut Davis,
yang secara teratur memantau dan melaporkan di media pemerintah Rusia.
"Percayalah, mereka bersungguh-sungguh," imbuh dia.
Sementara itu, mengutip laporan Newsweek,
sebuah penilaian intelijen Amerika Serikat menyimpulkan bahwa rudal
hipersonik Rusia dapat dikerahkan sepenuhnya pada awal 2022 dan bahwa
pertahanan AS saat ini tidak mampu menghentikannya.
Laporan tersebut juga mencatat bahwa laporan "penilaian ancaman" Kantor
Akuntansi Umum pemerintah AS telah menyatakan bahwa AS tidak memiliki
tindakan pencegahan yang ada untuk memerangi serangan rudal hipersonik,
serangan yang bahkan dapat menghasilkan hulu ledak nuklir.
Pengumuman
Putin yang mengonfirmasi pengembangan rudal Zircon hipersonik itu
muncul tidak lama setelah pemerintahan Donald Trump mengumumkan bahwa AS
akan menarik diri dari Perjanjian Intermediate-Range Nuclear Forces
(INF) 1987. Rusia juga mengikuti jejak AS dalam upaya mengakhiri
perjanjian pencegah perang nuklir tersebut.
Para peserta didik kamp pendidikan vokasi etnis
Uighur di Kota Kashgar, Daerah Otonomi Xinjiang, Cina, belajar menjahit
pakaian, Jumat (3/1/2019).
Foto: ANTARA FOTO/M. Irfan Ilmie
Cina menerbitkan buku putih yang menguraikan langkah-langkah deradikalisasi.
CB,
BEIJING -- Otoritas Cina mengklaim telah menangkap hampir 13 ribu
teroris di Provinsi Xinjiang sejak 2014. Hal itu disampaikan Beijing
melalui buku putih yang menguraikan tentang langkah-langkah
deradikalisasi di wilayah tersebut.
"Sejak
2014, (otoritas) Xinjiang telah menghancurkan 1.588 geng kekerasan dan
teroris, menangkap 12.995 teroris, menyita 2.052 alat peledak, menghukum
30.645 orang karena 4.858 kegiatan keagamaan ilegal, dan mengamankan
345.229 salinan materi agama ilegal," kata Pemerintah Cina dalam buku
putihnya.
Menurut Cina, hanya sebagian kecil dari mereka
yang ditangkap menghadapi hukuman berat. Hukuman tersebut dijatuhkan
kepada para pemimpin kelompok teror.
Sementara, mereka
yang terpengaruh oleh ideologi ekstrem, menerima pendidikan, dan
pelatihan khusus. Tujuannya agar menumbuhkan kesadaran baru bahwa yang
mereka lakukan adalah sebuah kekeliruan.
Buku putih itu
menyebut Xinjiang menghadapi tantangan khusus sejak serangan World Trade
Center di Amerika Serikat (AS) pada 11 September 2001. Setelah
peristiwa itu, para ekstremis Turkestan Timur mengintensifkan
kegiatannya di Cina.
"Mereka meneriakkan kata-kata jahat,
(seperti) 'masuk surga dengan mati syahid dengan jihad', mengubah
beberapa orang menjadi ekstremis dan teroris yang sepenuhnya
dikendalikan pikiran, dan bahkan berubah menjadi setan pembunuh," tulis
buku putih tersebut.
World Uyghur Congress (WUC) segera
mengecam buku putih Pemerintah Cina tersebut. "Cina sengaja mendistorsi
kebenaran," kata juru bicara WUC Dilxat Raxit dalam sebuah pernyataan.
Menurut
dia, penanggulangan terorisme adalah dalih untuk menekan etnis Uighur.
"Tujuan sebenarnya dari apa yang disebut deradikalisasi adalah untuk
melenyapkan iman dan dengan saksama melakukan dosa," ujarnya.
Pemerintah
Cina telah dituding menahan lebih dari 1 juta Muslim Uighur di
kamp-kamp konsentrasi di Xinjiang. Namun, Beijing membantah hal tersebut
Menurutnya,
apa yang dibangun di Xinjiang adalah pusat reedukasi dan pelatihan
vokasi. Cina mengklaim kehadiran pusat tersebut penting untuk menghapus
kemiskinan di Xinjiang.
Mereka pun mengklaim bahwa para
peserta telah menandatangani perjanjian untuk menerima pelatihan vokasi
tersebut. Namun, banyak pihak meragukan klaim Cina. Hal itu terutama
disebabkan keengganan Cina memberi kemudahan akses bagi dunia
internasional untuk berkunjung ke Xinjiang.
Menlu Retno Marsudi memanggil Dubes Australia,
menyampaikan kecaman atas pernyataan senator yang menuduh imigran
Muslim sebagai penyebab teror di Selandia Baru. (CNNIndonesia/Natalia
Santi)
Jakarta, CB -- Menteri Luar Negeri Retno Marsudi memanggil
Duta Besar Australia di Jakarta, Gary Quinlan, untuk menyampaikan
kecaman terhadap pernyataan salah satu senator Negeri Kanguru, Fraser
Anning, yang menuduh imigran Muslim sebagai penyebab teror di masjid Selandia Baru.
Juru bicara Kemlu RI, Arrmanatha Nasir, menuturkan Retno memanggil Gary ke kantornya pada Senin (18/3) pagi.
"Ibu
Menlu telah memanggil dubes Australia untuk Indonesia pagi ini. Dalam
pertemuan tersebut, Menlu mengecam keras pernyataan Senator Australia
Fraser Anning. Pernyataan tersebut menunjukkan ketidakpahaman mengenai
Islam," ucap Arrmanatha dalam jumpa pers di Kemlu RI.
Arrmanatha
menyebut pandangan Anning terhadap Islam "sangat picik." Menurutnya,
menghubungkan Islam atau agama apa pun dengan kekerasan seperti
terorisme adalah suatu pandangan yang salah.
"Pemikiran yang disampaikan senator Australia tersebut tidak pantas
mendapat tempat di dunia modern seperti ini, baik di Australia,
Indonesia, atau tempat manapun," kata Arrmanatha.
Arrmanatha juga tak menutup kemungkinan pemerintah melarang senator dari negara bagian Queensland itu masuk ke Indonesia.
Dia menyebut memberikan izin masuk warga negara asing, termasuk Anning, ke Indonesia sepenuhnya "merupakan hak pemerintah."
"Sampai
saat ini tidak ada rencana untuk yang bersangkutan untuk pergi ke
Indonesia. Apabila ada rencana, adalah hak pemerintah untuk tidak
berikan izin masuk bagi yang bersangkutan," ucap Arrmanatha.
Dalam
pernyataannya pada Jumat (15/3), Anning mengatakan penyebab penembakan
massal yang terjadi di dua masjid di pusat Kota Christchurch bukan
aturan kepemilikan senjata yang lemah.
Dia menganggap program
imigrasi yang yang mengizinkan kaum-kaum imigran Muslim fanatik tinggal
di Selandia Baru menjadi penyebab utama teror terjadi. Dalam
pernyataannya, Anning bahkan menyebut Islam sama dengan fasisme.
"Mari
kita perjelas, ketika umat Muslim menjadi korban dalam kekerasan hari
ini, biasanya mereka lah yang menjadi pelaku. Secara global, kaum Muslim
banyak membunuh orang dengan mengatasnamakan agama," kata Anning.
Sepuluh warga sipil tewas dalam agresi
baru yang dilancarkan oleh koalisi pimpinan AS terhadap Kamp Al-Baghouz
di pinggira tenggara Dei Ez-Zour..
Deir Ez-Zour (CB) - Sepuluh
warga sipil tewas dalam agresi baru yang dilancarkan oleh koalisi
pimpinan AS terhadap Kamp Al-Baghouz di pinggira tenggara Dei Ez-Zour.
Beberapa sumber sipil mengatakan kepada wartawan SANA beberapa pesawat
koalisi pimpinan AS pada Ahad (17/3) membom Kamp Al-Baghouz dan daerah
sekitarnya, sehingga merenggut 10 jiwa warga sipil, termasuk anak-anak
dan perempuan yang menyelamatkan diri dari kejahatan gerilyawan Da'esh
di pinggir tenggara Deir Ez-Zour di sepanjang perbatasan Irak.
Sumber tersebut menyatakan serangan udara yang terus dilancarkan oleh
koalisi telah membuat daerah Al-Baghouz benar-benar menjadi puing, belum
lagi bertambahnya jumlah orang yang tewas, terutama anak kecil,
demikian laporan SANA --yang dipantau Antara di Jakarta, Senin siang.
Pada Senin (11/3), tak kurang dari 50 warga sipil --termasuk anak-anak
dan perempuan-- gugur dalam pembantaian baru yang dilancarkan oleh
koalisi internasional pimpinan AS di Kamp Al-Baghouz di bagian timur
Deir Ez-Zour.
Beberapa sumber setempat mengatakan lebih dari 50 warga sipil meninggal
dan sejumlah lagi cedera akibat serangan udara oleh koalisi pimpinan AS
terhadap Kamp Al-Baghouz.
Sumber itu menyatakan agresi koalisi internasional pimpinan AS tersebut
ditujukan kepada puluhan keluarga yang berusaha menyelamatkan diri dari
daerah tempat anggota Da'esh berada.
Menurut jumlah itu, jumlah korban meninggal tampaknya akan bertambah sebab kebanyakan orang yang cedera menderita luka serius.
Pada Kamis dua pekan lalu (7/3), beberapa pesawat tempur koalisi
pimpinan AS membom tempat pertemuan warga sipil dengan menggunakan
fosfor putih di sekitar Desa Al-Baghouz di dekat perbatasan Suriah-Irak,
sehingga menewaskan banyak warga sipil, kebanyakan perempuan dan anak
kecil.
Koalisi pimpinan AS sering melancarkan serangan udara dan melakukan pembantaian dengan dalih "memerangi kelompok teror Da'esh".
Sejak koalisi tersebut dibentuk secara tidak sah di luar jurisdiksi
Dewan Keamanan PBB pada Agustus 2014, dengan dalih "memerangi petempur
Da'esh", koalisi itu telah melakukan pembantaian terhadap warga sipil
yang tak berdosa, menewaskan ratusan orang, dan melukai banyak warga
lain dan menghancurkan prasarana.
Suriah telah berulangkali menuntut, melalui puluhan surat kepada
Sekretaris Jenderal PBB dan Presiden Dewan Keamanan PBB, tindakan segera
dan sungguh-sungguh bagi dihentikannya serangan semacam itu dan
dilakukannya tindakan yang perlu untuk menetapkan mekanisme independen
internasional guna menyelidiki kejahatan koalisi tersebut.
Komite koordinasi Suriah dan Rusia yang
mengawasi kepulangan orang Suriah yang mengungsi mengungkapkan bahwa
penghuni Kamp Ar-Rukban menjadi sasaran bentuk baru pemerasan oleh
kelompok gerilyawan yang memiliki hubungan dengan AS yang tersebar di
Daeah At-Tanf.
.
Moskow (CB) - Komite
koordinasi Suriah dan Rusia yang mengawasi kepulangan orang Suriah yang
mengungsi mengungkapkan bahwa penghuni Kamp Ar-Rukban menjadi sasaran
bentuk baru pemerasan oleh kelompok gerilyawan yang memiliki hubungan
dengan AS yang tersebar di Daeah At-Tanf.
Komite tersebut mengatakan di dalam satu pernyataan pada Ahad (17/3)
sejak Mei 2018, lebih dari 800 orang Suriah yang mengungsi dan keluar
dari Kamp Ar-Rukban, dipaksa membayar uang sebanyak 300 dolar AS per
orang kepada kelompok gerilyawan tersebut, kata Kantor Berita Suriah,
SANA --yang dipantau Antara di Jakarta, Senin siang. Tujuan pembayaran
uang itu ialah agar mereka diizinkan meninggalkan kamp tersebut.
Ditambahkannya tak seorang pun bisa keluar, sebab orang tua, perempuan orang cacat dan anak kecil tidak mempunyai uang.
"Orang Suriah itu yang telah meninggalkan kamp tersebut takut untuk
melaporkan peristiwa ini secara terbuka karena mereka takut itu bisa
membahayakan mereka yang masih ada di sana, terutama keluarga mereka,"
tambah pernyataan tersebut.
Sebuah
misil ditembakkan dari sistem pertahanan rudal Aegis yang dipasang di
kapal perang USS Decatur Amerika Serikat. Foto/Flickr/Gonzalo Alonso
TOKYO
- Washington dan Tokyo sedang berupaya mengembangkan radar baru untuk
sistem pertahanan rudal Aegis yang dipasang pada kapal-kapal perang
Angkatan Laut Amerika Serikat (AS). Sumber diplomatik Jepang
mengungkapkan proyek radar itu kepada kepada kantor berita Kyodo, hari Minggu.
Diplomat
yang menolak disebutkan namanya itu mengatakan radar baru itu bertujuan
untuk melawan senjata baru, termasuk rudal jelajah hipersonik yang
sedang dikembangkan oleh China dan Rusia. Menurut sumber tersebut,
koordinasi pada proyek telah memasuki tahap akhir.
Jepang, menurut laporan Kyodo yang dikutip Sputnik,
Senin (18/3/2019), menggunakan usaha patungan sebagai sarana untuk
memperkuat pertahanannya terhadap kemungkinan serangan dari Korea Utara,
yang Tokyo anggap sebagai ancaman yang layak terhadap keamanan
nasional.
Sementara
itu, keputusan Jepang untuk bergabung dengan proyek ini telah
menimbulkan kekhawatiran bahwa hal itu dapat dilihat sebagai pemicu
perlombaan senjata baru antara negara-negara adidaya dunia.
Saat
ini, kapal-kapal perang AS mengandalkan sistem radar AN/SPQ-9B, yang
diklaim mampu mendeteksi ancaman-ancaman rudal yang terbang rendah.
Namun, sistem ini menggunakan radar yang berputar tradisional, yang
secara inheren rentan terhadap bintik-bintik buta.
Masih menurut
Kyodo, satu unit sistem AN/SPQ-9B berharga sekitar USD4,1 juta.
Sedangkan sistem baru kemungkinan akan jauh lebih mahal.
Sistem
baru akan menjadi radar yang tidak berputar, yang menyediakan cakupan
360 derajat secara konstan. Sistem itu akan digunakan bersama dengan
sistem lain, AN/SPY-6, yang berspesialisasi dalam target ketinggian
tinggi dan dijadwalkan akan dikirimkan mulai tahun 2020.
Aegis adalah sistem pertahanan rudal utama maritim yang awalnya dikembangkan oleh Missile and Surface Radar Division of RCA Corporation dan saat ini diproduksi oleh Lockheed Martin.
Pada
tahun 2016, AS meluncurkan versi berbasis darat stasioner pertama, yang
disebut Aegis Ashore, di Rumania. Rusia telah berulang kali mengutuk
pengerahan sistem pertahanan rudal Aegis Ashore di negara-negara dekat
perbatasan Rusia, karena dapat dengan mudah digunakan untuk peluncuran
rudal ofensif.
Sistem pertahanan rudal S-400 Rusia. Foto/Istimewa
WASHINGTON
- Pembelian sistem pertahanan rudal S-400 Rusia oleh Turki akan
menghadirkan masalah nasional bagi NATO yang tidak akan dapat
menggunakan pesawat F-35 bersamaan dengan sistem pertahanan itu. Hal itu
diungkapkan oleh pejabat senior Amerika Serikat (AS).
Para
pejabat, yang berbicara singkat kepada sekelompok wartawan dengan syarat
anonim, mengatakan pembelian sistem S-400 Turki tidak sama dengan
penarikan dari NATO. Namun pembelian Ankara harus dilihat sebagai
masalah keamanan nasional, bukan hanya keputusan komersial.
"Kami
terus bekerja pada sejumlah opsi untuk memastikan bahwa partisipasi
Turki dalam aliansi NATO dan hubungan bilateral dapat terus berlanjut
dan tanpa hambatan," kata salah satu pejabat.
"Gravitasi
risiko terhadap F-35 baik untuk Amerika Serikat dan sekutu NATO adalah
sedemikian rupa sehingga kedua sistem tidak dapat ditempatkan bersama,"
imbuhnya seperti dikutip dari Channel News Asia, Minggu (17/3/2019).
Turki
yang juga anggota NATO telah berulang kali mengatakan berkomitmen untuk
membeli sistem pertahanan rudal Rusia, meskipun ada peringatan dari AS
bahwa S-400 tidak dapat diintegrasikan ke dalam sistem pertahanan udara
NATO.
Departemen Luar Negeri AS minggu lalu mengatakan Washington
telah mengatakan kepada Turki bahwa jika membeli sistem S-400, AS harus
menilai kembali partisipasi Ankara dalam program pesawat tempur
Lockheed Martin F-35.
AS
berusaha membujuk Turki untuk membeli sistem pertahanan Patriot
buatannya, tetapi Presiden Turki Tayyip Erdogan mengatakan Ankara tetap
berkomitmen pada kesepakatan untuk sistem pertahanan rudal
darat-ke-udara Rusia.
Para pejabat senior AS mengatakan tawaran
Washington untuk menjual Patriot ke Turki terus berlanjut dan kedua
pihak tetap dalam negosiasi tentang hal itu.
Pemerintah Turki
telah melewatkan "tenggat waktu lunak" yang ditetapkan oleh Washington
untuk memutuskan apakah akan membeli sistem perisai rudal Raytheon Co.
Patriot senilai USD 3,5 miliar. Penawaran resmi berakhir pada akhir
bulan ini.
Pada hari Kamis, Erdogan mengulangi bahwa Ankara tidak mungkin mundur dari kesepakatan dengan Rusia.
Desakan
Turki untuk membeli sistem Rusia berisiko memicu krisis diplomatik baru
dengan Washington. Jika Ankara meneruskan kesepakatan Rusia, Turki juga
bisa menghadapi sanksi berdasarkan undang-undang AS yang dikenal
sebagai Melawan Musuh Amerika Lewat Sanksi.
Krisis diplomatik
terakhir antara kedua sekutu NATO itu berkontribusi mendorong lira Turki
ke rekor terendah pada bulan Agustus. Perselisihan tentang strategi di
Suriah, sanksi Iran dan penahanan staf konsuler AS tetap belum
terselesaikan, dan masalah pertahanan rudal mengancam untuk memperluas
keretakan lagi.
Ribuan Demonstran di Pusat Kota Madrid Dukung Separatis Catalan
MADRID
- Ribuan pendukung kemerdekaan Catalan berunjuk rasa di pusat Kota
Madrid untuk menentang pengadilan terhadap 12 pemimpin oposisi. Para
pemimpin oposisi Catalan itu terancam penjara atas peran mereka
menyelenggarakan referendum kemerdekaan dari Spanyol pada 2017.
Para
demonstran yang melakukan perjalanan dari wilayah Catalonia untuk
berunjuk rasa itu mengibarkan bendera Catalan dan membawa spanduk
bertulis “Penentuan nasib sendiri itu bukan kejahatan.”
Penyelenggara
unjuk rasa memperkirakan sebanyak 120.000 orang mengikuti demonstrasi
itu. Adapun kepolisian menyatakan pengunjuk rasa mencapai 18.000 orang.
Ketegangan antara Madrid dan Barcelona itu terjadi sejak deklarasi
kemerdekaan Catalonia pada akhir 2017, tapi pengadilan terhadap 12
pemimpin separatis telah merusak proses negosiasi.
Ke-12
orang itu diadili di Madrid dengan berbagai dakwaan mulai dari
pemberontakan hingga penyalahgunaan dana. Semua tuduhan itu disangkal
para pemimpin separatis. Krisis Catalan itu mewarnai pemilu 28 April
dengan tiga partai sayap kanan, yakni konservatif Partai Rakyat (PP),
sayap kanan-tengah Ciudadanos, dan sayap kanan-jauh Partai Vox, mendesak
Spanyol mengambil sikap lebih keras pada separatis.
Survei
menunjukkan dukungan untuk partai-partai Catalan mungkin semakin kuat
jika Perdana Menteri (PM) Pedro Sanchez membentuk pemerintahan setelah
pemilu. Sebagian besar survei menunjukkan kubu Sosialis Sanchez
memenangkan sebagian besar kursi tapi tidak dapat meraih mayoritas
parlemen.
Sanchez berkuasa dengan memenangkan mosi tidak percaya
tahun lalu dengan dukungan partai-partai separatis Catalan, tapi tidak
bisa meloloskan rancangan anggarannya sehingga membuatnya menyerukan
pemilu lebih awal.
PM Selandia Baru, Jacinda Ardern, memastikan
kabinetnya sepakat memperketat aturan mengenai kepemilikan senjata pada
Senin (18/3), tiga hari setelah teror penembakan di dua masjid di
Christchurch. (Reuters/Ross Setford)
Jakarta, CB -- Kabinet pemerintahan Selandia Baru sepakat memperketat aturan mengenai kepemilikan senjata pada Senin (18/3), tiga hari setelah teror penembakan di dua masjid di Christchurch.
"Kami
sudah mencapai kesepakatan sebagai kabinet, kami bersatu," ujar Perdana
Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, setelah menggelar rapat kabinet,
sebagaimana dikutip AFP.
Ardern kemudian mengatakan
bahwa kabinetnya akan menggodok revisi aturan tersebut dan bakal
mengumumkan rinciannya sebelum rapat kabinet Senin pekan depan.
"Ini
berarti dalam waktu 10 hari setelah aksi terorisme mengerikan, kami
akan mengumumkan revisi yang akan, saya yakin, membuat komunitas kami
lebih aman," tutur Ardern seperti dilansir Reuters.
AFP melaporkan bahwa Selandia Baru sudah pernah memperketat
undang-undang kepemilikan senjata pada 1992 lalu, dua tahun setelah
seorang pria yang memiliki masalah kejiwaan menembak mati 13 orang di
Kota Aramoana.
Aturan itu membatasi akses pembelian senapan semi-otomatis. Namun, undang-undang tersebut masih dianggap lemah,
Berdasarkan undang-undang tersebut, warga berusia di atas 16 tahun bisa mengajukan izin kepemilikan senjata api.
Izin tersebut berlaku selama 10 tahun setelah mereka menyelesaikan ujian
keselamatan dan pemeriksaan latar belakang oleh kepolisian.
Namun,
kepolisian Selandia Baru tahun lalu menyatakan bahwa undang-undang
tersebut tak mengatur registrasi sebagian besar senjata.
Hingga kini, kepolisian Selandia baru bahkan tak mengetahui jumlah senjata api yang dimiliki secara legal maupun ilegal.
Menurut
perkiraan kepolisian pada 2014 lalu, ada 1,2 juta senjata api legal
yang dimiliki warga sipil. Dengan demikian, 1 dari 4 orang di Selandia
Baru memiliki senjata.
Ardern
mencatat sejumlah kegagalan pemerintah sebelumnya untuk merevisi
undang-undang ini. Ia pun memastikan bahwa pemerintahannya akan
mempertimbangkan kembali larangan kepemilikan senjata semi-otomatis.
Agenda
revisi aturan senjata ini kembali mencuat setelah pelaku penembakan di
Masjid Al Noor dan Masjid Linwood pada Jumat lalu diketahui menggunakan
senjata semi-otomatis gaya militer.
Sang pelaku melepaskan tembakan secara membabi buta hingga menewaskan setidaknya 50 orang dan melukai 50 lainnya.
Ilustrasi penyelidikan teror Christchurch. (AP Photo/Mark Baker)
Jakarta, CB -- Pasukan pemberantas terorisme Australia menggeledah dua rumah yang diduga berhubungan dengan Brenton Tarrant, pelaku penembakan masjid di Christchurch, Selandia Baru, Senin (18/3).
Rumah
tersebut masing-masing terletak di Kota Sandy Beach dan Lawrence, New
South Wales. Kedua rumah itu berjarak tak jauh dari kota kelahiran
Tarrant di Grafton.
"Tujuan utama penggeledahan itu adalah untuk
secara formal mencari sejumlah materi yang mungkin dapat membantu
penyelidikan yang tengah dilakukan kepolisian Selandia Baru," bunyi
pernyataan otoritas Australia seperti dikutip AFP.
Canberra
menyatakan keluarga Tarrant "terus membantu kepolisian dalam
penyelidikan." Otoritas Australia menganggap hingga kini keluarga
Tarrant tak menimbulkan ancaman bagi warga sekitar.
Selandia Baru telah mendakwa Tarrant atas penembakan di dua masjid di
pusat Kota Christchurch pada Jumat pekan lalu. Insiden itu menewaskan 50
orang dan melukai 50 lainnya.
Tarrant mengakui dirinya sendiri
sebagai penganut supremasi kulit putih. Dia menyiarkan aksi
penembakannya secara langsung di Facebook.
Tarrant juga sempat mengunggah sejumlah pernyataan rasis dan manifesto di akun Twitter pribadinya sebelum beraksi.
Dia merupakan warga Australia yang diketahui tumbuh besar di Grafton.
Tarrant kerap berpergian ke luar negeri selama satu dekade terakhir dan
menetap di Dunedin, Selandia Baru, dalam beberapa tahun belakangan.
Menteri
Dalam Negeri Australia, Peter Dutton, menjelaskan Tarrant hanya
menghabiskan waktu 45 hari di Negeri Kanguru selama tiga tahun terakhir.
Dutton
juga menuturkan Tarrant tidak masuk dalam daftar teroris aparat
keamanan Australia. Ia membantah dugaan Australia mengabaikan ancaman
teror yang berasal dari kaum ekstremis sayap kanan seperti Tarrant.
Dia menuturkan Organisasi Keamanan Intelijen Australia (ASIO) terus memantau aktivitas kelompok-kelompok ekstrem kanan.
"Kelompok-kelompok
ekstremis ini, neo-nazi, supremasi kulit putih, kelompok ekstrem
kanan-atau istilah apa pun yang ingin Anda terapkan-mereka sudah berada
dalam radar ASIO," ucap Dutton.
Kubah Nabi, Kompleks Masjid Al Aqsha, Yerusalem, Palestina.
Foto: Screen Capture Youtube
Israel menutup area Bab Al-Rahma di kompleks Masjid Al-Aqsha.
CB,
YERUSALEM -- Palestina dan Yordania menolak campur tangan Israel dalam
urusan status kompleks Masjid Al-Aqsha. Hal itu disampaikan Kementerian
Luar Negeri dari dua negara tersebut secara terpisah pada Ahad (17/3)
waktu setempat.
Kedua
menteri luar negeri dari Palestina dan Yordania sama-sama mengecam
pengadilan Israel yang mengeluarkan keputusan terkait penutupan area Bab
Al Rahma (pintu belas kasih) yang ada di kompleks Masjid Al-Aqsha di
Kota Tua Yerusalem Timur yang diduduki.
“Kedua kementerian menekankan bahwa Israel tak memiliki yuridiksi atas masjid Al-Aqsha,” seperti dilansir Maan News pada Senin (18/3).
Kemenlu
Palestina mengatakan bahwa putusan pengadilan Israel merupakan langkah
awal bagi Israel untuk mengambil alih seluruh situs suci tersebut. Hal
itu sebagaimana diminta oleh kelompok-kelompok ekstremis sayap kanan
Israel yang berusaha untuk menghancurkan situs Islam dalam rangka
membangun sebuah tempat ibadah Yahudi sebagai gantinya.
Sementara,
Kemenlu Yordania mengatakan bahwa berdasarkan hukum internasional
Yerusalem Timur dan Masjid Al-Aqsha tak bisa dikenai sistem peradilan
Israel. Pernyataan itu juga mengatakan Bab Al Rahma adalah bagian dari
kompleks Masjid Al-Aqsha dan Departemen Wakaf Islam di Yerusalem menjadi
satu-satunya pihak yang bertanggungjawab atas urusan Al-Aqsha.
Kemenlu
Yordania menyerukan untuk membatalkan keputusan pengadilan Israel.
Yordania meminta Israel bertanggungjawab atas segala akibat dari
keputusan tersebut.
Sebelumnya Pengadilan Israel
mengeluarkan keputusan untuk menutup Bab Al-Rahma dan memberikan
Departemen Wakaf untuk mengajukan banding dalam 60 hari atas keputusan
tersebut.
Seorang
perwira polisi India menembakkan gas air mata ke arah demonstran selama
protes terhadap pembunuhan di Kashmir, di Srinagar 8 Mei 2018.
Foto/REUTERS/Danish Ismail/File Photo
NEW DELHI
- Konflik singkat antara India dan Pakistan pada bulan lalu berlanjut
pada aksi saling ancam untuk menghujani rudal satu sama lain. Lima
sumber yang mengetahui masalah ini mengatakan hanya intervensi para
pejabat Amerika Serikat, termasuk Penasihat Keamanan Nasional John
Bolton, yang bisa mencegah konflik menjadi lebih besar.
Pada satu
tahap, India mengancam akan menembakkan setidaknya enam rudal ke
Pakistan, dan Islamabad mengatakan akan menanggapi dengan serangan rudal
tiga kali lipat. Hal itu dipaparkan diplomat Barat, sumber-sumber
pemerintah di New Delhi, Islamabad dan Washington, yang dilansir Reuters, Senin (18/3/2019).
Cara
di mana ketegangan tiba-tiba memburuk dan mengancam akan memicu perang
antar-negara bersenjata nuklir itu menunjukkan bagaimana wilayah
Kashmir—yang diklaim keduanya dan merupakan inti dari permusuhan
mereka—tetap menjadi salah satu titik api paling berbahaya di dunia.
Perseteruan
itu belum melampaui ancaman, dan tidak ada pernyataan bahwa misil yang
terlibat itu tidak lebih dari senjata konvensional, tetapi kedua negara
itu menciptakan kekhawatiran di kalangan resmi di Washington, Beijing
dan London.
Kantor berita Reuters telah menyatukan semua
peristiwa yang menyebabkan krisis militer paling serius di Asia Selatan
sejak 2008 itu, serta upaya diplomatik bersama untuk membuat kedua
pihak mundur.
Pertikaian yang mendidih pecah menjadi konflik
akhir bulan lalu ketika pesawat-pesawat tempur India dan Pakistan
terlibat dalam pertempuran udara di Kashmir pada 27 Februari, sehari
setelah serangan oleh para jet tempur India yang diklaim ditargetkan
terhadap sebuah kamp militan di Pakistan. Islamabad membantah ada kamp
militan di daerah itu dan mengatakan bom-bom India meledak di lereng
bukit yang kosong.
Dalam
bentrokan pertama mereka sejak perang terakhir antara kedua negara pada
tahun 1971, Pakistan menembak jatuh sebuah pesawat jet tempur India dan
menangkap pilotnya setelah sang pilot terlontar dari pesawatnya di
Kashmir yang dikuasai Pakistan.
Beberapa jam kemudian,
video-video pilot India yang berdarah, diborgol dan ditutup matanya,
muncul di media sosial. Dalam video itu, sang pilot mengidentifikasi
dirinya dengan para interogator Pakistan, yang memperdalam kemarahan di
New Delhi.
Perdana Menteri India Narendra Modi yang menghadapi
pemilihan umum pada bulan April-Mei berada di bawah tekanan untuk
merespons.
Malam itu, Penasihat Keamanan Nasional India, Ajit Doval, berbicara
mengenai jalur aman kepada kepala Intelijen Antar-Layanan Pakistan
(ISI), Asim Munir, untuk memberitahunya bahwa India tidak akan mendukung
kampanye baru "kontra terorisme" bahkan setelah enangkapan pilot. Hal
itu diungkap sumber pemerintah India dan diplomat Barat yang mengetahui
tentang percakapan tersebut kepada Reuters di New Delhi.
Menurut
para sumber, Doval mengatakan kepada Munir bahwa pertarungan India
dengan kelompok-kelompok militan yang bebas beroperasi dari tanah
Pakistan siap untuk ditingkatkan.
Seorang menteri pemerintah
Pakistan dan seorang diplomat Barat di Islamabad secara terpisah
mengonfirmasi ancaman khusus India untuk menggunakan enam rudal pada
sasaran di dalam wilayah Pakistan. Mereka tidak menentukan siapa yang
memberikan ancaman atau siapa yang menerimanya, tetapi menteri itu
mengatakan badan intelijen India dan Pakistan "berkomunikasi satu sama
lain selama pertempuran, dan bahkan sekarang mereka berkomunikasi satu
sama lain".
Pakistan mengatakan akan membalas serangan rudal
India dengan lebih banyak hingga tiga kali lipat. Hal itu diungkap
menteri tersebut kepada Reuters, yang berbicara dengan syarat anonim.
"Kami
mengatakan jika Anda akan menembakkan satu rudal, kami akan menembakkan
tiga. Apa pun yang akan dilakukan India, kami akan merespons tiga kali
untuk itu, "kata menteri Pakistan itu.
Kantor Doval tidak menanggapi permintaan komentar. Seorang pejabat pemerintah mengatakan dalam menanggapi permintaan Reuters untuk memberikan komentar bahwa India tidak mengetahui adanya ancaman rudal yang dikeluarkan untuk Pakistan.
Militer
Pakistan menolak berkomentar dan Munir tidak dapat dihubungi untuk
memberikan komentar. Kementerian luar negeri Pakistan juga menolak
menanggapi permintaan Reuters untuk memberikan komentar.
Dewan
Keamanan (DK) PBB dilaporkan telah menyetujui dengan suara bulat sebuah
resolusi perpanjangan mandat Misi PBB ke Afghanistan atau UNAMA.
Foto/Istimewa
WASHINGTON
- Dewan Keamanan (DK) PBB dilaporkan telah menyetujui dengan suara
bulat sebuah resolusi perpanjangan mandat Misi PBB ke Afghanistan atau
UNAMA. Resolusi itu diajukan oleh Indonesia dan Jerman.
“Ini
adalah Resolusi pertama dari Indonesia yang berhasil disahkan oleh DK
PBB sejak keanggotaan Indonesia pada DK PBB sejak Januari 2019," kata
Duta Besar Indonesia untuk PBB, Dian Triansyah Djani seperti dikutip
Sindonews dari laman resmi Kementerian Luar Negeri Indonesia pada Minggu
(17/3).
Pria yang kerap disapa Trian itu kemudian mengatakan,
resolusi ini penting, karena memberikan mandat kepada badan PBB untuk
lanjutkan berbagai kegiatan yang mendukung Afghanistan, guna mencapai
kemajuan dalam proses perdamaian yang sedang berlangsung, termasuk
pembangunan yang menjadi prioritas Pemerintah Afghanistan.
"Kesatuan
dari DK PBB penting untuk memberikan sinyal kepada Afghanistan bahwa
komunitas internasional dukung Afghanistan secara penuh," ungkapnya.
Resolusi
itu berisikan peran PBB untuk mendukung perdamaian dan stabilitas di
Afghanistan, serta komitmen DK PBB akan kedaulatan, kemerdekaan,
integritas wilayah dan kesatuan dari Afghanistan. Resolusi juga
memberikan dukungan kepada Pemerintah Afghanistan untuk membangun
negaranya dan memperkuat demokrasi.
Sentralitas
dan proses politik yang komprehensif, inklusif bersifat Afghan-led dan
Afghan-owned dan menjadikan Afghanistan sebagai platform untuk kerjasama
internasional, juga telah digarisbawahi pada resolusi.
Perpanjangan
mandat UNAMA penting untuk koordinasi berbagai bantuan internasional
termasuk memberikan dukungan yang diperlukan dalam persiapan Pemilu
Presiden tahun 2019 di Afghanistan.
Presiden Venezuela, Nicolas Maduro saat peringatan Angostura Discour Bicentennial di Ciudad Bolivar, Venezuela (15/2).
Foto: EPA
Perombakan terjadi setelah pemadaman berlangsung hampir selama sepekan.
CB,
CARACAS -- Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodriguez mengatakan Presiden
Nicolas Maduro sedang merencanakan perombakan mendalam pemerintahannya,
Ahad (17/3).
"Presiden Nicolas Maduro telah meminta seluruh kabinet eksekutif
meninjau ulang peran mereka dalam restrukturisasi mendalam metode dan
fungsi pemerintah Bolivarian, untuk melindungi tanah air Bolivar dan
Chavez dari ancaman apa pun," tulis Rodriguez di Twitter, merujuk kepada pemimpin kemerdekaan Simon Bolivar, dan mantan presiden Hugo Chavez.
Perombakan
terjadi setelah pemadaman berlangsung hampir selama sepekan. Venezuela
telah mengalami hiperinflasi ekonomi, kekurangan makanan, obat-obatan
dan emigrasi jutaan warga.
Maduro
menyalahkan pemadaman listrik atas serangan yang dilakukan oleh Amerika
Serikat. Selain itu, juga bagian dari sabotase oleh oposisi.
Akan tetapi para insinyur kelistrikan setempat mengatakan kepada Reuters,
penyebab pemadaman disebabkan kurangnya investasi selama
bertahun-tahun. Kemudian, karena kurangnya pemeliharaan pembangkit
listrik, dan jaringan listrik negara.
Maduro menghadapi
tantangan kepresidenannya dari pemimpin oposisi, Juan Guaido. Ia
mendeklarasikan diri sebagai pemimpin oposisi pada Januari untuk menjadi
presiden sementara.
Pemimpin Majelis Nasional Juan Guaido memproklamirkan diri sebagai presiden sementara Venezuela di Central University of Venezuela di Caracas.
Alasan
Guaido menjadi pemimpin oposisi yakni karena, pemilihan kembali Maduro
pada Mei 2018 dianggap tidak sah. Sebagian besar negara Barat telah
mengakui Guaido sebagai pemimpin negara yang sah.
Maduro
telah berulang kali mengubah anggota Kabinet sejak menjabat pada 2013.
Dengan anggota militer naik ke jabatan yang memimpin kementerian minyak,
interior dan listrik.
Dalam kunjungan ke pekerja listrik
di negara bagian Bolivar selatan pada Sabtu, Maduro berjanji melakukan
restrukturisasi perusahaan listrik negara Corpoelec. Ia juga berjanji
untuk membuat unit di angkatan bersenjata, fokus melindungi
infrastruktur utama dari serangan.
Ilustrasi perang narkoba di Filipina. (REUTERS/Czar Dancel)
Jakarta, CBa -- Filipina resmi
hengkang dari keanggotaan Mahkamah Internasional (ICC) Perserikatan
Bangsa-Bangsa (PBB) sejak 17 Maret 2019. Penyebabnya adalah Presiden
Rodrigo Duterte keberatan karena perang pemberantasan narkoba yang gencar dia lakukan diusut oleh lembaga itu, karena diduga melanggar hak asasi manusia.
"Sekretaris
Jenderal menyampaikan pemberitahuan kepada seluruh negara bahwa
keputusan Filipina menarik diri mulai efektif pada 17 Maret," kata Juru
Bicara ICC PBB, Eri Kaneko, seperti dilansir AFP, Minggu (17/3).
Duterte
mempertahankan kebijakan perang narkoba berdarah yang diduga saat ini
menelan ribuan korban meninggal dengan alasan melindungi negaranya.
Meski dikritik, Duterte menyatakan tidak peduli karena selama ini negara
lain tidak pernah peduli dengan Filipina.
Pada Februari 2018,
jaksa penuntut pada ICC, Fatou Bensouda, memulai pengumpulan bahan dan
keterangan terkait dugaan pelanggaran hak asasi manusia terkait perang
narkoba ala Duterte.
Filipina memilih mundur dari ICC
setelah pada 2018 lalu lembaga itu mulai mengusut dugaan pelanggaran
dalam perang narkoba ala Duterte. Namun, mereka menyatakan selama ini
tidak pernah secara sah menjadi anggota ICC, dengan alasan tak pernah
memenuhi seluruh persyaratan yang ditetapkan.
"Posisi
kami dalam masalah ini jelas, tidak mendua, dan tetap. Filipina tidak
pernah menjadi negara yang mendukung Statuta Roma yang menjadi dasar
ICC," kata Juru Bicara Kepresidenan Filipina, Salvador Panelo, dalam
pernyataan.
"Selama yang kami ketahui, mahkamah ini tidak ada," ujar Panelo.
Meski
begitu, aturan ICC menyatakan seluruh hal yang tengah diusut sebelum
sebuah negara mundur dari keanggotaan mereka tetap akan ditelusuri.
Menurut
temuan awal ICC, kepolisian Filipina menyatakan mereka menembak mati
5,176 pengguna atau pengedar narkoba yang menolak ditangkap. Namun,
menurut kalangan pegiat HAM jumlah korban perang narkoba sebenarnya tiga
kali lipat lebih banyak.
Akan
tetapi, reputasi ICC belakangan juga banyak dipertanyakan. Apalagi
mereka belum lama ini membebaskan tokoh-tokoh yang dianggap bertanggung
jawab atas kejahatan di negaranya. Yakni mantan Presiden Pantai Gading,
Laurent Gbagbo, pada Januari 2018. Lantas pada Juni tahun yang sama, ICC
membebaskan mantan Wakil Presiden Republik Demokratik Kongo,
Jean-Pierre Bemba.
Pekerja menggali liang lahat di pemakaman Muslim bagi korban penembakan masjid di Christchurch, Selandia Baru, Ahad (17/3).
Foto: AP Photo/Mark Baker
Penembakan masjid Christchurch masuk 10 penembakan massal terburuk di dunia.
CB,
WELLINGTON -- Seluruh dunia melihat Selandia Baru sebagai salah satu
negara paling aman. Tapi sebenarnya negara itu juga memiliki sejarah
panjang pembunuhan massal. Penembakan di dua masjid di Christchurch
menjadi pembunuhan massal terburuk sepanjang sejarah Selandia Baru.
Dengan korban tewas yang mencapai 50 orang, penembakan ini masuk 10
penembakan massal terburuk di dunia. Pada 1943, sebanyak 48 tawanan
perang dari Jepang ditembak dan dibunuh dalam kerusuhan di penjara
tawanan perang di Featherston. Seorang prajurit Selandia Baru juga tewas
dalam kejadiaan tersebut.
Perdana Menteri Jacinda Ardern
menyebut penembakan Christchurch menjadi hari tergelap dalam sejarah
Selandia Baru. Tapi, penembakan ini bukan satu-satunya penembakan massal
yang pernah terjadi di negara itu.
Dilansir di Radio NZ,
Ahad (17/3), pada 1990 David Gray menembaki orang di jalan Aramoana di
dekat Dunedin. Ia membunuh 13 orang sebelum ditembak mati polisi
keesokan harinya. Gray tewas dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Menurut The Atlantic, penembakan massal kembali terjadi pada 1997 dimana enam orang tewas dan empat lainnya terluka di Raurimu, North Island.
Pada
1941, Stanley Graham melepaskan tembakan di Hokitika. Ia menembak mati
empat polisi dan tiga orang lainnya. Penembakan itu dipicu pertengkaran
dengan tetangganya yang ia yakini membunuh hewan ternaknya. Graham
akhirnya ditembak mati polisi dalam pemburuan besar-besaran.
Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern, bertemu dengan anggota komunitas Muslim setelah penembakan massal di dua masjid Christchurch, Selandia Baru, 16 Maret 2019.
Pada 1992, ada dua pembunuhan massal yang terjadi di Selandia Baru. Dua peristiwa itu terjadi hanya berselang beberapa pekan.
Kejadian
pertama terjadi pada Mei ketika petani Auckland Brian Schlaepfer
membunuh istrinya dalam sebuah pertengkaran. Lalu, sebelum bunuh diri,
Schlaepfer membunuh lima anggota keluarga lainnya, yakni tiga orang
putra, satu orang menantu dan satu cucu laki-laki. Pada Juni di tahun
yang sama Raymod Ratima memukul dan menusuk tujuh anggota keluarganya
sampai tewas.
Di Selandia Baru, kekerasan dengan
senjata sangat jarang terjadi. Tingkat pembunuhan tahunan dengan senjata
juga tidak pernah mencapai digit ganda.
Dalam skala
global, World Atlas memasukkan penembakan Christchurch ke posisi delapan
penembakan massal terburuk dalam sejarah. Tragedi ini setara dengan
pembantaian di Pulse Nightclub, Florida, Amerika Serikat pada 2016 yang
jumlah korban tewasnya 49 orang.
Muslim Turki mengadakan shalat gaib selama demonstrasi mengutuk penembakan massal di Christchurch, Selandia Baru, di Ankara, Turki, 16 Maret 2019.
Penembakan
massal terburuk terjadi di Peshawar, Pakistan di mana ada sebanyak 149
orang tewas. Enam orang pelaku penembakan tersebut anggota kelompok yang
berafilasi dengan Taliban.
Hal itu disusul penembakan di
Garissa University College di Kenya yang total jumlah korban tewasnya
sebanyak 148 orang. Al-Shabaab, kelompok yang berafilasi dengan Alqaidah
mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut.