
CB, Jakarta - Salah
satu sekolah kedokteran terkemuka Amerika Serikat menghentikan program
kunjungan ilmuwan asing karena khawatir penelitian yang dijalankan
universitas akan dibocorkan ke pemerintah asing terutama Cina.
Namun yang lebih ditakutkan AS adalah kemampuan AS untuk menyalurkan ilmuwan berbakat dunia ke dalam institusinya sendiri berada di bawah ancaman.
Atas saran dari Institut Kesehatan Nasional AS (NIH), Fakultas Kedokteran Universitas Johns Hopkins di Baltimore, Maryland, telah menahan semua jadwal kunjungan untuk para ilmuwan yang berkunjung dari luar negeri sampai NIH merasa aman mengizinkan warga negara asing untuk terlibat dengan penelitian yang disponsori pemerintah, menurut email ke fakultas sekolah bulan lalu yang diperoleh oleh South China Morning Post, seperti dilansir dari Sputniknews, 6 November 2018.

Anggota tim New Horizons memantau saat pesawat ruang angkasa mendekat ke Pluto di Johns Hopkins University, Maryland, 14 Juli 2015. Jarak dari planet Bumi ke Pluto membentang sejauh 3 miliar mil dan 9 tahun. Bill Ingalls/NASA via AP
"Akan berlaku efektif segera, Johns Hopkins School of Medicine secara sementara menghentikan pengangkatan para ilmuwan yang berkunjung karena kekhawatiran yang disuarakan oleh National Institutes of Health [NIH] tentang ancaman terhadap penelitian biomedis dan hilangnya kekayaan intelektual," tulis pernyataan dalam email.
Pembatalan program ini dapat mempengaruhi 1.000 ilmuwan yang berkunjung jika berlangsung selama satu tahun, seorang peneliti biomedis Cina yang berbasis di AS mengatakan kepada South China Morning Post.
Meskipun mempengaruhi para ilmuwan dari semua negara, tindakan ini ditujukan terutama pada peneliti Cina, yang diklaim pemerintah AS mencuri penelitian yang didanai pemerintah dan membawanya kembali ke negara asal mereka melalui program yang disebut Thousand Talents Plan, yang bertujuan untuk menarik akademisi Cina ekspatriat kembali ke Cina.
Para pemimpin intelijen AS memperingatkan tentang Thousand Talents Plan pada 2018, ketika Dewan Intelejen Nasional mengeluarkan laporan tentang program tersebut pada April.

Perusahaan biotek berbasis di Shenzhen di Beijing, Cina. Beijing Genomics Institute ini berada di china sebagai pusat penelitian genome termaju di dunia, karena teknologinya tempat ini bisa membahayakan dunia. (scmp.com)
Pertemuan pada Juni 2018 antara Komite Dinas Angkatan Bersenjata dengan Pentagon dan para pejabat intelijen semakin meningkatkan pengawasan terhadap ancaman dari program tersebut, yang disebut Dewan Intelijen Nasional AS untuk memfasilitasi transfer legal dan terlarang teknologi AS, kekayaan intelektual dan pengetahuan.
Program Thousand Talents Plan Cina dimulai pada 2008 sebagai cara untuk menarik sejumlah besar akademisi ekspatriat Cina kembali ke negaranya. Pada Juli 2018, program ini telah membawa sekitar 7.000 ilmuwan pulang ke Cina, sebagian besar dari mereka orang Cina (Tidak perlu menjadi warga negara Cina untuk melamar program tersebut) dan mengharuskan individu telah menjadi akademisi terkemuka di lembaga non-Cina.
Ketakutan akan transfer teknologi ke Cina merupakan faktor yang berkontribusi dalam banyak kebijakan AS akhir-akhir ini, terutama perang tarif yang sedang berlangsung, yang dituduhkan para pejabat Cina untuk membendung transfer teknologi, baik legal maupun ilegal, dari AS ke Cina karena khawatir bahwa teknologi Cina dapat menyalip teknologi Amerika Serikat dalam beberapa tahun mendatang.
Namun yang lebih ditakutkan AS adalah kemampuan AS untuk menyalurkan ilmuwan berbakat dunia ke dalam institusinya sendiri berada di bawah ancaman.
Atas saran dari Institut Kesehatan Nasional AS (NIH), Fakultas Kedokteran Universitas Johns Hopkins di Baltimore, Maryland, telah menahan semua jadwal kunjungan untuk para ilmuwan yang berkunjung dari luar negeri sampai NIH merasa aman mengizinkan warga negara asing untuk terlibat dengan penelitian yang disponsori pemerintah, menurut email ke fakultas sekolah bulan lalu yang diperoleh oleh South China Morning Post, seperti dilansir dari Sputniknews, 6 November 2018.

Anggota tim New Horizons memantau saat pesawat ruang angkasa mendekat ke Pluto di Johns Hopkins University, Maryland, 14 Juli 2015. Jarak dari planet Bumi ke Pluto membentang sejauh 3 miliar mil dan 9 tahun. Bill Ingalls/NASA via AP
"Akan berlaku efektif segera, Johns Hopkins School of Medicine secara sementara menghentikan pengangkatan para ilmuwan yang berkunjung karena kekhawatiran yang disuarakan oleh National Institutes of Health [NIH] tentang ancaman terhadap penelitian biomedis dan hilangnya kekayaan intelektual," tulis pernyataan dalam email.
Pembatalan program ini dapat mempengaruhi 1.000 ilmuwan yang berkunjung jika berlangsung selama satu tahun, seorang peneliti biomedis Cina yang berbasis di AS mengatakan kepada South China Morning Post.
Meskipun mempengaruhi para ilmuwan dari semua negara, tindakan ini ditujukan terutama pada peneliti Cina, yang diklaim pemerintah AS mencuri penelitian yang didanai pemerintah dan membawanya kembali ke negara asal mereka melalui program yang disebut Thousand Talents Plan, yang bertujuan untuk menarik akademisi Cina ekspatriat kembali ke Cina.
Para pemimpin intelijen AS memperingatkan tentang Thousand Talents Plan pada 2018, ketika Dewan Intelejen Nasional mengeluarkan laporan tentang program tersebut pada April.

Perusahaan biotek berbasis di Shenzhen di Beijing, Cina. Beijing Genomics Institute ini berada di china sebagai pusat penelitian genome termaju di dunia, karena teknologinya tempat ini bisa membahayakan dunia. (scmp.com)
Pertemuan pada Juni 2018 antara Komite Dinas Angkatan Bersenjata dengan Pentagon dan para pejabat intelijen semakin meningkatkan pengawasan terhadap ancaman dari program tersebut, yang disebut Dewan Intelijen Nasional AS untuk memfasilitasi transfer legal dan terlarang teknologi AS, kekayaan intelektual dan pengetahuan.
Program Thousand Talents Plan Cina dimulai pada 2008 sebagai cara untuk menarik sejumlah besar akademisi ekspatriat Cina kembali ke negaranya. Pada Juli 2018, program ini telah membawa sekitar 7.000 ilmuwan pulang ke Cina, sebagian besar dari mereka orang Cina (Tidak perlu menjadi warga negara Cina untuk melamar program tersebut) dan mengharuskan individu telah menjadi akademisi terkemuka di lembaga non-Cina.
Ketakutan akan transfer teknologi ke Cina merupakan faktor yang berkontribusi dalam banyak kebijakan AS akhir-akhir ini, terutama perang tarif yang sedang berlangsung, yang dituduhkan para pejabat Cina untuk membendung transfer teknologi, baik legal maupun ilegal, dari AS ke Cina karena khawatir bahwa teknologi Cina dapat menyalip teknologi Amerika Serikat dalam beberapa tahun mendatang.
Credit tempo.co