Seorang
perempuan berjalan melewati sampah terbakar dalam sebuah demonstrasi di
Oakland, California, Amerika Serikat, menyusul pemilihan Donald Trump
sebagai Presiden Amerika Serikat, Rabu (9/11/2016). (REUTERS/Noah
Berger)
New York (CB) - Gedung milik pebisnis top Donald Trump di
New York dijaga ketat aparat, Kamis pagi hingga sore (Jumat WIB),
setelah massa berunjuk rasa untuk memprotes kemenangannya dalam Pemilu
Presiden Amerika Serikat.
Trump Tower pada pagi hari dijaga ketat oleh sejumlah personel
Departemen Kepolisian New York, sebagaimana laporan wartawan Antara
langsung dari depan Trump Tower di New York, Kamis (Jumat WIB).
Pada pagi hari, di depan gedung milik Trump itu diparkir truk-truk
berukuran besar. Hal itu dilakukan agar tidak ada massa yang dapat
menerobos ke area gedung Trump Tower.
Sejumlah truk besar itu diparkir di sepanjang jalan di depan Trump
Tower. Namun, pada sore hari truk-truk besar tersebut dipindahkan dan
pengamanan di depan gedung diganti dengan barikade beton.
Situasi di depan Trump Tower tidak hanya ramai dengan personel
polisi, melainkan juga oleh orang-orang yang berhenti untuk mengambil
foto gambar depan gedung Trump atau melakukan swafoto.
Sebelumnya, ribuan demonstran turun ke jalan di berbagai kota di AS
pada Rabu (9/11) sambil membawa plakat dan mengeluarkan teriakan yang
mengecam presiden terpilih AS - Donald Trump - sebagai rasis dan
misoginis. Mereka memprotes kemenangan Donald Trump dalam Pilpres AS.
Sekelompok besar massa memadati Fifth Avenue, Kota New York, di
depan Trump Tower tempat presiden terpilih itu tinggal, sambil
melambai-lambaikan plakat bertulisan "Love Trumps Hate" (Cinta
Mengalahkan Kebencian).
Kelompok lain berkumpul di depan Gedung Putih di Washington, yang segera akan menjadi kediaman resmi Trump.
Di Trump Hotel yang baru saja dibuka oleh Trump di Pennsylvania
Avenue, para demonstran berseru "Nyatakan dengan lantang, katakan dengan
jelas: Pengungsi diterima baik di sini".
Di tempat-tempat lain di pesisir timur Amerika, demonstrasi digelar
di Miami, Philadelphia, dan Boston. Para demonstran membawa plakat
menyerukan pemakzulan Trump dan diakhirinya sistem Dewan Elektor, proses
sesuai konstitusi yang membuahkan kemenangan Trump dalam pemilihan
presiden, meskipun dia kalah tipis dalam perolehan jumlah suara rakyat.
Di pantai barat, para demonstran di Los Angeles, San Francisco,
Portland, dan Seattle berpawai dan menutup lalu lintas untuk menyatakan
kemarahan karena Trump mengalahkan Hillary Clinton.
Di bagian tengah, protes diselenggarakan di Chicago, di kota-kota
kembar Minnesota, Omaha, Nebraska, dan Kansas City, Missouri.
Credit
ANTARA News
Sejumlah orang masih unjuk rasa di dekat "Trump Tower"
Polisi
berupaya mengendalikan lokasi kantor yang dibakar pendemo sebagai
reaksi terpililhnya Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat di
Oakland, California, Rabu (9/11/2016). (REUTERS/Stephen Lam)
New York (CB) - Sejumlah orang masih melakukan unjuk rasa
di dekat Trump Tower gedung milik pebisnis top Donald Trump di New York
untuk memprotes terpilihnya dia sebagai Presiden ke-45 Amerika Serikat
dalam pemilu presiden, Selasa (8/11) waktu setempat.
Sekitar 10
hingga 15 orang yang berkumpul untuk berunjuk rasa itu membawa
karton-karton besar bertuliskan protes mereka, salah satunya bertuliskan
"Trump Not My President" (Trump bukan presiden saya), demikian laporan
langsung wartawan Antara dari seberang gedung Trump Tower di New York,
Kamis (Jumat WIB).
Tidak seperti unjuk rasa sebelumnya dengan jumlah massa yang jauh
lebih banyak dan dilakukan tepat di depan Trump Tower, unjuk rasa kali
ini dengan jumlah orang yang jauh lebih sedikit dan dilakukan di
seberang jalan Trump Tower.
Hal itu karena bagian depan gedung milik Trump itu sudah dijaga
ketat sepanjang hari setelah unjuk rasa besar pada Rabu (9/11).
Trump Tower pada pagi hari dijaga ketat oleh sejumlah personel Departemen Kepolisian New York.
Pada Kamis pagi waktu setempat, di depan gedung milik Trump itu diparkir
truk-truk berukuran besar. Hal itu dilakukan agar tidak ada massa yang
dapat menembus ke dalam Trump Tower.
Sebelumnya, ribuan
demonstran turun ke jalan di berbagai kota AS pada Rabu (9/11) sambil
membawa plakat dan mengeluarkan teriakan yang mengecam presiden terpilih
AS - Donald Trump - sebagai rasis dan misoginis. Mereka memprotes
kemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden.
Sekelompok
besar massa memadati Fifth Avenue kota New York, di depan Trump Tower
tempat presiden terpilih itu tinggal, sambil melambai-lambaikan plakat
bertulisan "Love Trumps Hate" (Cinta Mengalahkan Kebencian).
Kelompok lain berkumpul di depan Gedung Putih di Washington, yang segera
akan menjadi kediaman resmi Trump. Di Pennsylvania Avenue, di Trump
Hotel yang baru saja dibuka, para demonstran berseru "Nyatakan dengan
lantang, katakan dengan jelas: Pengungsi diterima baik di sini".
Di tempat-tempat lain di pesisir timur Amerika, demonstrasi digelar di
Miami, Philadelphia dan Boston, di mana demonstran membawa plakat
menyerukan pemakzulan Trump dan diakhirinya sistem Dewan Elektor, proses
sesuai konstitusi yang membuahkan kemenangan Trump dalam pemilihan
presiden, meskipun ia kalah tipis dalam perolehan jumlah suara rakyat.
Di pantai barat, para demonstran di Los Angeles, San Francisco,
Portland, dan Seattle berpawai dan menutup lalu lintas untuk menyatakan
kemarahan karena Trump mengalahkan Hillary Clinton.
Di bagian tengah, protes diselenggarakan di Chicago, di kota-kota kembar
Minnesota, Omaha, Nebraska, dan Kansas City, Missouri.8) 11-11-2016
05:50:58
Credit
ANTARA News
Tolak Kemenangan Trump, Ribuan Warga AS Turun ke Jalan
CNN melaporkan, protes anti-Trump kini terjadi setidaknya di tujuh kota. (Reuters/Kamil Krzacznski)
Jakarta, CB
--
Ribuan warga di berbagai penjuru Amerika Serikat
menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran menolak kemenangan Donald Trump
dalam pemilihan umum presiden.
CNN melaporkan, setidaknya protes anti-Trump ini terjadi di tujuh kota, termasuk New York City, kampung halaman Trump.
Ribuan
orang di New York berarak dari ruas jalan Midtown Manhattan menuju
Trump Tower sambil berteriak, "Bukan presiden saya! Bukan presiden
saya!"
Setibanya di depan Trump Tower pada Rabu (9/10) malam
waktu setempat, mereka membakar bendera Amerika Serikat. Polisi terlihat
bersiaga ketat di sekitar lokasi.
Sementara itu di Chicago,
lebih dari seratus orang berkumpul di depan Trump International Hotel
sambil menggemakan yel-yel seperti, "Tolak Trump! Tolak KKK! AS tidak
rasis!"
Kepolisian Chicago pun menutup beberapa ruas jalan,
mencegah persebaran massa ke daerah lain. Hingga kini, tak ada laporan
kericuhan dalam unjuk rasa itu.
Salah satu demonstran, Adriana Rizzo, terlihat memegang poster bertuliskan, "Nikmati kebebasan kalian selagi bisa!"
Ia
mengaku khawatir dengan masa depan Amerika jika dipimpin oleh sosok
yang dalam kampanyenya kerap melontarkan komentar rasis dan sarat unsur
diskriminasi terhadap kaum pendatang juga Muslim.
"Saya sangat khawatir dengan apa yang akan terjadi di negeri ini," katanya sambil terus mengacungkan poster yang ia bawa.
Orang
di sekitar Rizzo kemudian berteriak mengenai tembok Meksiko. Dalam
kampanyenya, Trump pernah menyampaikan gagasan untuk membangun tembok di
sepanjang perbatasan dengan Meksiko untuk mencegah masuknya imigran
gelap.
"Saya sangat khawatir dengan tumbuhnya nasionalisme putih
dan ini merupakan cara saya untuk melawan hal semacam itu," kata Rizzo,
Seiring
dengan semakin larutnya malam, kian banyak warga yang turun ke jalan,
termasuk di Philadelphia dan Boston. Sejumlah organisasi massa juga
merencanakan aksi di San Fracisco, Los Angeles, Oakland, dan California,
sementara aksi protes di Austin dan Texas terus berlanjut.
Anak sekolah bolos demi unjuk rasaTak hanya orang dewasa, anak-anak sekolah di AS bahkan rela tak masuk sekolah demi ikut serta dalam unjuk rasa bersama gurunya.
Salah
satu demonstrasi terbesar digelar di California, di mana sekitar 1.500
siswa dan guru berdemonstrasi di halaman Sekolah Menengah Tinggi
Berkeley di California, kemudian melakukan long march ke kampus
Universitas California di Berkeley sambil berteriak, "Bukan presiden
kami!"
Di Los Angeles, sekitar 300 siswa SMA yang mayoritas
keturunan Latin berarak ke Balai Kota, di mana mereka kemudian
mengadakan unjuk rasa singkat, tapi bergemuruh. Sejumlah staf sekolah
terlihat mendampingi para siswa.
Sementara itu, ratusan siswa
lain juga membolos untuk menggelar aksi serupa di Seattle, Phoenix,
Oakland, El Cerrito, dan Richmond. Di Universitas Texas, ratusan siswa
juga dilaporkan berdemonstrasi di kampus mereka.
Rangkaian unjuk
rasa ini merupakan kelanjutan dari demonstrasi di San Francisco Bay Area
pada Selasa (8/11), ketika pemilu baru saja digelar. Dalam aksi
tersebut, para pengunjuk rasa memecahkan kaca toko serta membakar tong
sampah dan ban.
Tak lama setelah aksi itu selesai, proses hitung
cepat dimulai dan hasilnya, Trump berhasil mengalahkan rivalnya dari
Partai Demokrat, Hillary Clinton.
Namun dalam pidato kemenangannya, Trump menyerukan persatuan rakyat AS yang selama masa kampanye terbelah.
"Untuk
semua pendukung Republik, Demokrat, liberal, dan lainnya di penjuru
negara ini, mari bersatu. Saya meminta kepada setiap warga negara, untuk
bersatu," kata Trump.
Credit
CNN Indonesia
Hari Kedua Protes Anti-Trump, Demonstran Sorot Masalah HAM
sekitar 100 orang berarak dari Gedung
Putih menuju Trump International Hotel sambil berteriak, 'Love trumps
hate!' yang berarti 'Cinta mengalahkan kebencian!' (Reuters/Kevin
Lamarque)
Jakarta, CB
--
Ribuan warga Amerika Serikat kembali turun ke jalan
pada Kamis (10/11) untuk berunjuk rasa menolak kemenangan Donald Trump
dalam pemilihan umum presiden.
Pada hari kedua ini, para demonstran menyoroti masalah hak asasi manusia yang mungkin terjadi di AS jika Trump memimpin.
Pasalnya,
selama masa kampanye Trump kerap melontarkan komentar diskriminatif
terhadap perempuan, kaum marjinal, imigran, bahkan umat Muslim.
Seperti dilaporkan Reuters, sekitar 100 orang berarak dari Gedung Putih menuju Trump International Hotel sambil berteriak, "
Love trumps hate!" yang berarti "Cinta mengalahkan kebencian!"
"Generasi ini berhak mendapatkan yang lebih baik dari Trump. Para
homoseksual, kulit hitam, perempuan, gadis, semua orang dapat
terpengaruh dengan ini (terpilihnya Trump). Kami harus menolong mereka,"
ujar seorang demonstran, Lily Morton.
Sementara itu, lebih dari
1.000 siswa sekolah berjalan mengelilingi ruas-ruas jalan di San
Francisco sambil membawa bendera pelangi, warna yang menjadi simbol
dukungan terhadap kaum LGBT.
Beberapa siswa juga terlihat membawa
bendera Meksiko. Selama kampanye, Trump beberapa kali melontarkan
gagasan untuk membangun tembok di sepanjang perbatasan AS dengan Meksiko
guna mencegah kehadiran imigran gelap.
Aksi protes anti-Trump
juga masih terus berlanjut di berbagai penjuru AS lainnya, seperti New
York, Los Angeles, dan California.
Di Oakland, kericuhan masih
berlanjut dengan aksi bakar bendera, memecahkan kaca, hingga baku hantam
dengan aparat keamanan pun tak terhindarkan.
Gerakan untuk
menjaring lebih banyak massa pun digencarkan melalui media sosial.
Sekelompok siswa membentuk satu grup Facebook dengan nama
"#NotMyPresident" guna mengajak anak-anak lain ikut serta dalam unjuk
rasa puncak yang akan digelar pada 20 Januari mendatang.
Menanggapi
aksi protes ini, Sean Spicer, juru bicara Komite Nasional Partai
Republik, partai yang mengusung Trump dalam pemilu, meminta masyarakat
untuk tenang dan memberikan kesempatan kepada sang presiden terpilih
untuk membuktikan kinerjanya.
Di Gedung Putih, Trump pun sudah
melakukan pertemuan dengan Barack Obama untuk mengatur transisi yang
baik dan aman. Namun, Obama mengatakan bahwa ia tidak akan menghalangi
rakyat berdemonstrasi karena itu merupakan wujud kebebasan berpendapat.
Credit
CNN Indonesia