Lima orang warga Indonesia termasuk
dalam puluhan ABK yang disandera perompak Somalia sejak 2012 lalu,
seorang di antara mereka tewas. (AFP Photo/Stringer)
Jakarta, CB
--
Empat orang anak buah kapal asal Indonesia berhasil
dibebaskan setelah disekap selama 4,5 tahun oleh perompak di Somalia.
Mereka dibebaskan pada Sabtu akhir pekan lalu setelah melalui
perundingan dan negosiasi panjang.
Menteri Luar Negeri RI Retno
LP Marsudi, mengatakan keempat WNI tersebut adalah bagian dari 26 ABK
yang diculik dari kapal ikan Taiwan, yang dioperasikan oleh salah satu
perusahaan Oman pada tahun 2012 lalu. Selain dari Indonesia, para ABK
berasal dari Kamboja, China, Filipina, Taiwan, dan Vietnam.
Sebenarnya
ada 29 ABK dalam kapal itu, namun beberapa di antara mereka tewas dalam
penyerangan atau meninggal karena sakit saat disandera. Salah satu yang
tewas adalah ABK asal Indonesia.
"Kami telah berhasil membebaskan 4 dari 5 WNI yang disandera. Satu orang
WNI meninggal saat proses penyanderaan karena menderita malaria yakni
Nasirin asal Cirebon," ucap Retno dalam konferensi pers di Gedung Kemlu,
Senin (24/10).
Retno menjelaskan, empat WNI yang berhasil
dibebaskan atas nama Sudirman (24) berasal dari Medan, Adi Manurung (24)
dari Medan, Elson Pesireron (32) dari Ambon, dan Supardi (34) tahun
dari Cirebon.
Keempat WNI itu harus melakukan pemeriksaan
kesehatan yang memakan waktu beberapa hari sebelum bisa dipulangkan ke
Indonesia. Saat ini, kata Retno, para ABK termasuk empat WNI telah
diterbangkan ke Nairobi, Kenya, menggunakan pesawat PBB.
"Proses
pelepasan sandera terus dilakukan oleh pihak Kemlu dan BIN bekerja sama
dengan negara lain terkait dengan bantuan LSM Internasional dan PBB,"
kata Retno.
Retno mengatakan selama dua tahun terakhir Kemlu RI
terus melakukan koordinasi dengan keluarga ABK di Indonesia.
Negosiasinya sendiri berlangsung alot dan panjang, tidak diketahui
apakah ada pembayaran tebusan dalam hal ini.
"Pada akhirnya, keselamatan para WNI di luar negeri tetap menjadi prioritas pemerintah Indonesia," tutur Retno menambahkan.
Kapal Naham 3 berbendera Oman yang diawaki para ABK tersebut dibajak pada Maret 2012 di selatan Seychelles.
Penyanderaan
terhadap awak Naham 3 ini menjadi kasus terlama kedua yang dilakukan
oleh perompak Somalia. Sebelumnya pada Februari 2015, perompak Somalia
juga membebaskan empat orang awak kapal FV Prantalay setelah disandera
sejak April 2010.
Aksi perompak Somalia menjadi mimpi buruk
aktivitas maritim dunia. Dalam beberapa tahun terakhir, perompak Somalia
kerap meminta uang tebusan untuk setiap kapal yang dibajak di lepas
pantai Somalia sehingga berimbas pada menurunnya pendapatan dari sektor
pariwisata di negara-negara sekitarnya.
Credit
CNN Indonesia
Tiba di Kenya, Tangis Haru ABK Korban Perompak Somalia Pecah
Sebanyak 26 ABK, empat di antaranya
dari Indonesia, dari sebuah kapal berbendera Oman, dibebaskan setelah
4,5 tahun disandera perompak Somalia. (AFP Photo/Stringer)
Jakarta, CB
--
Sebanyak 26 anak buah kapal, empat di antaranya dari
Indonesia, telah tiba di Kenya pada Minggu (23/10) setelah dibebaskan
dari sekapan perompak Somalia. Tangis dan senyum bahagia terlihat dari
wajah mereka setibanya di Nairobi.
"Saya sangat, sangat bahagia.
Benar, sangat-sangat bahagia. Untuk PBB, John [juru runding] dan seluruh
dunia, terima kasih," kata seorang ABK yang berhasil dibebaskan, Sudi
Ahman, dikutip AFP.
Kelegaan dan kegembiraan tergambar jelas di
wajah para ABK yang telah disandera selama 4,5 tahun di Somalia. Mereka
saling memeluk, tangisan tidak mampu ditahan, saat puluhan ABK
mendaratkan kaki di Bandara Internasional Jomo Kenyatta di Nairobi,
Kenya.
John Steed, juru runding dari lembaga Hostage Support Partners (HSP)
yang membantu pembebasan para ABK menyambangi kota Galkayo untuk
menjemput para ABK dari kapal berbendera Oman, Naham 3, itu. Tidak
disebutkan apakah pembebasan itu melibatkan pembayaran tebusan atau
tidak.
"Kami telah mengupayakan pembebasan mereka selama 4,5
tahun. Menyenangkan bisa membawa mereka pulang dan menyerahkan mereka ke
kedutaan besar dan keluarga mereka," kata Steed.
Para ABK kapal Oman dibebaskan dari tangan perompak Somalia. (AFP/Stringer)
|
Steed merupakan purnawirawan kolonel angkatan bersenjata Inggris yang
terlibat dalam banyak upaya pembebasan "sandera yang terlupakan", yaitu
para nelayan tanpa asuransi yang kebanyakan dalam sekapan perompak untuk
waktu yang lama.
Kapal Naham 3 dibajak pada Maret 2012 di
selatan Seychelles. Awalnya ada 29 orang yang disandera, namun seorang
tewas dalam penyerangan perompak, dan dua lainnya meninggal dunia akibat
sakit dalam penyekapan.
"Kami berhasil membebaskan mereka dengan
bantuan pada tetua, komunitas agama dan pemimpin lokal serta pemerintah
regional yang semuanya terlibat dalam mendesak agar perompak
membebaskan sandera," kata Steed.
Para ABK berasal dari Indonesia, China, Filipina, Kamboja dan Taiwan.
Mereka adalah sandera terlama kedua yang dibebaskan oleh perompak
Somalia. Seorang warga Thailand yang dibebaskan Februari lalu merupakan
sandera ABK paling lama yang disandera, hampir lima tahun lamanya dalam
sekapan perompak Somalia.
Steed mengatakan para ABK dalam
keadaan kurang gizi, seorang di antara mereka memiliki luka bekas
tembakan peluru di kakinya, seorang mengalami stroke, sedangkan satu
lainnya menderita diabetes.
Januari 2011 merupakan puncak dari
jumlah pembajakan oleh perompak Somalia. Saat itu, sebanyak 32 kapal
dibajak dan 736 orang disandera. Menurut Steed, saat ini masih ada 10
ABK Iran dan tiga dari Kenya yang masih disandera perompak Somalia,
seorang di antaranya adalah wanita yang menderita sakit parah dan
kelumpuhan.
Credit
CNN Indonesia