Jumat, 23 Maret 2018

Mantan Presiden Korsel Ditangkap karena Skandal Korupsi


Mantan presiden Korea Selatan, Lee Myung-bak

Mantan presiden Korea Selatan, Lee Myung-bak
Foto: IST

Lee dituduh korupsi dana hingga lebih dari Rp 140 miliar dari suap.



CB, SEOUL -- Mantan presiden Korea Selatan (Korsel) Lee Myung-bak ditangkap pada Jumat (23/3) pagi atas berbagai tuduhan korupsi. Penangkapan tersebut adalah yang terbaru dalam serangkaian penangkapan pemimpin Korsel yang terlibat skandal korupsi setelah mereka tidak lagi menjabat.

Sebuah konvoi kendaraan, termasuk sedan hitam yang membawa Lee, memasuki pusat penahanan di Seoul setelah Pengadilan Distrik Pusat Seoul menyetujui surat perintah penahanannya. Karena kasus yang menjerat Lee cukup serius, ia dikhawatirkan akan mencoba menghancurkan barang bukti.

Jaksa dapat menahannya hingga 20 hari sebelum secara resmi menuntutnya. "Saat ini, saya merasa ini semua salah saya dan saya memiliki hati nurani untuk mengakui kesalahan daripada menyalahkan orang lain," kata Lee, dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan tidak lama sebelum penangkapannya, seperti dikutip kantor berita Yonhap.

"Selama 10 bulan terakhir, saya sudah menderita sakit yang tidak dapat saya tahan. Saya harap penangkapan saya akan meringankan penderitaan keluarga saya dan mereka yang bekerja dengan saya," ujarnya.

Lee (76 tahun) terlihat melambaikan tangan kepada para pekerjanya yang berkumpul di kediamannya di Seoul. Namun ia tidak berkomentar apa-apa ketika memasuki sedan bersama jaksa senior untuk dibawa ke pusat penahanan.

Jaksa menuduh Lee mengambil total 11 miliar won atau lebih dari Rp 140 miliar uang suap dari badan intelijennya sendiri, sejumlah kelompok bisnis, dan lain-lain. Lee juga dituduh memanfaatkan perusahaan swasta untuk mendapatkan dana ilegal sebesar 35 miliar won atau lebih dari Rp 420,7 miliar, menggelapkan dana resminya, dan menghindari pajak.

Penangkapan Lee terjadi sekitar satu tahun setelah mantan Presiden Park Geun-hye yang menggantikannya di kursi kekuasaan, digulingkan dari jabatan. Park dijebloskan ke penjara karena skandal korupsi yang berbeda, didorong oleh unjuk rasa besar-besaran rakyat Korsel selama beberapa bulan.

Jaksa telah mengajukan tuntutan hukuman penjara selama 30 tahun untuk Park. Pengadilan Seoul baru akan mengeluarkan putusan terhadapnya pada 6 April mendatang.

Skandal korupsi yang menjerat pejabat tinggi sering terjadi di Korsel. Korsel adalah negara dengan perekonomian terbesar keempat di Asia, yang mencapai demokrasi liberal pada akhir 1980-an setelah beberapa dekade berada di bawah kepemimpinan diktator yang didukung militer.

Lee sebelumnya telah menyangkal sebagian besar tuduhan terhadapnya. Dia justru menuduh pemerintahan liberal Presiden Moon Jae-in saat ini mencoba membalas dendam atas kematian mantan presiden liberal Roh Moo-hyun, saat dilakukan penyelidikan korupsi terhadap keluarganya di bawah perintah Lee.

Tuduhan Lee itu memicu kemarahan Moon. Moon sebelumnya juga menyebut investigasi terhadap keluarga Roh adalah bentuk balas dendam politik yang dilakukan oleh pemerintahan Lee. Moon diketahui pernah menjabat sebagai kepala staf kepresidenan Roh.

Lee adalah mantan eksekutif Hyundai yang berhasil memimpin perusahaan tersebut saat perekonomian Korsel sedang bangkit pasca-Perang Korea 1950-1953. Ia menjadi presiden pertama di negara itu dengan latar belakang pebisnis.

Citra Lee dalam dunia bisnis kemudian melahirkan harapan akan perekonomian yang membaik di Korsel. Namun periode pemerintahannya selama lima tahun dirusak dengan meningkatnya permusuhan dengan Korea Utara (Korut), banyaknya demonstrasi jalanan terhadap impor daging sapi AS, dan sulitnya perekonomian yang dilanda krisis keuangan global.

Presiden Korsel lainnya yang mengalami akhir pemerintahan yang buruk adalah ayah Park Geun-hye, yaitu Park Chung-hee. Diktator tersebut ditembak mati oleh kepala badan mata-matanya sendiri saat pesta pada 1979, setelah ia berkuasa selama 18 tahun.

Sementara penerusnya, mantan jenderal Chun Doo-hwan dan Roh Tae-woo, harus menghabiskan waktu di penjara karena kasus penyuapan, pengkhianatan, dan dakwaan lainnya setelah lengser. Sedangkan mantan pemimpin oposisi yang berjuang melawan kediktatoran, Kim Young-sam dan Kim Dae-jung, harus melepaskan jabatannya dengan rasa malu setelah putra dan rekan dekat mereka terlibat dalam skandal.




Credit  republika.co.id