Jakarta (CB) - Amerika Serikat dan Inggris geger oleh skandal media sosial yang pertama kali disiarkan oleh The Telegraph dan New York Times mengenai  dugaan pemanfaatan profil puluhan juta pengguna Facebook oleh sebuah perusahaan yang disewa oleh tim kampanye Donald Trump sewaktu Pemilihan Presiden 2016.

Nama perusahaan itu adalah Cambridge Analytica.  Figur sentral lainnya dalam skandal ini adalah Aleksandr Kogan, si pencipta aplikasi penguji kepribadian pengguna Facebook bernama thisisyourdigitallife.

Aplikasi yang diciptakan pada November 2013 untuk platform Facebook itu meminta izin kepada para pengguna FB untuk mengakses informasi mengenai profil mereka, dan juga temah-temannya.

Diduga Kogan kemudian menjual data itu kepada Cambridge Analytica sehingga melanggar kebijakan Facebook.

Cambridge Analytica sendiri berkilah bahwa begitu perusahaan ini mengetahui cara Kogan memperoleh data itu,  maka perusahaan ini segera menghapus sebuah data terekam itu pada Desember 2015.

Perusahaan ini membantah bahwa tidak ada satu pun dari data itu digunakan untuk kampanye kepresidenan Trump. Perusahaan itu menambahkan bahwa tidak memanfaatkan atau menahan data dari profil-profil Facebook itu.

Tetapi Facebook justru menyatakan bahwa "kami menerima laporan bahwa, bertentangan dengan sertifikasi yang kami berikan, tidak semua data i00tu dihapus."


Juru bicara Facebook juga mengatakan koleksi data itu tidak diretas atau dibobol.

"Orang-orang dengan sadar memberikan informasi mereka, tidak ada sistem yang ditembus, dan tidak ada kata sandi atau bagian-bagian sensitif dari informasi yang telah dicuri atau diretas," kata Facebook.

The Observer mengungkapkan bahwa insiden itu terjadi sekitar dua tahun lalu.

Namun The Observer mengatakan langkah Facebook melarang Cambridge Analytica dan induk perusahannya Grup SCL pekan ini terjadi empat hari setelah wartawan-wartawan mereka mengontak Facebook untuk memintai komentar perusahaan itu mengenai laporan investigatif mereka.

Sabtu kemarin, begitu laporan investigasi itu muncul di surat kabar Inggris itu, Komisioner Informasi Inggris, yang merupakan badan regulator utama perlindungan data di Inggris, mengatakan tengah "menyelidiki sebab-sebab dalam mana data Facebook mungkin telah diperoleh dan digunakan secara ilegal."

Tapi pernyataan badan regulator ini tidak menyebut-nyebut Kogan, perusahaannya atau Cambridge Analytica, melainkan menyebut penyelidikan ini adalah bagian dari investigasi yang tengah berlangsung mengenai penggunaan analisis data untuk tujuan politik."

Alexander Nix, pendiri Cambridge Analytica, telah diwawancarai oleh sebuah komite parlemen bulan lalu menyangkut praktik perusahaannya, demikian BBC.