Kamis, 29 Desember 2016

Menlu AS: penyelesaian dua-negara konflik Timur Tengah dalam bahaya



Menlu AS: penyelesaian dua-negara konflik Timur Tengah dalam bahaya
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry (REUTERS/Mandel Ngan/Pool )
Kita tidak bisa, berdasarkan apa pun juga, hanya berdiam diri, dan tidak mengatakan apa-apa ketika kita melihat harapan perdamaian melayang
Washington (CB) - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry memperingatkan, Rabu, masa depan penyelesaian dua-negara pada konflik Timur Tengah berada dalam bahaya.

Ia menegaskan bahwa AS tidak akan tinggal diam ketika kekerasan dan pembangunan permukiman oleh Israel membahayakan perdamaian.

Dalam pidato yang disampaikannya hanya beberapa minggu sebelum pemerintahan Obama menyerahkan kekuasaan kepada presiden terpilih Donald Trump, Kerry mengatakan Israel "tidak pernah akan mendapatkan perdamaian sesungguhnya dengan" dengan dunia Arab jika Israel tidak mencapai perjanjian berdasarkan konsep rakyat Israel dan Palestina yang hidup di negara masing-masing.

"Walaupun kita telah melakukan upaya-upaya terbaik selama bertahun-tahun, penyelesaian dua-negara (konflik Israel-Palestina) ini betul-betul berada dalam bahaya," kata Kerry di Departemen Luar Negeri, seperti dilaporkan Reuters.

"Kita tidak bisa, berdasarkan apa pun juga, hanya berdiam diri, dan tidak mengatakan apa-apa ketika kita melihat harapan perdamaian melayang."

"Sebenarnya, perkembangan di lapangan menyangkut kekerasan, terorisme, penghasutan, perluasan pemukiman serta pendudukan yang tampaknya tak berkesudahan, sedang menghancurkan harapan bagi perdamaian bagi kedua pihak dan memperkokoh kenyataan satu-negara, yang tak dapat diubah dan sebenarnya tak diinginkan sebagian besar rakyat."

Kerry mengecam oleh kalangan masyarakat Palestina, termasuk "ratusan serangan teroris pada tahun lalu."

Sementara itu, Israel sedang mengabaikan Presiden Barack Obama dan berharap bahwa mereka mendapat perlakuan yang lebih menguntungkan dari Donald Trump, yang akan mulai menjabat sebagai presiden AS pada 20 Januari.

Trump sebelumnya secara terbuka memperlihatkan sikap menentang Resolusi PBB soal Israel. Ia diperkirakan nantinya akan menggunakan hak veto AS di Dewan Keamanan terhadap rancangan-rancangan resolusi yang anti-Israel.

Trump telah menyatakan janji untuk memindahkan Kedutaan AS dari Tel Aviv ke Jerusalem. Ia juga telah menunjuk seorang pengacara sebagai duta besar AS untuk Israel. Pengacara tersebut merupakan seorang sosok yang menggalang dana bagi pemukiman luas Yahudi.

Trump telah menunjukkan keraguan terhadap penyelesaian dua-negara dan ia bahkan mendukung pencaplokan Tepi Barat oleh Israel.




Credit  ANTARA News



Solusi dua negara untuk konflik Israel-Palestina terancam sirna

Solusi dua negara untuk konflik Israel-Palestina terancam sirna
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry (REUTERS/Kevin Lamarque)
Jakarta (CB) - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry menyatakan solusi dua negara untuk konflik Israel-Palestina di ambang bahaya dan oleh karena itu AS tidak bisa tinggal diam menyaksikan solusi untuk perdamaian Israel-Palestina itu sirna.

Dalam pidato hanya beberapa pekan sebelum pemerintahan Presiden Barack Obama menyerahkan kekuasaannya kepada Presiden terpilih Donald Trump, Kerry membela keputusan AS meloloskan PBB mengeluarkan resolusi yang menuntut diakhirinya pendudukan Israel di tanah Palestina. Dia beralasan langkah AS itu demi menyelamatkan solusi dua negara untuk konflik Israel-Palestina.

"Kendati kami selama bertahun-tahun kami sekuat tenaga telah berusaha, solusi dua negara kini dalam bahaya serius," kata Kerry dalam pidato di Departemen Luar Negeri.

"Kita tidak bisa, dalam hati nurani yang benar, tidak melakukan apa-apa, dan tidak berkata apa-apa, ketika kita menyaksikan harapan perdamaian sirna," sambung Kerry seperti dikutip Reuters.




Credit  ANTARA News


Menlu AS John Kerry Pertegas Resolusi PBB atas Israel


Menlu AS John Kerry Pertegas Resolusi PBB atas Israel I
a mempertahankan keputusan AS untuk meneruskan resolusi PBB yang mengecam pendudukan Israel di Palestina. (Foto: REUTERS/Joshua Roberts)
 
Jakarta, CB -- Menteri Luar Negeri AS, John Kerry mempertegas keputusan AS untuk meneruskan resolusi yang dikeluarkan PBB meminta Israel mengakhiri pendudukannya atas Palestina.

Mengutip Reuters, pada Rabu (28/12), Kerry memberikan parameter untuk konflik Israel-Palestina, dengan menyampaikan bahwa AS tidak dapat berdiam diri begitu saja sementara ada kesempatan untuk mengarah pada perdamaian.

Dalam pidato khusus yang ia sampaikan hanya beberapa pekan sebelum pemerintahan Presiden AS Barack Obama lengser dan berganti pada presiden AS terpilih Donald Trump, Kerry mempertahankan keputusan AS yang memberikan jalan pada resolusi PBB yang ingin mengakhiri pendudukan Israel di Palestina.

Menurutnya, itu adalah solusi yang paling memungkinkan bagi kedua negara.

"Di luar upaya keras kita selama bertahun-tahun, solusi kedua negara saat ini berada di dalam keadaan berbahaya," ujarnya di Kantor Kementrian Luar Negeri.

"Kita tidak dapat, dalam kesadaran penuh, berdiam diri, dan tidak mengatakan apapun, ketika melihat ada harapan akan adanya perdamaian," ujarnya.

Tanggapan PM Israel

Secara terpisah, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu kemudian mengatakan pidato yang disampaikan John Kerry pada Rabu (28/12) tersebut sangat bias dan menentang Israel.

Dalam sebuah pernyataan resmi berbahasa Inggris yang disampaikan kementerian Perdana Menteri, Netanyahu menyampaikan: "Seperti mempertegas resolusi yang disampaikan PBB, Kerry dalam pidatonya berbalik arah menentang Israel."

Para pejabat tinggi Israel mengatakan Kerry 'sangat terobsesi dengan kesepakatan' dalam pidatonya, yang justru tidak sejalan dengan AS. Netanyahu menuding Kerry telah menyentuh 'akar konflik oposisi Palestina terhadap Yahudi dalam batas manapun.'

Sebelumnya, PBB pada Jumat pekan lalu mengeluarkan resolusi menuntut “Israel dengan segera dan sepenuhnya menghentikan kegiatan pemukiman Yahudi di wilayah pendudukan Palestina, termasuk Yerusalem Timur”. Isi resolusi tersebut menetapkan bahwa pemukiman Yahudi “tidak memiliki dasar hukum yang sah” dan “berbahaya bagi penerapan solusi dua negara.” 

Netanyahu mengklaim bahwa Obama dan Kerry berada di balik langkah Dewan Keamanan PBB tersebut. Dengan memutuskan untuk tidak memveto langkah PBB itu, AS mengambil langkah yang jarang dilakukan dan membuat marah Israel. 

Netanyahu juga menuduh Obama meninggalkan sekutu dekatnya di Timur Tengah itu di akhir masa jabatannya sebagai presiden. Resolusi PBB itu lolos dengan dukungan dari 14 anggota Dewan Keamanan lainnya dengan diiringi tepuk tangan riuh di ruang sidang.


Credit  CNN Indonesia