Jumat, 27 Februari 2015

Beijing meningkatkan skala proyek di Laut Tiongkok Selatan

Proyek Laut Tiongkok Selatan: Seorang awak Angkatan Udara Filipina mengambil gambar ini, yang menunjukkan proyek konstruksi Tiongkok di Beting Mischief pada tahun 2003. Tiongkok terus membuat landasan tanah dalam rantai Kepulauan Spratly untuk meningkatkan kehadirannya di laut. [AFP]
Proyek Laut Tiongkok Selatan: Seorang awak Angkatan Udara Filipina mengambil gambar ini, yang menunjukkan proyek konstruksi Tiongkok di Beting Mischief pada tahun 2003. Tiongkok terus membuat landasan tanah dalam rantai Kepulauan Spratly untuk meningkatkan kehadirannya di laut. [AFP]


Beijing telah bergerak ke tahap baru "menciptakan fakta" di Kepulauan Spratly, Laut Tiongkok Selatan, yang dikenal sebagai Kepulauan Nansha di Tiongkok.
"Citra satelit yang dianalisis oleh IHS Jane’s untuk pertama kalinya mengidentifikasi kegiatan reklamasi lahan dan konstruksi instalasi oleh Tiongkok di Karang Hughes di Kepulauan Spratly," jurnal strategis Inggris melaporkan pada 16 Februari.
"Citra ini, yang disediakan oleh Airbus Defense and Space dan diambil pada bulan Januari, juga menunjukkan kemajuan pembangunan di Karang Johnson Selatan, yang seperti Karang Hughes, berada di Tepian Union, dan Karang Gaven di Tepian Tizard," tulis Sean O'Connor dan James Hardy, para analis diIHS Jane’s.
Sebuah "wadah pemikir Washington telah memperoleh apa yang dikatakan sebagai citra satelit eksklusif, yang menunjukkan bahwa proyek reklamasi tanah Tiongkok di Kepulauan Spratly berada pada skala yang lebih besar dan maju pada tingkat yang jauh lebih cepat dari yang sebelumnya diketahui," Taipei Times di Taiwan melaporkan pada tanggal 21 Februari.
Pusat Studi Strategis Internasional [CSIS] di Washington, DC "telah menerbitkan beberapa foto di situs web-nya ... CSIS mengatakan pembangunan berlangsung pada enam terumbu: Karang Gaven [Karang Nansyun], Karang Johnson Selatan [Karang Chigua], Karang Fiery Cross [Karang Yongshu], Karang Mischief [Karang Meiji], Karang Cuarteron [Karang Huayang] dan Karang Hughes [Karang Dongmen]," menurut surat kabar itu.
Citra satelit menunjukkan konstruksi pada Karang Hughes di Kepulauan Spratly, IHS Jane’s melaporkan.
"Lokasi itu, yang telah berkembang dari landasan seluas 380 meter persegi [4.090 kaki persegi] menjadi sebuah pulau seluas 75.000 meter persegi [807.293 kaki persegi, atau 3,86 mil persegi], adalah contoh lain dari reklamasi tanah Tiongkok di Tepian Union," IHS Jane’s melaporkan.
Proyek Karang Hughes meningkatkan luas tanah 200 kali
"Instalasi asli seluas 380 meter persegi masih tetap dikelilingi oleh tanah reklamasi dengan cara yang konsisten dengan proyek-proyek reklamasi Tiongkok lainnya di Laut Tiongkok Selatan. Sebuah instalasi baru yang lebih besar sedang dibangun berbatasan langsung dengan landasan baru, sementara sejak Agustus 2014 dinding laut di bagian barat telah rampung, juga sebuah dermaga di sisi timur pulau baru tersebut," tulis analis IHS Jane's.
Pembangunan berkelanjutan menyebabkan luas lahan menjadi sekitar 200 kali dari ukurannya 10 tahun yang lalu, jika dibandingkan dengan citra DigitalGlobe dari tanggal 1 Februari 2004, menurut Want China Timesyang berbasis di Taiwan, pada 24 Februari.
"Kemajuan yang signifikan juga telah dicapai di Karang Johnson Selatan, yaitu sekitar 30 kilometer [18,6 mil] sebelah barat daya dari Karang Hughes dan juga bagian dari Tepian Union, dan pada Karang Gaven di Tepian Tizard, di barat laut dari Tepian Union," tulis analis IHS Jane’s.
Tiongkok mengklaim kedaulatan total atas Laut Tiongkok Selatan, salah satu jalur laut maritim yang paling penting dan sangat digunakan di dunia, menurut 10 garis putus-putus negara itu. Klaim ini dibantah oleh negara-negara tetangga Vietnam, Filipina, Malaysia dan Brunei, yang semuanya mempertahankan klaim untuk setidaknya beberapa karang.
Laut Tiongkok Selatan diperkirakan mengangkut $5 trilyun dalam perdagangan internasional setiap tahun, termasuk hampir semua minyak yang diimpor oleh Korea Selatan dan Jepang serta impor pangan dan energi yang sangat besar untuk Tiongkok.
CSIS melaporkan bahwa foto-foto ini membenarkan laporan bahwa Beijing sedang membangun sebuah landasan udara di Karang Fiery Cross. Luas lahannya tampaknya telah meningkat 11 kali lipat dalam beberapa bulan terakhir, menurut Taipei Times.
Karang bisa berfungsi sebagai pusat komando dan pengendalian
"Para ahli mengandaikan bahwa karang akhirnya bisa menjadi sebuah pangkalan militer dua kali ukuran Diego Garcia di Samudera Hindia, yang memungkinkan fungsi sebagai pusat komando dan pengendalian untuk Angkatan Laut Tiongkok," situs web CSIS melaporkan.
"Bangunan-bangunan di Karang Hughes dan Karang Gaven memiliki rancangan yang hampir sama: adanya bangunan segi empat utama dengan apa yang tampaknya menjadi sebuah menara anti-pesawat atau radome di setiap sudut. Hal ini menunjukkan bahwa Tiongkok memiliki standar desain fasilitas utama dan sedang membangunnya di seluruh pulau-pulau baru," kataIHS Jane’s.
CSIS menyimpulkan "bahwa Tiongkok dengan mudah hanya mengeruk pasir dari dasar laut dan membuangnya ke karang yang dangkal," menurut Taipei Times.
"Setelah jumlah yang diinginkan dari tanah reklamasi dibuat, pekerja mengelilingi pulau dengan pembatas beton untuk melindungi terhadap erosi dan gelombang badai dan memulai pembangunan fasilitas baru," kata situs CSIS.
Seorang peneliti independen mengenai keamanan di Asia Tenggara, Zachary Abuza, mengatakan kepada CSIS bahwa pulau-pulau buatan yang sangat diperluas ini akan meningkatkan proyeksi kekuatan Beijing di laut dengan berfungsi sebagai basis operasi maju untuk angkatan laut, penjaga pantai dan angkatan udara negeri itu.
"Pulau-pulau ini juga akan berfungsi sebagai sarana untuk mendukung industri penangkapan ikan dan eksplorasi minyak lepas pantai Tiongkok, dan memperluas jangkauan serta waktu bagi negeri ini untuk bekerja di Laut Tiongkok Selatan," katanya.
Proyek merupakan bagian dari upaya Tiongkok untuk membangun kedaulatan
Gordon G. Chang, seorang ahli keamanan Asia Timur, mengatakan kepada Asia Pacific Defense Forum [APDF] bahwa program konstruksi baru besar-besaran ini sudah jelas merupakan bagian dari strategi terpadu penuh tekad dari Tiongkok untuk perlahan-lahan tapi pasti membangun kedaulatan atas seluruh wilayah yang diklaimnya dalam 10 garis putus-putus.
"Pembangunan pulau oleh Tiongkok dari nol di Spratly memberi arti baru pada ungkapan 'menciptakan fakta di lapangan," kata Chang. "Dalam hal ini, pada kenyataannya, memang menciptakan tanah."
"Tiongkok akan melakukan apa saja untuk mengontrol perairan Laut Tiongkok Selatan, bahkan mengubah geografi," katanya. "Ambisi Beijing ini luar biasa, namun tidak begitu bijaksana."
Pada tahun 2014, Presiden Tiongkok Xi Jinping berusaha untuk meyakinkan para pemimpin dari 10 negara di Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara [ASEAN].
Filipina dan Vietnam, keduanya anggota ASEAN, tetap khawatir atas dorongan Beijing untuk membuat fakta-fakta geografis baru untuk memastikan kedaulatannya atas sebagian besar Laut Tiongkok Selatan.
Charles W. Freeman, rekan ketua Komisi Kebijakan AS-Tiongkok, mengatakan kepada APDF bahwa laju pembangunan yang dramatis oleh Tiongkok di wilayah itu sebagian telah didorong oleh kemajuan pelaksanaan Hukum Laut PBB[UNCLOS] yang baru.
"Berlakunya undang-undang baru tentang perjanjian laut telah mendorong negara-negara pantai - secara terlambat termasuk Tiongkok - untuk buru-buru mengajukan klaim dengan merebut, mengisi, dan memperkuat apa pun yang terlihat pada saat air pasang di laut kosong di antara mereka," katanya kepada APDF.



Credit APDForum