Kamis, 27 November 2014

Industri baja nasional khawatir terdampak ekses Tiongkok


Industri baja nasional khawatir terdampak ekses Tiongkok
Pekerja mengontrol produk baja batangan (billet steel) di unit Slab Steel Plant PT Krakatau Steel Tbk, Cilegon, Banten. (FOTO ANTARA/Asep Fathulrahman)
 
 
Cilegon (CB) - Industri baja nasional tengah dilanda kekhawatiran terdampak kelebihan produksi dari industri baja di Tiongkok.

Hal itu disampaikan Direktur Utama PT Krakatau Steel Irvan Kamal Hakim saat menyambut kunjungan kerja Menteri Perindustrian Saleh Husin di kawasan pabrik Krakatau Steel di Cilegon, Banten, Rabu.

"Saat ini Tiongkok punya kelebihan produksi baja sekira 24 juta ton untuk setiap penurunan 1 persen PDB mereka. Yang menjadi pertanyaan nantinya akan ke mana ekses produksi baja mereka."

"Yang muncul jadi potensi adalah negara-negara Asia Tenggara dan Indonesia termasuk yang belum besar proteksinya," katanya.

Oleh karena itu, hal itu disampaikan kepada Menperin sebagai salah satu tantangan yang harus diatasi industri baja nasional.

Sementara itu, Irvan melanjutkan bahwa sebetulnya pemerintah Tiongkok sendiri telah menindak lanjuti keadaan tersebut, kelebihan produksi industri baja.

"Pemerintah Tiongkok berusaha mendorong penyerapan domestik, salah satunya lewat pengendalian suku bunga dengan harapan konsumsinya tumbuh di sana.

"Bagi Indonesia, tantangannya muncul karena di sini konsumsinya jelas bertumbuh, namun lagi-lagi menjadi pertanyaan pertumbuhan konsumsi ini siapa yang bakal mengisi. Kami tentu inginnya produk lokal jadi raja di negeri sendiri," tuturnya.

Selain itu, Irvan secara khusus menyebut industri otomotif sebagai salah satu peluang yang harus ditindaklanjuti secara serius.

"Sebab ada kecenderungan para prinsipal yang kebanyakan dari Jepang itu mengutamakan impor dari sana langsung ketimbang menggunakan dari sini. Itu tantangannya," katanya.

Credit ANTARA News